DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 47.821.306.605 (23 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Antara Pistol dan Vodka

Suryopratomo - 13 Juni 2018 08:00 wib
Seorang warga Rusia melintas di depan sebuah banner untuk menyambut Piala Dunia 2018 (Foto:  AFP PHOTO / Fabrice COFFRINI)
Seorang warga Rusia melintas di depan sebuah banner untuk menyambut Piala Dunia 2018 (Foto: AFP PHOTO / Fabrice COFFRINI)

APA KESAN yang muncul pertama ketika menyebut nama Rusia? Orang Rusia itu sering digambarkan sebagai lelaki yang memegang pistol di tangan kanan dan botol vodka di tangan kiri. Ketua Panitia Penyelenggara Piala Dunia Rusia, Alexey Sorokin hanya tertawa mendengar stereotip seperti itu.

"Itulah memang stereotip yang sering muncul. Oleh karena itu, Piala Dunia 2018 sangat berarti bagi Rusia, karena inilah kesempatan bagi kami untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kami sekarang adalah negara demokrasi baru dan banyak kemajuan yang sudah kami capai,” kata Sorokin seperti dikutip The Guardian.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Djauhari Oratmangun mengatakan, banyak orang sering keliru ketika melihat Rusia. Seakan Rusia itu seperti Uni Soviet dulu yang merupakan negara komunis. Padahal Partai Komunis di Rusia hanya menguasai 42 kursi dari 450 kursi Duma atau parlemen. Mayoritas kursi Duma sekarang ini dikuasai oleh Partai Rusia Bersatu yang dipimpin Perdana Menteri Dmitry Medvedev.
 

Baca: Berharap Tim Samba Memuaskan Dahaga Saya


Menurut Djauhari, simbol-simbol komunisme yang banyak terlihat di Rusia tidak bisa lagi dijadikan indikator bahwa Rusia adalah negara komunis. Simbol-simbol itu dibiarkan ada karena itu adalah bagian dari sejarah mereka dan bangsa Rusia tidak pernah mau melupakan bahwa komunisme pernah ada dan berkuasa di negeri itu.

"Bangsa Rusia adalah bangsa besar yang sudah menjadi bangsa yang matang. Mereka tidak lagi terikat pada cara pandang yang sempit dan primordial, sehingga harus marah pada masa lalu. Mereka melihat simbol-simbol komunisme sekarang ini sebagai ornamen atau karya seni," kata Dubes yang kini mendapat tugas di Beijing, Tiongkok.

Djauhari percaya kehadiran jutaan pencinta sepak bola ke Rusia akan memberi gambaran lebih utuh tentang negeri itu. Rusia bukan hanya negeri yang besar, tetapi juga sejarahnya yang panjang serta budayanya yang beragam.

Hanya satu negara di dunia yang memiliki sembilan perbedaan waktu yaitu Rusia. Ibarat ketika Matahari terbit di wilayah Rusia dekat Alaska, orang di Moskwa baru beranjak tidur. Sementara kota-kotanya juga memiliki keunikan sendiri-sendiri.

Staf Atase Perdagangan Rusia di Jakarta, Maria Mitsura mengatakan, 11 kota penyelenggara Piala Dunia 2018 mempunyai sejarah yang menarik untuk dipelajari. St Petersburg misalnya, merupakan kota Eropa yang ada di Rusia.

"Kalau orang Indonesia, sebaiknya bisa berkunjung ke Kota Kazan. Jaraknya sekitar 1.000km dari Moskwa. Itu adalah kota dengan penduduk muslim terbesar di Rusia," kata Maria.


(Pemandangan Kazan, salah satu kota dengan mayoritas muslim yang jadi tuan rumah Piala Dunia 2018 Rusia. Foto: Shutterstock)

Waktu pembuktian
Bagi Rusia, penyelenggaraan Piala Dunia 2018 merupakan waktu yang tepat untuk membuktikan bahwa mereka pantas untuk menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar di dunia. Penunjukan Rusia pada 2010 penuh dengan dugaan permainan uang dan permainan intelijen Rusia, FSB, apalagi yang mereka kalahkan untuk menjadi tuan rumah ketika itu adalah Inggris.

Dengan sejarah sepak bola yang lebih panjang dan investasi sampai 21 juta poundsterling atau sekitar Rp400 miliar, Inggris merasa yakin akan bisa memenangi tuan rumah Piala Dunia 2018. Apalagi yang ditunjuk PM David Cameron sebagai Ketua Tim Kampanye adalah Pangeran William dan pesohor sepak bola Inggris, David Beckham.
 

Baca juga: Antibola Sambut Piala Dunia?


Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin mencanangkan, Rusia harus memenangi persaingan. Tidak tanggung-tanggung Putin sendiri yang memimpin kampanye untuk pemenangan Rusia. Semua orang yang dianggap bisa membantu Rusia untuk terpilih juga diminta untuk turun tangan. Salah satunya yang dikenal sebagai teman dekat Putin adalah pemilik Chelsea, Roman Abramovich.

Ada sebuah surat yang menyebutkan, Putin memerintahkan untuk melakukan apa saja untuk membujuk para pemilik suara agar mau memberikan suaranya untuk Rusia. Putin sendiri tidak ragu untuk bertemu anggota eksekutif FIFA yang menjadi penentu penunjukkan tuan rumah Piala Dunia.

Begitu kuatnya isu permainan uang yang berkembang, sampai-sampai Presiden UEFA Michel Platini disebut menerima suap sebuah lukisan Picasso. Platini menolak keras tuduhan itu dan menyebutkan isu itu sebagai sebuah fiksi.

Putin yang hadir di Zurich ketika Presiden FIFA Joseph Blatter mengumumkan pemenang tuan rumah Piala Dunia 2018 menyebutkan, "Ini merupakan sebuah kehormatan bagi Rusia dalam persaingan yang sangat ketat dan fair."

Prestasi
Ujian selanjutnya kini terletak di lapangan hijau. Sejauh mana tim nasional Rusia mampu mengembalikan kejayaan sepak bola negeri itu. Setelah pecahnya Uni Soviet, prestasi sepak bola Rusia tidak pernah bersinar lagi.
 

Baca juga: Piala Dunia 2018 Mungkin Milik Eropa Lagi


Apabila zaman Uni Soviet, negeri itu pernah menjadi terbaik dunia pada tahun 1960 termasuk dengan menjuarai Piala Eropa, ranking tertinggi Rusia hanya  peringkat 3 dunia pada tahun 1996. Bahkan sekarang ini Rusia menduduki peringkat 70 dunia, sehingga sama sekali tidak dijagokan untuk mengangkat trofi Jules Rimet.

Padahal Putin sudah mendatangkan pelatih terbaik dunia mulai dari Guus Hiddink, Dick Advocaat, sampai Fabio Capello. Kiprah Abramovich di Liga Inggris pun menjadi bagian strategi Putin untuk mengasah kemampuan para pemain Rusia. Ternyata hanya dua dari 22 pemain yang dipilih Pelatih Stanislav Cherchesov yang berlaga di Liga Eropa yaitu Kiper Vladimir Gabulov (Club Brugge, Belgia) dan gelandang Denis Cheryshev (Villarreal, Spanyol).


(Skuat Timnas Rusia di Piala Dunia 2018. Foto: Google Images)

Satu lagi yang mencoreng Rusia adalah terkuaknya penggunaan doping yang dilakukan atlet-atlet Rusia untuk mencapai prestasi tinggi. Penggunaan doping itu bukan atas kehendak atlet sendiri, tetapi dipaksa oleh pejabat olahraga Rusia. Tidak usah heran apabila atlet-atlet Rusia sampai kemudian dilarang untuk ikut serta dalam Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, Korea Selatan.

Piala Dunia merupakan kesempatan bagi Rusia untuk membersihkan semua citra buruk tentang mereka. Sanggupkah Igor Akinfeev dan kawan-kawan menjalankan "Mission Impossible-nya"? Kita lihat saja!

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: ?Salam dari Rusia, Jalan-jalan di Gorky Park



(ACF)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PIALA DUNIA 2018
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS (PD)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 23-10-2018