DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Minyak Terancam Habis, Pemerintah Genjot Eksplorasi

- 28 Mei 2018 15:56 wib
Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan produksi minyak Indonesia terancam habis pada 2050.

"Prediksinya kalau tidak ada penemuan baru, 2050 produksi minyak kita habis. Sementara untuk gas, sekarang ini masih bisa ekspor. Tapi suatu saat akan habis," papar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto dalam keterangan tertulisnya, Senin, 28 Mei 2018.

Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya agar produksi migas bertambah. Salah satunya dengan meningkatkan kegiatan eksplorasi migas dengan tujuan memperoleh cadangan migas baru.

Pada 2017, pemerintah mulai beralih dari skema bagi hasil cost recovery menjadi gross split. Skema ini diharapkan dapat menggairahkan kembali iklim investasi minyak dan gas bumi yang sempat tidak dilirik investor pada 2015-2016 lalu.

"Prinsip gross split jelas dan terukur, simpel, dan efisien," kata Djoko.

Dia mengatakan dengan skema gross split itu, akan mempercepat 1-2 tahun tahapan pengembangan lapangan karena sistem pengadaan yang mandiri dan mendorong industri migas lebih kompetitif serta meningkatkan pengelolaan teknologi, SDM, sistem, dan efisiensi biaya operasi.

"Menggunakan cost recovery, waktunya lama. Sejak ditemukannya migas sampai produksi, butuh waktu sampai 15 tahun. Seperti yang terjadi pada Blok Masela. Karena itu kita harus mencari sistem yang memudahkan kontraktor dan bagian dia jadi lebih baik," tutur dia.

Skema gross split ini nantinya juga bermanfaat memberikan hasil keekonomian yang sama atau bahkan lebih baik dari skema cost recovery. Skema ini akan meringankan beban negara karena tidak harus menanggung biaya produksi dan risiko bisnis hulu migas.

Selain itu, Pemerintah juga tidak ikut campur lagi dalam cost-debate yang memakan waktu lama. Ia menambahkan, selain eksplorasi kedepannya penggunaan teknologi seperti EOR juga menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi migas.

"Kita mencari teknologi-teknologi baru sehingga minyak yang tersisa di perut bumi bisa diproduksikan," imbuh dia.

Seperti diketahui, sejak skema gross split diterapkan, hingga saat ini sudah sembilan blok migas baru yang laku. Perpanjangan kontrak kerja sama migas juga menggunakan skema gross split. (Muhammad Reysa/Metro TV)

 


(AHL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG MINYAK BUMI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ENERGI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 13-12-2018