DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 20.111.547.901 (22 SEP 2018)

Rupiah Diprediksi Masih Terus Anjlok

Dian Ihsan Siregar - 13 Maret 2018 18:52 wib
Illustrasi. Antara/Puspa Perwitasari.
Illustrasi. Antara/Puspa Perwitasari.

Jakarta: Mata uang rupiah diprediksi bakal ‎terus tertekan terhadap dolar AS (USD) dari posisi perdagangan di hari ini sebesar Rp13.752 per USD (Bloomberg). Sebagaimana diketahui, rupiah telah sempat mencapai Rp13.800 per USD. Artinya, posisi rupiah saat ini telah melebihi dari target Rp13.400 per USD di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN‎) 2018.

Analis Forex Time Lukman Otunuga menjelaskan pelemahan rupiah karena bank sentral AS (The Fed) masih akan kembali mengerek tingkat suku bunganya.

"Pelemahan terhadap rupiah akan meningkat ada ekspektasi (The Fed) naik. Entah meeting nanti mengalami naik atau turun," kata Lukman, saat berbincang santai dengan media di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat, Selasa, 13 Maret 2018.

Selain itu, kebijakan Presiden AS Donald Trump mengenai kenaikan tarif impor aluminium dan baja juga mempengaruhi pergerakan rupiah.‎ Sebab, hal tersebut memicu gejolak perdagangan dengan Eropa dan Tiongkok. Pada akhirnya, memberikan dampak negatif ke mata uang di negara berkembang, termasuk rupiah.

"Setelah meeting ada perkembangan lainnya seperti The Fed masih bilang perlu stimulasi masih perlu ada kenaikan suku bunga atau faktor lainnya potensial perang dagang," jelas Lukman.

Meski demikian, rupiah terbawa angin segar pada saat data ekonomi AS yang tidak sesuai, seperti pertumbuhan gaji yang jauh dari ‎ekspektasi pasar. ‎Pasalnya, pada saat itu, nilai mata uang negeri Paman Sam sempat keok.

"Itu membuat rupiah terbantu, gaji tidak sekencang yang diperkirakan dan tekanan kenaikan suku bunga turun membuat USD melemah," terang Lukman.

Maka dapat disimpulkan, Lukman mengaku, koreksi rupiah yang sangat tajam selama ini, banyak dikarenakan datang dari eksternal, sedangkan dari dalam negeri tidak memberikan dampak yang banyak.

"‎Tekanan rupiah karena dari faktor eksternal. Bukan pada internal Indonesia.‎ Data di Indonesia masih bagus untuk rupiah," pungkas Lukman.



(SAW)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KURS RUPIAH
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA BURSA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 25-09-2018