Beras Oh Beras

- 17 Januari 2018 10:40 wib
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Ahmad)
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Ahmad)

BERAS bagi Indonesia bukan hanya masalah ekonomi, melainkan juga politik. Kalau sudah berurusan dengan komoditas yang satu ini, apa pun bisa dikemas menjadi isu. Ketika membiarkan harga beras tidak terkendali, pemerintah dianggap tidak peduli kepada rakyat. Sebaliknya, ketika mengambil langkah untuk mengendalikannya, pemerintah dianggap tidak pro kepada petani.

Kita bisa lihat semua itu sekarang ini. Sejak Desember lalu kita mengetahui inflasi meningkat tajam dan itu terutama disumbangkan sektor makanan. Inflasi 0,71 persen pada Desember, sebesar 0,46 persen berasal dari makanan, khususnya beras. Banjir di beberapa sentra produksi memengaruhi pasokan ke pasar sehingga membuat harga melambung tinggi.

Tidak usah heran apabila awal Januari kita melihat harga beras mulai meningkat tajam. Kenaikannya bahkan boleh dikatakan sangat signifikan karena di atas 10 persen. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), harga rata-rata beras kualitas medium I di Jakarta, misalnya, telah mencapai Rp13.600 per kilogram atau melewati batas harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp9.450 per kilogram.

Operasi pasar yang dilakukan ternyata tidak mampu meredam kenaikan harga. Hanya di daerah sentra produksi yang pasokannya mampu tersedia, sementara di banyak daerah lain pasokannya jauh di bawah kebutuhan. Itulah yang membuat rapat di Kantor Wakil Presiden memutuskan untuk melakukan impor beras jenis premium sebanyak 500 ribu ton.

Hal yang harus menjadi perhatian kita bukanlah persoalan impor beras. Langkah itu hanyalah jawaban sementara atas persoalan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Pemerintah tidak punya pilihan lain kecuali meredam gejolak harga dengan membanjiri pasokan beras. Yang jauh lebih penting ialah bagaimana membuat produksi beras itu bukan hanya sekadar data di atas kertas, melainkan memang sungguh-sungguh terjadi.

Yang pertama, kita harus mengubah cara produksi padi. Tidak bisa terus kita mengandalkan pola yang sudah berjalan turun-temurun yakni hanya mengandalkan panen rendeng dan panen gadu. Kita harus memulai untuk menerapkan teknologi dalam budi daya padi agar memungkinkan panen itu bisa dilakukan setiap saat.

Tugas para penelitilah untuk bisa merealisasikan semua itu. Kita harus bisa melakukan cara seperti yang dilakukan ilmuwan pertanian Israel. Bagaimana mereka bisa mengembangkan budi daya yang memungkinkan mereka bisa melakukan panen pertanian sepanjang tahun sehingga mampu mencapai swasembada pangan.

Pertanian kita umumnya masih dikelola secara tradisional. Nyaris tidak ada terobosan besar yang dibuat. Tidak usah heran apabila produktivitas pertanian kita tidak pernah bisa meningkat tajam. Apalagi untuk tanaman padi, alih fungsi lahannya terjadi besar-besaran. Kita sering bingung kalau ada pejabat yang mengatakan produksi padi kita meningkat apalagi disebut bisa swasembada.




Tidak usah heran apabila Ombudsman Republik Indonesia menyebut ada malaadministrasi dalam data produksi beras nasional. Istilah swasembada beras dikatakan menyesatkan karena kemudian membuat perencanaan stok pangan nasional menjadi keliru dibuat. Apa yang terjadi sekarang ini merupakan akibat dari kekeliruan itu.

Kita harus membuat perubahan besar apabila tidak mau terus terjerumus kepada arah kebijakan yang keliru. Dimulai dengan memperbaiki data jumlah petani dan luasan lahan yang ada. Di era teknologi informasi seperti sekarang sudah saatnya kita menghitung luasan dengan menggunakan global positioning satellite. Tidak bisa lagi dikira-kira dengan pandangan mata seorang mantri pertanian.

Data petani dan luasan lahan penting untuk menghitung sarana produksi pertanian yang dibutuhkan, kredit yang perlu disediakan, subsidi yang akan diberikan, serta infrastruktur dasar yang harus dibangun pemerintah. Bahkan, dari sana bisa diperkirakan jumlah produksi yang akan dihasilkan sehingga kita tahu langkah kontingensi yang harus dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat.

Sektor pertanian Thailand dan Vietnam bisa lebih maju dari kita karena cara pengelolaannya sudah jauh lebih modern. Mereka memasukkan teknologi untuk menopang pengembangan budi daya pertanian. Apalagi pemerintah mendukung penuh pembangunan pertanian mereka. Hampir semua produk pertanian mereka mempunyai produktivitas yang tinggi.

Apakah kita bisa melakukan itu? Pasti bisa kalau pertanian tidak hanya dilihat sebagai kegiatan politik sebab pertanian adalah kegiatan ekonomi yang memerlukan sentuhan-sentuhan inovasi. Tidak bisa lagi pertanian dikelola secara business as usual.

Apalagi kita sedang menghadapi perubahan iklim yang ekstrem sehingga menuntut kecerdasan lebih untuk bisa menjawab tantangan baru.

Kita membutuhkan pemikir yang visioner agar muncul ide yang out of the box. Visi itu harus diimplementasikan agar menjadi aksi nyata yang menghasilkan. Bahkan, implementasinya mesti dilakukan secara konsisten dan dilakukan pendampingan agar menjadi tindakan yang benar di lapangan.

Kita diingatkan bahwa tanaman adalah makhluk ciptaan Tuhan yang membutuhkan sentuhan hati. Ketika kita melakukan dengan sepenuh hati, hasilnya akan di luar dugaan. Mendiang Presiden Soeharto dan Raja Thailand Bhumibol Adulyajed merupakan contoh pemimpin yang menggunakan juga kekuatan hati dalam membangun pertanian, dan mereka berhasil meningkatkan produksi serta kesejahteraan petani.

Suryopratomo

 


(AHL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG ANALISA EKONOMI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ANALISA EKONOMI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 25-02-2018