SKK Migas Berjuang Cegah Penurunan Produksi Blok Mahakam di 2017

Annisa ayu artanti - 22 Agustus 2016 14:55 wib
Blok Mahakam. FOTO ANTARA / Yudhi Mahatma.
Blok Mahakam. FOTO ANTARA / Yudhi Mahatma.

Metrotvnews.com, Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan produksi Blok Mahakam tahun depan memang akan mengalami penurunan. Oleh karena itu, saat ini pemerintah sedang mencari cara untuk menjaga produksi tersebut.

Deputi Pengendalian Operasi SKK Migas, Muliawan mengatakan saat ini, SKK Migas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Total E&P, dan PT Pertamina (Persero) sedang membahas bagaimana agar produksi blok yang berada di Kalimantan Timur tersebut tetap stabil.

"Turun dibandingkan tahun ini. tapi saat ini kita masih bahas dengan Pertamina dan Total bagaimana kita bisa menjaga produksi itu," kata Muliawan di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Senin (22/8/2016).

Muliawan menyebutkan, salah satu opsi untuk menjaga produksi tersebut adalah masuknya Pertamina pada 2017. Hal tersebut dikatakannya sudah dipastikan lantaran surat keputusan Pertamina masuk lebih awal sudah tinggal proses legalitas saja.

"2017 Insya Allah sudah mulai masuk," ucap Muliawan.

Meskipun tidak menyebutkan pasti angka penurunan produksi berapa besar, Muliawan menuturkan rata-rata produksinya masih disekitar 1.500 MMSCFD sampai 1.600 MMSCFD.

"Itu (penurunannya) Pak Gunawan lagi bahas dari sisi subsurfacenya. Karena dari programnya belum nih. Subsurface dulu nanti dari berapa sumur oleh Total, berapa oleh Pertamina Hulu Mahakam," pungkas Muliawan.

Sebelumnya, Pertamina menyatakan kesiapannya untuk investasi di Blok Mahakam pada kuartal II 2017. Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjpto mengungkapkan perseroan menginginkan untuk berinvestasi lebih awal yakni pada 2017, meskipun baru akan menjadi operator resmi pada 2018.

"Kalau diizinkan ya kami masuk kalau secara legal ada di mereka ya kami minta melaksanakan," kata Dwi.

Dwi Soetjipto mengungkapkan, kalau memang bisa Pertamina masuk lebih awal akan memperkecil resiko penurunan produksi pada 2018. Ia juga menuturkan, jalan keluarnya memang bekerja sama dengan operator eksisting untuk memperkecil resiko tersebut.

"Kita berharap 2017 bisa memukai investasi agar 2018 tidak terjadi penurunan yang tajam. Jalan keluarnya masih dikelola total Indonesia itu bisa dikerjasamakan dengan Total E&P," jelas Dwi.

Dwi juga menyebutkan, telah menyiapkan sejumlah dana yakni sekitar USD2,5 miliar untuk investasi awal blok yang berada di Kalimantan Timur. Ia juga sudah berkoordinasi terus dengan Total untuk masalah ini.


(SAW)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG BLOK MAHAKAM
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ENERGI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 26-09-2017