Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp RP 5.744.740.112 (3 AGUSTUS 2018)

Menatap Wajah Freeport di Inalum

- 12 Desember 2017 09:40 wib
Ilustrasi tambang Freeport. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Ilustrasi tambang Freeport. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

BILA tidak ada aral melintang, pemerintah akan mengumumkan hasil akhir negosiasi dengan Freeport McMoran pada pertengahan Desember ini.

Salah satu poin penting ialah mengenai sisa saham divestasi 41,64 persen milik Freeport McMoran di PT Freeport Indonesia.

Akuisisi terhadap saham Freeport hingga mencapai 51 persen dari posisi saat ini 9,36 persen adalah titik penting karena menjadi tonggak bersejarah kedaulatan negeri ini terhadap kekayaan alam yang dimiliki.

Proses yang terjadi dalam akuisisi saham Freeport ini secara kebetulan mirip dengan yang terjadi pada proses pengalihan 58,8 persen saham milik Nippon Asahan Aluminium (NAA) Jepang ke pemerintah.

Ada negosiasi ketat di harga saham, juga keraguan apakah Indonesia mampu melanjutkan operasional Inalum seperti saat masih dioperasikan perusahaan Jepang.

Sedikit kilas balik, kesepakatan pemerintah RI dan Jepang mengakhiri kerja sama di Inalum terjadi pada masa akhir kontrak di 30 November 2013. Terjadi perundingan yang alot untuk menentukan nilai 58,8 persen saham milik NAA.

Dari nilai awal versi pemerintah US$453 juta dan pihak Jepang USD650 juta, dicapai kesepakatan pada titik temu di USD556,7 juta. Masalah penentuan nilai 41,64 persen saham Freeport juga hampir mirip.

Pada awalnya pemerintah menghitung USD3,45 miliar atau setara Rp47 triliun, sedangkan pihak Freeport Mcmoran menghitung sekitar USD8 miliar atau setara Rp108 triliun. Kita percaya bahwa antara pemerintah dan Freeport akan mencapai titik temu yang saling menguntungkan.

Satu hal yang sering jadi pertanyaan ialah kemampuan Indonesia mengoperasikan tambang di Papua. Namun, berkaca pada operasional pabrik pengolahan aluminium milik Inalum di Tanjung Balai, Kabupaten Batubara, Sumatra Utara, agaknya hal itu tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

Buktinya putra-putri Indonesia pun bisa mengoperasikan pabrik di Tanjung Balai itu seperti sediakala. Kapasitas pabrik Inalum sebanyak 260 ribu ton, tidak turun sedikit pun. Bahkan dengan bantuan teknologi, kapasitas meningkat menjadi 300 ribu ton. Kapasitasnya pun tidak sulit melambung menjadi 500 ribu bila pasokan energi terpenuhi.

Hal yang sama juga akan terjadi pada Freeport. Tidak banyak yang menyadari bahwa sebagian pegawai Freeport ialah jebolan dari PT Aneka Tambang. Mereka banyak dipakai karena telah terbiasa melakukan penambangan bawah tanah di Pongkor, Bogor, Jawa Barat.

Oleh karena itu, bila ingin melihat masa depan Freeport di tangan Indonesia, bisa berkaca dari pengalaman anak bangsa mengelola Inalum. Tidak perlu diragukan. (Media Indonesia)

 


(AHL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG FREEPORT
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ANALISA EKONOMI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 14-08-2018