Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.676.534.291 (20 JULI 2018)

Ketum PPP Sebut Kegaduhan Utang Hasil Politisasi

Yogi Bayu Aji - 14 April 2018 17:56 wib
Ketua Umum PPP Romahurmuziy. Foto: Metrotvnews.com/M Sholahadhin Azhar,
Ketua Umum PPP Romahurmuziy. Foto: Metrotvnews.com/M Sholahadhin Azhar,

Semarang: Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy meyayangkan banyak pihak yang mempolitisasi kebijakan pemerintah terkait utang. Padahal, kata dia, tak ada yang salah soal utang pemerintah. 

"Perdebatan soal utang RI tidak perlu dibuat gaduh kecuali yang memang tak mengerti ilmu ekonomi," kata Romy, sapaan Romahurmuziy di peringatan hari lahir (harlah) ke-45 PPP di Gedung UTC, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu, 14 April 2018.

Menurut dia, tidak ada satu negara pun di dunia yang tidak berutang. Amerika Serikat, negara yang menjadi raksasa ekonomi dunia  pun dibebani utang yang telah berjalan lebih dari 200 tahun. Dia menjelaskan utang bukanlah hal yang dilarang selama digunakan untuk kegiatan yang produktif dan diurus dengan baik.

Dia menjelaskan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) tak boleh melebihi 60 persen. Sementara itu, rasio utang  pemerintah per Februari 2018 berjumlah Rp4.034 triliun atau 29,2 persen terhadap PDB.

"Untuk perbandingan, rasio utang Jepang bahkan 230 persen terhadap PDB," jelas dia. 

Romy menilai selama era pemerintahan ini, utang digunakan fokus untuk pembangunan ekonomi. Hal ini terlihat dari kenaikan belanja infrastruktur dari Rp290 triliun di 2015 menjadi Rp410 triliun di 2018. Pembangunan infrastruktur yang masif pun  menaikkan daya saing Indonesia.

"Berdasarkan indeks daya saing global, Indonesia naik 5 peringkat dari 41 di tahun 2016 menjadi 36 di tahun 2017," tekan dia.

Bunga surat utang Indonesia, kata dia, juga tidak bisa disamakan dengan Jepang. Bunga di Indonesia mahal karena inflasi lebih tinggi yakni 3,6 persen di 2017. Sementara itu, Jepang sempat mengalami deflasi. Angka inflasi pun menentukan imbal hasil riil yang diterima investor. Makin tinggi inflasi, makin tinggi permintaan bunga dari investor pembeli surat utang.

Lebih jauh, dirinya mengingatkan tantangan ke depan yakni menurunkan laju inflasi dengan mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok sehingga bunga utang semakin murah. Langkah penting lainnya adalah meningkatkan fundamental ekonomi agar rating utang bisa melesat menjadi di level AAA.

"Jika rating utang semakin baik, dan dampak pembangunan infrastruktur sudah dirasakan oleh masyarakat, kegaduhan soal utang pasti ditinggalkan," pungkas dia.


(SCI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG UTANG LUAR NEGERI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MAKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 22-07-2018