Analis: Aksi Jual Asing Bikin Saham Telkom Susut

Dian Ihsan Siregar - 12 Oktober 2017 19:58 wib
Illustrasi. MI/Panca S.
Illustrasi. MI/Panca S.

Metrotvnews.com, Jakarta: Saham milik PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)‎ beberapa waktu belakangan mengalami penurunan yang cukup kuat. Pada penutupan Rabu 11 Oktober 2017, saham perseroan berada di posisi Rp4.380 per saham, dari posisi di hari sebelumnya masih berada di posisi Rp4.600 per saham.

‎Meski demikian, kini saham Telkom sudah menanjak kembali ke posisi Rp4.440 per saham, dari posisi pembukaan perdagangan Rp4.410 per saham.

‎Kepala Riset PT Koneksi Kapital, Alfred Nainggolan mengatakan, saham Telkom yang beberapa hari belakangan ini mengalami penurunan,karena didorong oleh aksi jual investor asing yang secara massif.  Bukan hanya itu, penurunan juga akibat ekspektasi pelaku pasar terhadap kinerja kuartal III Telkom yang di bawah konsensus pasar. 

"Tapi ini tidak besar pengaruhnya, ketika dihubungkan dengan pelemahan dalam tiga hari berturut-turut yang dialami Telkom," ujar Alfred kepada Metrotvnews.com, Kamis 12 Oktober 2017.

Aksi jual saham Telkom, sebut Alfred‎, pernah dialami oleh PT Astra International Tbk (ASII)‎. Berdasarkan data emiten grup Astra mengalami profit taking hingga Rp7,7 triliun pada Juli lalu. Sedangkan, saat ini Telkom telah mengalami net sell asing hingga Rp2,5 triliun.

"Jadi koreksi Telkom lebih kepada profit taking asing‎, seperti kejadian ASII di Juli lalu," ungkap Alfred.

Senada dengan Alfred, ‎Analis Senior Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada menambahkan, pelemahan saham Telkom karena ada simpang siur terkait kinerja bisnis perseroan di kuartal III-2017.

"‎Informasi simpang siur, mulai dari antisipasi keluarnya kinerja Telkom untuk kuartal III-2017, ada yang bilang saham Telkom sudah overvalue, dan lainnya. Kalau saya lihat ini lebih ke antisipasi keluarnya laporan kinerja," pungkas Reza.


(SAW)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG TELKOM
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA BURSA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 13-12-2017