DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Wamen ESDM: Pengaturan Harga BBM Demi Jaga Inflasi

Annisa ayu artanti - 13 April 2018 17:01 wib
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merespons kritikan Bank Dunia soal kebijakan pengaturan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dianggap suatu kemunduran. Padahal, pengaturan harga BBM tersebut dalam rangka menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkualitas.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menegaskan pengaturan harga BBM yang dijual badan usaha adalah salah satu upaya dari pemerintah demi menjaga tingkat inflasi. Badan usaha harus meminta persetujuan pemerintah jika mau menaikkan harga BBM nonsubsidi.

"Naik boleh, asal minta persetujuan. Mau inflasi besar tidak? Boleh tidak pemerintah mengatur agar inflasi tidak (naik)? Caranya bagaimana? Sebelum naikkan informasikan ke kita dulu," kata Arcandra, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat, 13 April 2018.



Ia menekankan pemerintah tidak menetapkan harga BBM nonsubsidi yang dijual badan usaha. Penetapan harga masih wewenang perusahan. Hanya saja, jika ada perubahan harga atau menaikkan harga badan usaha mendapatkan persetujuan dari pemerintah.

"Yang kita atur bukan penetapan harga ya. Tidak ada penetapan harga. Harga silakan tapi ajukan ke kita dulu. Sehingga kita bisa berhitung ini benar tidak," ujar dia.

Arcandra menampik dengan kebijakan ini membuat iklim investasi di sektor hilir migas akan turun. Ia justru menantang data dari Bank Dunia yang mengatakan demikian. "Nanti kita buktikan data Bank Dunia seperti apa. Benar tidak iklim investasi turun," tegas dia.



Sebelumnya, Bank Dunia menilai pengaturan harga BBM akan berpengaruh pada investasi asing di dalam negeri, terutama Shell yang mencari keuntungan di Indonesia. "Jika krisis global meningkat, harga minyak dunia ikut naik dan jika mereka (Shell) tidak menjual sesuai harga tersebut, mereka tak akan memperoleh keuntungan," kata Senior Economist World Bank untuk Indonesia Derek Chen.

Menurut Derek perlu ada kepastian khusus apakah peraturan yang akan diberlakukan pemerintah ini berlangsung lama atau hanya jangka pendek saja. Jika berlangsung lama kemungkinan investor berpikir ulang untuk berinvestasi di Indonesia.

"Pertanyaannya sampai berapa lama ini akan diatur? Jangka pendek apa jangka panjang? Karena perusahaan hadir di sini untuk berinvestasi," tutup dia.

 


(ABD)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PERTAMINA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ENERGI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 15-12-2018