Menteri Terbaik

- 14 Februari 2018 14:14 wib
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (FOTO: AFP)
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (FOTO: AFP)

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati dikukuhkan sebagai menteri terbaik dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Dunia di Dubai, Uni Emirat Arab. Penghargaan yang didasarkan atas penilaian Ernst & Young itu diberikan atas kemampuan Sri Mulyani mengurangi kemiskinan, mengurangi kesenjangan, membuka lapangan pekerjaan, menurunkan tingkat utang negara, menjaga cadangan devisa di atas USD50 miliar, dan meningkatkan transparansi anggaran.

Sepantasnyalah Sri Mulyani mengatakan penghargaan ini bukan diperuntukkan dirinya secara pribadi. Penghargaan ini pengakuan internasional kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah bekerja keras untuk berkontribusi pada stabilitas perekonomian nasional.

Pertemuan pemerintahan sedunia itu memang melihat kinerja Indonesia dalam lima tahun terakhir. Sepanjang lima tahun dianggap ada konsistensi dari pemerintah Indonesia untuk membuat perekonomian bergerak naik. Sri Mulyani baru menjabat kembali sebagai menteri keuangan dua tahun terakhir dan sebelumnya jabatan ini diisi Muhammad Chatib Basri dan Bambang Permadi Brodjonegoro.

Penghargaan kepada Sri Mulyani seperti biasa segera menimbulkan pro dan kontra di dalam negeri. Banyak yang menilai, penghargaan itu sesuatu yang membanggakan karena ada anak bangsa yang mampu mengungguli menteri-menteri negara lain. Namun, tidak sedikit pula yang mencibirnya karena kinerja Sri Mulyani dianggap tidak lebih hebat daripada menteri-menteri negara lain ASEAN.

Kita memang sudah terjebak dalam saling ketidakpercayaan yang tinggi. Apalagi, kita hidup dalam kebebasan berekspresi yang luar biasa. Akibatnya, kita cenderung melihat pencapaian yang diraih seorang anak bangsa dari sisi negatif, seakan penghargaan itu sesuatu yang semu dan ada rekayasa di belakangnya.

Baca: Sri Mulyani Raih Penghargaan Menteri Terbaik di Dunia

Jangan-jangan kalau Cristiano Ronaldo itu orang Indonesia, kita pun tidak percaya akan kemampuannya bermain sepak bolanya yang hebat. Ketika Ronaldo terpilih sebagai pemain sepak bola terbaik di dunia, kita pun menganggap itu sebagai sebuah rekayasa global. Ronaldo memengaruhi semua orang untuk mendapatkan sepatu emas.

Kita terlalu mudah memersonifikasikan orang lain berperilaku seperti kita, seakan-akan tidak ada yang namanya integritas. Semua orang bisa diajak melakukan rekayasa untuk merancang sebuah agenda besar, dan itu dilakukan masyarakat global.

Berulang kali kita mengajak untuk berubah apabila ingin menjadi bangsa yang besar. Kita harus membangun sikap saling percaya sampai orang itu terbukti melakukan tindakan tercela yang tidak bisa dipercaya. Sebabnya, kalau kita terus hidup saling tidak percaya, tidak pernah akan ada orang yang berani melakukan terobosan.

Padahal, orang seperti Nadiem Makarim bisa membuat Go-Jek karena melihat fenomena masyarakat menggunakan ojek. Ia berani membuat terobosan dengan membangun sistem aplikasi yang memungkinkan konsumen bisa berkomunikasi langsung dengan tukang ojek. Dengan sistem itu, tukang ojek tidak perlu mangkal ramai-ramai seperti dulu, sementara konsumen pun mendapatkan pelayanan yang lebih terjamin dan bisa dipercaya.

Awalnya, kita melihat ada ketidakpercayaan tukang ojek kepada Go-Jek. Bahkan, pertama-tama kita melihat adanya bentrokan fisik antara anggota Go-Jek dan tukang ojek. Namun, sekarang dengan semangat saling percaya, keduanya bisa sama-sama mendapatkan keuntungan. Bahkan, Senin lalu kita melihat bagaimana perusahaan sekelas PT Astra International mau berinvestasi sampai USD150 juta atau sekitar Rp2 triliun kepada Go-Jek.

Dalam kasus penghargaan untuk Sri Mulyani, tentu lebih baik kita berbaik sangka. Kepercayaan masyarakat dunia itu kita pakai untuk mendorong anak-anak Indonesia lebih percaya diri, bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk bisa dicapai. Anak-anak Indonesia bisa berprestasi besar di mana pun.

Cara seperti itulah yang sedang dilakukan Vietnam. Negara yang pada 1975 baru selesai perang itu mencoba membangun rasa percaya diri kepada warga bangsa. Anak-anak Vietnam dipacu untuk mengecap pendidikan tinggi di dalam maupun di luar negeri. Setiap keberhasilan yang diraih dipakai untuk mendorong anak-anak lain Vietnam demi meraih prestasi lebih tinggi lagi.

Sekarang anak-anak Vietnam tidak kalah jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain ASEAN. Bahasa Inggris mereka bahkan lebih baik daripada rata-rata anak Indonesia. Dengan itulah kita melihat bagaimana Vietnam bisa mengejar ketertinggalan dan bersiap untuk naik kelas lagi.

Kita tentu tidak boleh kalah. Karena itu, kita harus meninggalkan sikap iri hati dan inward looking. Kita harus berpikiran lebih terbuka. Setiap ada keberhasilan anak bangsa ini kita pergunakan untuk mendorong anak yang lain agar mau mengikuti. Dengan sikap positif seperti itu, niscaya kita bangkit menjadi bangsa besar.

Sudah saatnya kita meninggalkan sikap inferior. Kita jangan terus membuang energi dengan berkelahi sendiri di dalam. Pesaing utama kita bukanlah sesama warga bangsa ini. Dalam era keterbukaan seperti sekarang, pesaing kita itu ada di luar. Jangan lupa yang kita perlukan bukanlah penghargaannya, melainkan menjadikan penghargaan itu sebagai pemacu kita untuk bekerja dan berkarya lebih hebat lagi. (Media Indonesia)

Suryopratomo
Dewan Redaksi Media Group


 


(AHL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG SRI MULYANI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ANALISA EKONOMI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 22-02-2018