Indonesia Disebut Belum Perlu Mengimpor Gas Hingga 2023

Intan fauzi - 08 September 2017 10:07 wib
Ilustrasi/ANT/Rahmad
Ilustrasi/ANT/Rahmad

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia berdasarkan neraca diprediksi harus mengimpor gas pada 2019. Namun kebijakan itu hampir dipastikan mundur.

Head of Marketing Product Development Division PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Adi Munandir mengatakan, perhitungan neraca gas perlu dievaluasi. Prediksi dalam neraca gas tidak sesuai realisasi penjualan.

"Karena kan neraca kita hari ini tuh contractual basis, artinya berdasarkan kontrak bukan realisasi. Kalau kita cermati lagi realisasi, realisasi hari ini tuh oversupply jadi 2019 berdasarkan survei Wood Mackenzie bisa jadi belum diperlukan impor. Bahkan mundur bisa ke 2023," kata Adi di Grand Andaria Bogor, Kamis 7 September 2017.

Mundurnya perkiraan waktu impor gas dipengaruhi tingkat demand gas dari industri. Adi mengatakan, sejauh ini demand belum sesuai yang diproyeksikan neraca gas.

"Agak melambat hari ini. Gara-gara agak melambat, produksi gas masih cukup, apabila produksi sesuai jadwal masih oversupply, bisa geser ke 2023-2025. Yang kita certain 2019 belum diperlukan impor," tegas Adi.

Namun, Adi juga tak bisa memastikan tahun 2023-2025 Indonesia bakal mengimpor gas. Kebijakan tersebut dipengaruhi supply dan demand gas dalam negeri.

Adi menjelaskan, mundurnya prediksi impor gas lantaran terjadi perlambatan konsumsi gas domestik oleh industri belakangan ini. Hal itu dipengaruhi berbagai faktor yang menyebabkan aktivitas industri melambat.

"Aktivitas industri hari ini agak melambat karena competitiveness produk dengan produk impor, pertumbuhan kawasan industri baru belum ter-develop, jadi pertumbuhan demand sedikit terkoreksi," terang dia.


(OJE)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG GAS
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ENERGI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 19-11-2017