DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 46.708.723.881 (21 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Peningkatan Inklusi Keuangan Mampu Topang Pertumbuhan Ekonomi

Eko Nordiansyah - 14 Februari 2018 12:39 wib
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. (FOTO: ANTARA/Sigid Kurniawan)
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. (FOTO: ANTARA/Sigid Kurniawan)

Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut inklusi keuangan diprediksi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ekonomi Indonesia saat ini memang sebagai kekuatan ekonomi terbesar ke-16 dunia dan diperkirakan akan menjadi negara terbesar ke-8 di 2030 nanti.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, dilihat dari PDB Per Kapita, Indonesia masih bertengger di peringkat 112 dunia, jauh lebih rendah dari Malaysia di peringkat 68 dan Thailand di peringkat 84. Apabila dilihat tren tingkat pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan yang masih menjadi pekerjaan rumah.

"Bank Dunia di salah satu publikasinya di 2018 menegaskan bahwa semakin tingginya tingkat inklusi Keuangan masyarakat akan memungkinkan mereka membuat keputusan yang tepat," ujarnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Februari 2018.

Dirinya menambahkan, inklusi keuangan mampu mendorong masyarakat memiliki pengelolaan keuangan, penggunaan produk dan layanan keuangan yang lebih baik. Pada akhirnya, semua ini akan menopang perkembangan sektor keuangan dan lebih luas lagi mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sebuah studi oleh Bank Dunia lainnya juga menegaskan bahwa peningkatan inklusi keuangan sebesar satu persen dapat mendorong pertumbuhan PDB per kapita 0,03 persen. Dalam studi ini juga disampaikan, dengan peningkatan 20 persen dalam tingkat inklusi Keuangan suatu negara, akan ada penciptaan tambahan 1,7 juta pekerjaan baru.

"Ini semua menegaskan bagaimana peningkatan inklusi Keuangan terbukti akan dapat mendorong upaya penurunan tingkat kemiskinan dan mempersempit ketimpangan. Oleh karena itu, upaya peningkatan inklusi keuangan masyarakat tidak dapat dipandang sebelah mata, tetapi harus menjadi perhatian kita semua," jelas dia.

Apalagi masih ada puluhan juta masyarakat yang tidak dapat mengakses layanan keuangan, baik karena faktor penyebaran jaringan lembaga jasa keuangan formal yang tidak merata, struktur geografis dan populasi yang tersebar, ketiadaan agunan dan literasi keuangan yang rendah. Dan sebagian besar mereka adalah masyarakat berpenghasilan rendah.

"Terbatasnya akses keuangan formal bagi masyarakat kita telah banyak dimanfaatkan oleh para rentenir dengan menyediakan dana yang memiliki tingkat bunga yang sangat tinggi. Belum lagi, tawaran-tawaran investasi ilegal yang menjerumuskan mereka. Kondisi inilah yang menjerat mereka makin dalam pada jurang kemiskinan. Oleh karena itu, kebutuhan akan program inklusi keuangan yang lebih efektif dan efisien sangatlah besar," pungkasnya.

 


(AHL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PERTUMBUHAN EKONOMI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MAKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 23-10-2018