Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.626.772.093 (16 JULI 2018)

Kepemilikan Asing di Surat Utang Bukti Kepercayaan pada Ekonomi RI

Suci Sedya Utami - 06 April 2018 16:59 wib
Ilustrasi. (Foto: MI/Irfan).
Ilustrasi. (Foto: MI/Irfan).

Jakarta: Kepemilikan asing dalam surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah saat ini porsinya mencapai 39,73 persen atau Rp865,9 triliun dari total surat berharga negara (SBN) yang sebesar Rp2.179,9 trilun.

Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman mengatakan kepemilikan surat utang oleh asing memiliki makna positif dan negatif.

Makna positifnya, kata dia, menunjukkkan kepercayaan asing pada Indonesia. Dia menjelaskan, underlying atau jaminan dari sebuah penerbitan surat utang berasal dari fundamental ekonomi negara yang menerbitkan. Apabila banyak asing yang tertarik dengan surat utang tersebut menandakan adanya kepercayaan pada ekonomi negara tersebut.

"Artinya kalau demand-nya makin banyak, menunjukkan kepercayaan oleh asing pada kita, itu good news-nya," kata Luky di Kemenkeu, Jakarta Pusat, Jumat, 6 April 2018.

Selain positif, dampak negatifnya yakni apabila ada gejolak di pasar keuangan, maka dampaknya akan terjadi sudden reversal atau pembalikan arus modal keluar, yakni dengan kata lain asing akan menarik investasinya, namun demikian, tentunya hal tersebut akan sangat tergantung dari bagaimana kekuatan ekonomi Indonesia bisa dipercaya oleh investor asing. Selama ekonomi dalam negeri bisa menjamin ketika ada gejolak yang berasal dari global, maka diyakini asing tak akan menarik dananya.

"Yang namanya surat utang itu portfolio investment bisa dengan mudah keluar dari market kita," tutur Luky.

Untungnya, kata Luky, porsi kepemilikan asing di surat utang Indonesia didominasi oleh investasi jangka panjang, bukan spekulasi. Sehingga, apabila terjadi gejolak di pasar keuangan, tak akan serta merta langsung menarik dananya.

Data Ditjen PPR mencatat, dari porsi kepemilikan asing saat ini paling banyak dimiliki oleh lembaga keuangan internasional Rp362,48 triliun, disusul oleh perusahaan reksa dana asing Rp165,06 triliun, kemudian oleh bank sentral dan pemerintah negara asing Rp144,08 triliun, lainnya Rp110,88 triliun, dana pensiun Rp47 triliun, korporasi Rp22,15 triliun asuransi Rp10,20 triliun, sekuritar Rp1,91 triliun, yayasan Rp1,78 triliun dan perorangan 0,47 triliun.

"Jadi bukan spekulan, yang keluar masuk market dalam waktu yang cepat, mereka tujuannya jangka panjang," tandas Luky.


(AHL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG SURAT UTANG
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MAKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 17-07-2018