Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.676.534.291 (20 JULI 2018)

Jurang Produksi dan Konsumsi Minyak di Indonesia

Dian Ihsan Siregar - 16 April 2018 14:08 wib
Illustrasi. ANT/Wahyu Putro.
Illustrasi. ANT/Wahyu Putro.

Jakarta: Produksi minyak mentah Indonesia terus mengalami penurunan di sepanjang tahun ini meskipun konsumsinya terus mengalami peningkatan. Hal itu membuktikan adanya perubahan yang signifikan antara produksi dan konsumsi minyak mentah di Indonesia.

Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Arief Setiawan Handoko‎ mengaku perubahan ini berbanding terbalik bila dibandingkan pada puluhan tahun sebelumnya. Pada tahun itu, Indonesia masih memiliki cadangan yang surplus hingga bisa melakukan ekspor.

"Kita punya gap yang cukup besar jadi per Maret 2018 kita masih punya gap di mana produksi kita yang dulu pernah mencapai 1,7 juta barel per day kira-kira di tahun 1974 kemudian turun sekarang cuma sampai 800 ribu barel. Kalau dari sisi konsumsi, konsumsi kita naik terus," kata Arief, ditemui di Gedung BEI, SCBD Sudirman, Jakarta, Senin, 16 April 2018.

Perbedaan antara produksi dan konsumsi minyak mentah yang mulai seimbang, dia menyebutkan, terjadi di 2002. Pada saat itu, produksi ‎minyak mentah hanya bisa memenuhi konsumsi dalam negeri.

Hingga sekarang ini pun, dia mengaku, cadangan minyak mentah tak lagi bisa memenuhi kebutuhan konsumsi. Akhirnya, kebutuhan minyak di Indonesia harus mengandalkan impor. Impor itu, menurut dia, tak hanya dalam bentuk minyak mentah tetapi juga ada dalam produk barang jadi.

"Sekarang gapnya makin besar. Artinya di sini kurangnya crude yang akan kita proses jadi bahan bakar minyak, kita harus impor, karena impor, maka ini jadi beban bagi negara. Tidak hanya crude tapi barang jadi juga," terang dia.

Maka untuk menguraninya upaya yang harus dijalankan adalah dengan menambah kegiatan eksplorasi dalam negeri supaya bisa mengerek cadangan minyak dalam negeri.

Pemerintah pun, dia menekankan, sedang‎ mendorong investasi pada sisi eksplorasi dengan berbagai bentuk insentif bagi investor. Hal ini agar bisa meningkatkan permintaan minyak dalam negeri tersebut. Posisi saat ini, ada 128 cekungan yang berpotensial untuk di produksi minyak.

"Hanya saja saat ini, ada 18 yang produksi. Jadi kalau lihat potensi yang ada hulu migas, tentunya masih peluang besar," pungkas dia.


(SAW)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG MIGAS
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ENERGI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 22-07-2018