DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 46.708.723.881 (21 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Kritikan Tommy Mengingatkan Utang Orde Baru

- 13 Juni 2018 12:46 wib
Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi dan Bisnis, Rizal Calvary Marimbo
Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi dan Bisnis, Rizal Calvary Marimbo

Jakarta: Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto mengkritik kondisi Indonesia yang saat ini dinilai memiliki banyak utang luar negeri. Namun, kritikan Tommy justru mengingatkan masyarakat atas utang Indonesia yang terjadi di era Orde Baru.
 
Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bidang Ekonomi, Industri dan Bisnis, Rizal Calvary Marimbo mengatakan, rasio utang di Orba sebanyak 57,7% dari PDB (Produk Domestik Bruto), dilanjutkan zaman Pak Habibie menjadi sebesar 85,4% atas PDB. Sedangkan zaman Pak Jokowi hanya 27% dari PDB.
 
"Tingginya ketergantungan Orba kepada utang membuat perekonomian nasional rontok serta menimbulkan huru-hara dan gerakan reformasi besar-besaran tahun 1998," kata Rizal dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 13 Juni 2018.
 
Rizal mengatakan, saat Orba defisit selalu dijaga di kisaran 3% dari PDB setiap tahunnya. Namun, defisit tersebut hanya memindahkan sumber pembiayaan dari pencetakan uang baru ke utang luar negeri untuk menjaga inflasi.
 
Sayangnya, inflasi tersebut harus dibayar dengan akumulasi utang yang terus meningkat dan beban pembayaran bunga uang yang semakin memberatkan. Tingginya rasio utang atas PDB Orba tersebut meninggalkan bom waktu.
 
"Ketika guncangan ekonomi global datang, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar melonjak dan nilai utang dan beban bunga pemerintah meningkat tajam. Saat itu utang luar negeri mencapai 5,2% dari PDB. Nilai itu belum termasuk utang diundur pembayarannya," ucap dia.

Baca: Moody's Naikkan Peringkat Indonesia ke Baa2 dengan Outlook Stabil

Berbeda dengan zaman Orba, Rizal mengatakan, kualitas pengelolaan utang Indonesia era Jokowi terkelola dengan baik. Lembaga pemeringkat Moody's Investor Service (Moody's) telah meningkatkan Sovereign Credit Rating (SCR) Republik Indonesia dari Baa3/Outlook Positif menjadi Baa2/Outlook Stabil pekan ini. "Ini menjadi bukti bahwa Presiden Jokowi kredibel dan pruden dalam mengelola utang," ujar Rizal.
 
Rizal mengatakan, kenaikkan tersebut merupakan cerminan kredibilitas penyelenggara kebijakan terkait utang dan efektif mendorong stabilitas makroekonomi.
 
"Ini yang menilai positif Moody's, bukan kami, bahwa pemerintahan sebelumnya sampai pemerintahan Jokowi-JK mampu menjaga defisit fiskal di bawah batas 3 persen sejak 2003. Defisit dapat dipertahankan di level rendah dan didukung oleh pembiayaan yang bersifat jangka panjang dapat menjaga beban utang tetap rendah sehingga mengurangi kebutuhan dan risiko pembiayaan," ucap Rizal.
 
Rizal mengatakan, dibandingkan dengan negara-negara lainnya defisit Indonesia termasuk yang terjaga dengan baik. Defisit anggaran India sebesar 7,1 persen PDB, sedangkan Malaysia 3,03 persen PDB.

Baca: BI: Utang Luar Negeri Masih Didominasi Jangka Panjang

Negara berkembang seperti Vietnam mengalami defisit anggaran hingga 6,5 persen PDB, Polandia 2,9 persen PDB, Argentina 7,3 PDB, sedangkan Kolombia 2,84 persen PDB.
 
"Jadi defisit kita aman 3 persenan, bahkan Qatar negara kaya minyak defisit sampai 10 persen. Norwegia 5 persen, Brasil 10 persen," pungkas Rizal.
 
Seperti diketahui, Tommy mengkritik perekonomian Indonesia saat berpidato di konsolidasi pemenangan Partai Berkarya di Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Senin, 11 Juni 2018.




(FZN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG UTANG LUAR NEGERI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MAKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 21-10-2018