Pertamina Usulkan Skema Baru Bangun GRR Bontang

Annisa ayu artanti - 22 Agustus 2016 08:45 wib
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Pertamina (Persero) akan mengajukan perubahan skema pembangunan Grass Root Refinery (GRR) Bontang. Awalnya skema yang digunakan untuk pembangunan kilang ini adalah Kilang Pemerintah Berbentuk Badan Usaha (KPBU).

GRR Bontang merupakan proyek kilang dengan total investasi USD14 miliar dan berkapasitas 300.000 barel per hari (bph) yang ditargetkan selesai pada 2023. Untuk mempercepat penyelesaian proyek kilang itu perseroan akan mengusulkan skema baru.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengaku bahwa pihaknya sedang melakukan pembahasan terkait dengan pembangunan GRR Bontang. Skema KPBU dinilai akan memakan proses yang panjang. Jadi, saat ini Pertamina sedang membahas bagaimana untuk mempercepat relaisasi kilang tersebut.

"Kita memang dalam rapat menyampaikan bahwa untuk menghindari proses yang agak panjang ya. Dengan KPBU kan agak panjang apakah itu memungkinkan. Tim waktu itu juga membahas bagaimana mempercepat realisasi kilang kilang ini," kata Dwi, di Jakarta, Senin (22/8/2016).

Minggu depan perusahaan pelat merah ini berencana akan melakukan rapat dan meminta pertimbangan pemerintah apakah pembangunan GRR Bontang tetap menggunakan skenario KPBU atau menugaskan langsung kepada Pertamina.

"Kita melihat ini prosesnya lebih cepat ya kalau ditugaskan," ucap dia.

Mantan Direktur Utama Semen Indonesia ini menginginkan skema pembangunan GRR Bontang ini seperti kilang Tuban yang menggunakan skema penugasan ke Pertamina. Lalu Pertamina akan menggandeng perusahaan untuk menggarapnya.

"Kayak Tuban. Tinggal share-nya saja," imbuh dia.

Dwi menuturkan, perseroan juga sangat memahami bila pemerintah menugaskan Pertamina secara langsung, perseroan tidak akan memiliki share saham mayoritas karena pembagiannya disesuaikan dengan kemampuan keuangan perusahaan. Namun, Dwi akan mengusahakan agar perseroan tetap menjadi pemegang saham mayoritas.

"Meskipun dalam penugasan ini Pertamina tidak harus mayoritas dalam share. Ya nanti kita sesuaikan dengan kemampuan keuangan Pertamina. Kita targetnya ke arah mayoritas tetapi kita masuknya bertahap. Dalam perjalanannya, kita masuk," tambah dia.

Lebih lanjut, Dwi optimistis bila pemerintah setuju dengan skema penunjukan langsung, untuk menggaet suatu perusahaan yang mau bekerja sama dan menjadi partner dalam pembangunan kilang ini. Ia meyakini akan banyak peserta yang berminat.

"Banyak peserta yang lalu seperti Kuwait ikut juga di yang lalu. PetroChina mungkin tertarik. Saya kira karena ini hampir kayak di Tuban, saya kira pesertanya banyak," pungkas dia.

Sekadar informasi, bila partner sudah tepilih GRR Bontang dapat beroperasi pada akhir 2022. Saat ini perusahaan yang sudah menunjukan minatnya adalah National Iranian Oil Company (NIOC) yang sudah bertemu dengan Dwi Soetjipto dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno pada Senin 8 Agustus lalu.


(ABD)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KILANG BONTANG
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ENERGI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 26-09-2017