Pamer Pembelaan di Balik Keterpurukan Indonesia dalam SEA Games 2017

A. Firdaus - 06 September 2017 09:57 wib
Ketua Satlak Prima Ahmad Sutjipto sedang menjelaskan problema yang dihadapi kontingen Indonesia di Malaysia lalu. (Foto: MTVN/ A. Firdaus)
Ketua Satlak Prima Ahmad Sutjipto sedang menjelaskan problema yang dihadapi kontingen Indonesia di Malaysia lalu. (Foto: MTVN/ A. Firdaus)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kegagalan Indonesia di SEA Games 2017 Malaysia terus dicari kambing-hitamnya. Mulai dari menyalahkan 'keserakahan' tuan rumah hingga dana yang sulit turun.

Indonesia seperti kita ketahui, mengalami hasil paling buruk dalam sejarah mengikuti pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara. Kita hanya mampu meraih 38 medali emas, 63 perak, dan 90 perunggu.

Pencarian kambing-hitam coba dilakukan oleh ketua Satlak Prima Ahmad Sutjipto ketika menghadiri pertemuan di Kantor PWI Pusat, kemarin. Ia mengatakan kalau campur tangan tuan rumah dalam memperoleh hasil terbaik begitu kuat. Ia bahkan memanfaatkan keluhan dari Thailand dan Vietnam sebagai alat dukungan kalau Indonesia tidak sendiri menjadi negara yang dicurangi di SEA Games kali ini.

Padahal kalau ditilik, semua kecurangan yang dilakukan tuan rumah penyelenggara SEA Games, itu sudah biasa terjadi dari edisi ke edisi. Seperti layaknya penyelenggaraan PON.

Sutjipto juga berdalih untuk ke depannya, kalau ia berusaha menembus kebuntuan ini. Tentunya dengan pembebasan akses dalam penggunaan anggaran demi tidak ada lagi dana yang tersendat ke atlet untuk ke depannya.

Baca: Temui Menpan-RB, Menpora Realisasi Bonus PNS Peraih Emas SEA Games


"Jadi itu salah satu upaya dari cara kami menembus kebuntuan ini. Berikanlah kepada kami kewenangan untuk punya akses ke anggaran. Mulai dari perencanaan, eksekusi, dan evaluasi," ujar Sutjipto.

"Sekarang saya punya kewenangan merencanakan program. Program itu coba dipelajari oleh biro keuangan untuk dilanjutkan RKKL. Setelah itu lepas dan saya tidak tahu lagi bagaimana perkembangannya," jelasnya.

Kemenpora Mencari Solusi

Sementara itu Plt Deputi Bidang Peningkatan Prestasi IV Kemenpora, Yuni Poerwanti yang ikut hadir dalam acara yang digelar PWI ini juga punya pembelaan. Terutama mengenai pendanaan atlet yang tersendat.

"Pihak kami sudah mempelajari semua kendala kegagalan kontingen Indonesia, seperti halnya pengaruh terlambatnya honor atlet, peralatan yang belum sampai di tangan atlet, hingga pengiriman atlet ke luar negeri selama Pelatnas SEA Games ke-29 berlangsung," terang Yuni.

Dia beralasan semua itu terjadi karena terbenturnya dana dari RAPBN yang tidak bisa secepat kilat turun ke atlet. Sebab harus melalui jalur hukum.

Baca: Gol Falcao Buyarkan Kemenangan Brasil


Meski begitu, pihak Kemenpora meyakini kalau semua kendala yang menyangkut kebutuhan dana untuk honor, peralatan, dan pengiriman atlet latihan ke luar negeri sudah dicari solusinya.

Namun di balik itu semua, mungkin terlalu klasik untuk menyebut kegagalan ini menjadi bahan evaluasi untuk event ke depannya. Apalagi Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018 Jakarta Palembang.

Dengan target finis 10 besar Asia dan dalam waktu kurang dari 11 bulan, tentu bukan waktunya berlaru-larut mencari kambing-hitam dari kegagalan di SEA Games lalu. Sebab yang dibutuhkan para atlet adalah kepastian dan jaminan agar mereka bisa mewujudkan prestasi dari target yang diembannya.

Video: Timnas U-19 Bungkam Myanmar 2-1
 


(ASM)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG SEA GAMES 2017
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA SUDUT
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 26-09-2017