DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 20.111.547.901 (22 SEP 2018)

Memberatkan Pertamina, PP Holding Migas Diimbau Dikaji Ulang

Annisa ayu artanti - 14 Maret 2018 17:24 wib
Anggota Komisi VI DPR-RI Rieke Diah Pitaloka. (FOTO: ANTARA/Adimaja)
Anggota Komisi VI DPR-RI Rieke Diah Pitaloka. (FOTO: ANTARA/Adimaja)

Jakarta: Anggota Komisi VI DPR-RI Rieke Diah Pitaloka mengkritisi keputusan pemerintah yang mengeluarkan payung hukum, holding BUMN migas yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pertamina.

Rieke mengatakan pembentukan holding BUMN migas bukan menguntungkan justru merugikan Pertamina. Pasalnya, PT Perusahan Gas Negara Tbk (PGN) dinilai bukan perusahaan yang sehat. Sehingga bisa membebani Pertamina.

"Kita bisa minta kalau bisa dicabut saja (PP holding migas) dievaluasi dulu PGN-nya," kata Rieke dalam rapat dengan Pertamina, di Komplek Parlementer, Senayan, Rabu, 14 Maret 2018.

Rieke menyebutkan, selama lima tahun kinerja keuangan PGN terus merosot karena harus membayar sewa dan biaya operasi FSRU Lampung. Serta, pemaksaan strategi investasi dan manajemen di kegiatan hulu migas yang dikelola anak usahanya, PT Saka Energi Indonesia (Saka Energi).

Sejak 2014, FSRU Lampung tidak beroperasi optimal sesuai rencana. Cenderung tidak beroperasi. Namun PGN tetap harus membayar sewa lebih dari USD90 juta. Penyebab utamanya, karena tidak ada kontrak komersial dalam hal ini PLN karena mahalnya biaya penyimpanan dan regasifikasi. Lalu, diduga terjadi mark up dalam proyek FSRU Lampung itu.

Kemudian investasi di hulu oleh Saka, Rieke manyampaikan bahwa sampai saat ini masih mengalami kerugian rata-rata dalam lima tahun lebih dari USD50 juta.

"Kalau begini, bapak Deputi Bidang Usaha Tambang, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno siapa yang menanggung? Pertamina lagi yang menanggung," kata Rieke.

 


(AHL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG HOLDING MIGAS
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ENERGI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 25-09-2018