Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.408.300.797 (20 JUNI 2018)

Anak Polonia di Belantara Sepak Bola Nasional

Fitra Iskandar - 14 Maret 2018 17:26 wib
Satia Bagdja Itjana. (Foto: Fitra Iskandar/Medcom.id)
Satia Bagdja Itjana. (Foto: Fitra Iskandar/Medcom.id)

DEPOK:  Dulu, lapangan Cornel Simanjuntak di Polonia, Jakarta Timur terhampar di depan rumah istri Bung Karno, Yurike Sanger. Satia Bagdja Ijatna kecil sering bermain bola di sana. Kini lapangan itu tinggal kenangan. Tetapi sepakbola tetap melekat dalam kehidupan Bagdja sampai sekarang.
 
Kisah Bagdja Kecil
 
Seperti  Jakarta tempo dulu kebanyakan, lingkungan Polonia begitu asri. Kata Bagdja, daerah ini adalah ‘Menteng’ nya Jakarta Timur. Tetangga-tetangganya juga banyak yang berstatus penggede Republik. Seperti Leo Lopulisa, yang kemudian jadi Pangkostrad 1975-1978, dan Mudjono SH, menteri kehakiman di era 70-an juga.
 
Di Polonia, rumah orangtua Bagdja sejajar dengan rumah Yurike.  Dulu, ia dan keluarga menempati rumah di Jalan Cipinang Cempedak I No 11 Polonia, sedangkan Yurike menempati rumah nomor 29.
 
“Kalau ada tentara jaga di depan rumah-rumah kami, berarti Presiden (Soekarno) mau lewat tuh,” kata Bagdja mengenang rumah masa kecilnya.  
  
Saat kecil, Bagdja yang kini 58 tahun,  bermain bola bersama teman-temannya seperti  Budhi Tanoto, Wahyu Tanoto dan Hasan Tuharea. Dua nama terakhir pernah menjadi bagian Timnas era 80-an. Budhi masuk dalam tim PSSI di Piala Dunia junior 1979 di Jepang.
 
Ia juga bergabung dengan Merdeka Boys Football Association (MBFA) yang berlatih di lapangan Monas. Klub itu juga pernah dihuni Bob Hippy (Timnas 60-an), Berty Tutuarima (Timnas 80-an). Rano Karno yang artis, Japto Soerjosoemarno pendiri Pemuda Pancasila, dan Nirwan Bakrie, pengusaha ternama itu juga pernah tergabung di klub ini.
 
MBFA mulanya bernama Maluku Boys Fotball Association, karena pendirinya orang-orang Maluku. Bagdja bermain tiga kali sepekan. Ia latihan Senin, Rabu dan Jumat. Untuk hari Minggu, kegiatan sepakbola di Jakarta selalu diisi dengan kompetisi usia dini dari U10-12, U13-14, sampai U17-18  (Remtar, atau Remaja Taruna).
 
Di era itu, anak sekolah sepakbola (SSB) disebut ‘anak gawang’. Klub junior yang kuat ketika itu, menurut Bagdja selain MBFA, ada Indonesia Muda, UMS, dan Putra Dewata.  Sedikit romantisme,  Bagdja menyebut klub sepak bola begitu hidup, karena pengurusnya mengelola  dengan hati.
 
“Sekarang kita susah. Orangtua mau ikut campur. Kalau anaknya enggak dipasang, mereka protes. Kasihan sama pelatih SSB sekarang. Kalau dulu enggak ada  orangtua yang ikut campur,” ujar Bagdja.
 
Cedera Lutut
 
Bagdja mengalami cedera lutut ketika bertanding. Saat itu Ia masih duduk di SLTA.  Bagdja pun gagal ikut seleksi untuk klub Jayakarta di kompetisi Galatama. Akhirnya Ia bermain untuk klub amatir, Persija Jakarta Putra, yang dilatih Jopie Leppel.
 
Saat itu meski cedera, pemain dapat terus ikut pertandingan. Pengetahuan soal cedera belum semaju saat ini. Memaksa diri, Bagdja kesulitan.  Sempat ikut diklat DKI untuk PON, dan ke Surabaya untuk seleksi, ia kemudian menyerah karena cedera.
 
Ia kemudian memutuskan bekerja di perusahaan air minum di Purwakarta, namun tetap menjadi pemain sepakbola di Persipo. Bekerja dengan bekal ijazah SMA membuat Bagdja berpikir. 
 
“Saya kerja begini,  (karier) di bawah saja nanti.  Saya punya inisiatif, karena senang olahraga, saya kuliah di IKIP tahun 1982 masuk ke  Fakultas Olahraga,” cerita Bagdja.

Karena tidak mau jauh-jauh dari sepakbola, Bagdja meniti karier sebagai pelatih sejak masih mahasiswa.  Kebetulan Ia pengurus di Unit Kegiatan Mahasiswa sepakbola di kampusnya.  Dosen melihat talenta Bagdja akhirnya membuatnya semakin dikenal. Ia dipilih menjadi asisten pelatih Persija mendampingi Hindarto.

Saat itu (1989) Persija diperkuat pemain seperti  Rahmad Darmawan, dan Adityo Darmadi.  Rahmad Darmawan ternyata adik kelas Bagdja di IKIP.  Di kampus ini, Bagdja melanjutkan pendidikan S2. Ia ingin menjadi pengajar di alamamaternya. Meski ujungnya,  Bagdja mengakui waktunya lebih banyak tersita di lapangan sepakbola.

Memang Enggak Rezeki jadi Pelatih Kepala

“Capek, iya capek,” kata Bagdja menyela saya yang sedang mengoceh soal kariernya di dunia kepelatihan.  Sebenarnya saya mau menanyakannya bahwa dengan pengalaman panjangnya di persepakbolaan Indonesia, apakah Ia melihat ada  perbedaan karakter pada pemain Tanah Air dari generasi ke generasi.  

Tetapi Ia mengira saya sedang mengungkit kenapa kariernya selalu berujung di posisi asisten pelatih.  Mimik Bagdja serius.  Ia sepertinya hanya sedikit gemas dengan kenyataan sulitnya mendapatkan posisi pelatih kepala.

Soal kapabilitas dan lisensi, sejak tahun 2000, Ia sudah mengantongi lisensi A AFC.  Saat itu  pelatih berlisensi A AFC, pun segelintir. Faktanya,  di  Persikota, Ia jadi asisten Sutan Harhara, di  Arema mendampingi Danur Windo,  di Persija, Persebaya, Ia mendampingi Rahmad Darmawan. Ia juga pernah mendampingi Sofyan Hadi di Persija dan Nandar  Iskandar di Timnas untuk Piala Asia pada 2000.

“ Saya dapat lisensi A AFC sudah dari tahun  2000. Orang tahunya saya pelatih fisik saja.  Dulu orang teriak-teriak pelatih klub harus punya lisensi A AFC,  Saya sudah punya.  Waktu itu masih sedikit yang punya sementara klub banyak. Tetapi saya enggak dapat-dapat juga jadi pelatih. Sekarang sudah banyak yang punya lisensi A AFC, saya makin enggak dapat lagi,” kata Bagdja sambil bergurau.

 Cedera Membawa Hikmah

Karena cedera, impian Bagdja jadi pesepakbola profesional kandas. Ia tidak bisa lagi mengejar mimpinya dengan menyeret lutut yang tak lagi sehat.  Tetapi cedera membawa hikmah.  Dengan banting stir ke dunia kepelatihan sejak muda,  kesempatan yang jarang didapat orang lain justru menghampiri.

Beberapa kali ia dikirim untuk menimba ilmu sepakbola.  Seperti pada  1997, PSSI mengirimnya ke Belanda. Ia berangkat ke Negeri Kincir Angin bersama Safrudin Fabanyo, Edward Tjong, Iwan Setiawan dan Jimmy Putiray.  

Tahun 2009, pria alumni  SMA 22 ini juga dapat kesempatan belajar di Jerman selama satu bulan.  Kali ini, hanya Bagdja yang dikirim PSSI.  “Nah saya emang rezeki nih kalau untuk penataran,” ujar Bagdja dengan gaya Betawi-nya.


Satia Bagdja bersama Jupp Heynckes saat mengikuti penataran di Jerman. (Foto:Dok Pribadi)

Sudah dari 97 Cing, Gue Tahu Diamond Shape!!!

Hal yang selalu kita dengar dari orang yang punya pengalaman berinteraksi dengan negara maju, adalah soal disiplin. Itu juga yang disebut-sebut Bagdja mengenai kesannya belajar di Belanda dan Jerman.

“Saya pernah izin ke toilet dikasih waktu tiga menit. Balik cuma terlambat hitungan detik, tetapi langsung dikunci jadi enggak bisa masuk kelas. Seketat itu,” kisahnya.

Di Indonesia masalah enggak yang begitu? Tanya saya. “Masalah,” jawab Bagdja langsung menyambar. “ Di kita masalahnya pemain datang ke TC telat. Kita menunggu lama. Saya lama di PSSI tahu lah. Kan begitu,” katanya.


Foto: Dok Pribadi

 Belajar di Belanda, ada ilmu yang Bagdja bisa terapkan  di Tanah Air.  Soal formasi berlian (diamond) misalnya, ia sudah pelajari di Belanda saat ia dikirim ke sana pada 1997.  “ Orang sekarang suka bicara soal formasi berlian. Gue sudah dapat dari 97 Cing,”  seloroh Bagdja.

“Cuma masalahnya yang ngomong gue nih, bukan bekas pemain timnas. Orang mana dengar gue,” Bagdja sedikit curhat.  Apalagi kalau bule yang ngomong, orang bilang ‘wah ini bagus’. Nanti ada bule lagi datang terus ngomong (sesuatu), orang bilang lagi ‘wah ini bagus’.  Padahal sudah lama nih, dari 97 juga gue sudah dapat. Tetapi enggak didengar. Kan rugi,” kata Bagdja lagi.



Foto: Dok Pribadi.
 
Jangan Sembarangan Bilang Practice Make Perfect

Belajar di Belanda dan Jerman juga mengajarkannya tentang perlunya perhatian kepada perkara detil.  “Mereka semua rata-rata lebih detil. Dalam persoalan koreksi misalnya. Kalau kita menendang, bola naik, pelatih kasih solusi supaya bola enggak naik.”

“Orang suka bicara practice make perfect.  Ada dua konotasinya, kalau latihan membuat sempurna. Kira-kira kalau kita melatih anak itu latihannya salah terus, apanya yang sempurna?,” tanya Bagdja.

“Kesalahannya,” jawab saya.

“Iya kesalahannya. Jadi jangan sembarangan. Makanya ada satu teori ‘practice with appropriate feed back’.  Kalau di Jerman kalau ada yang salah, itu yang dibetulkan sejak dini,” katanya.
 
Kesan Bagdja Mendampingi Rahmad Darmawan

Ilmu  sepakbola menurut Bagdja sebenarnya sama saja, terutama soal teknik.   Yang membedakan dari satu pelatih ke pelatih lain adalah kemampuannya menangani tim. Rahmad Darmawan  salah satu pelatih yang punya kemampuan bagus dalam menangani tim, katanya.  Bagdja cukup dekat dengan Rahmad Darmawan. Nama Bagdja nyaris selalu ada sebagai asisten RD ketika menukangi sejumlah klub. Terakhir di T-Team Malaysia.

“Dia dekat sama pemain. Kalau ada permasalahan pemain dan manajemen, Rahmad Darmawan berdiri di tengah mencari jalan tengah. Enggak membela salah satu. Makanya banyak pemain yang mau dilatih Rahmad,” katanya.

Pelatih lain, ia tidak mau menyebut nama, saking karismatik, membuat pemain sungkan. Bila berpapasan, pemain merasa enggak enak. “Mereka malah ngumpet kalau papasan. Memang ada yang pintar, tetapi pendekatan kurang,” bebernya.

Kemampuan Rahmad Darmawan dalam masalah pendekatan itu jadi pelajaran berharga bagi Bagdja.  Meski Bagdja lebih senior dari Rahmad Darmawan,  Ia memang tidak sungkan menimba ilmu dari  juniornya di kampus itu. “Ilmu itu berkembang. Rugi kalau kita gengsi,”  Bagdja menjelaskan prinsipnya.



Satia Bagdja bersama Rahmad Darmawan menukangi T-Team Malaysia. (Foto: Dok Pribadi)
 
Tantangan Menangani Timnas Putri

Bagdja baru ditunjuk sebagai pelatih kepala. Ia menerima tantangan menukangi Timnas Putri yang dipersiapkan untuk Asian Games.  Tugas berat. Tetapi tantangan itu rupanya memacu gairahnya sehingga menyisihkan kesempatan menjadi pelatih kepala di klub Liga 1. Bagdja enggan memaparkan nama klubnya.


Foto: Fitra Iskandar/Medcom.id

Persiapannya sendiri memang cukup mepet.  Saat ini  Ia masih menyeleksi sekitar 40 pemain, untuk nantinya disaring menjadi 20 pemain. Padahal Piala AFF putri tinggal satu bulan setengah lagi. Sedangkan Asian Games sekitar empat bulan lagi. Tim lain seperti Filipina sedang menjalani pemusatan latihan selama tiga bulan di Amerika Serikat.


Foto: Fitra Iskandar/Medcom.id

Sebelum ini,  Bagdja pernah menukangi Timnas Putri, yaitu saat SEA Games 1997. Ketika itu ia menjadi asisten pelatih mendampingi Muhardi. Indonesia di peringkat empat ketika itu.

Sejak 1997, problem utama selain faktor teknis, menurut Bagdja adalah kecenderungan pemain wanita yang mudah terbawa perasaan. “ Harus hati-hati. Kalau pemain laki, kita marahin dia diam saja. Tetapi kalau perempuan, bisa nangis. Baper,” kata Bagdja.


Foto: Fitra Iskandar/Medcom.id

Toh, Ia lumayan gembira melihat kemampuan para pemain putri. Mereka mengerti bagaimana bermain menyebar (spread out), ball possession, dan punya modal teknis yang baik dalam bermain sepakbola.  Menurutnya hal itu berbeda dengan kondisi tim yang Ia sempat tangani pada 1997.


Foto: Fitra Iskandar/Medcom.id

“Ayo main, kita adu saja, lawan Medcom  boleh,” Bagdja menantang. “ Tetapi hati-hati nanti bisa dikolongin sama mereka,” seloroh Bagdja seraya tertawa. “Hati-hati nih,  tendangan penjuru mereka sampai nih (ke kotak penalti). Jangan-jangan ente malah enggak kuat nendang corner kick,” kata Bagdja meledek lagi.



Foto: Fitra Iskandar/Medcom.id
 
Saat Medcom.id menengok latihan dan seleksi  timnas putri Jumat pekan lalu,  Bagdja memberikan menu latihan bertahan dan simulasi permainan satu lawan satu. “ Kalau enggak  latihan, mereka main tubruk-tubruk saja nanti, bisa kejengkang, orang. Ini kompetisi cuma 20 yang diambil, pemain bisa main hantam-hantam ,” papar Bagdja sambil bergurau.


Foto:Fitra Iskandar/Medcom.id

Memang Sepakbola Cuma Olahraga Laki-Laki ???!!!

Indonesia tertinggal dalam pembinaan sepakbola putri, bahkan dibanding negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Di Indonesia iklim sepakbola putri memang kurang mendukung. Tidak ada kompetisi reguler. Selain itu,  pandangan sepakbola adalah permainan pria,  membuat sepakbola seolah kurang wajar digeluti kaum hawa. Padahal ada olahraga yang lebih maskulin, namun pandangan orang biasa saja. Karate, taekwondo, basket, misalnya banyak digeluti kaum hawa,  padahal tak kalah keras dengan sepak bola.


Foto: Fitra Iskandar/Medcom.id

Bagdja berharap masyarakat, terutama orang tua di Indonesia mengubah pandangan yang menganggap sepakbola bukan olahraga perempuan, sehingga pembinaan sepakbola putri semakin berkembang di Indonesia.


Foto: Fitra Iskandar/Medcom.Id

 Di tengah berbagai tantangan, sepertinya Bagdja menemukan keasyikan menangani timnas putri. Salah satu sebabnya, adalah ia dapat memberikan ilmu dan membentuk pemain, seperti mengisi air ke dalam gelas kosong. Masih mudah diarahkan. “Belum terkontaminasi. Tinggal pelan-pelan kita latih mereka,” ujar Bagdja.


Foto: Fitra Iskandar/Medcom.id

Mungkin Bagdja sudah gatal menurunkan semua ilmu kepelatihannya yang selama ini banyak mengendap di kepala dan kurang tersalur optimal.  Toh, sepakbola putri juga menarik untuk digarap karena selama ini belum terjamah pembinaan yang memadai.  Semoga di tangan Bagdja lahir banyak pesepakbola putri yang permainannya menawan.  Well,  selamat bertugas coach! 
(FIT)

ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA SUDUT
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 25-06-2018