DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Industri Manufaktur Disiapkan Jadi Sumber Utama Pertumbuhan Ekonomi

- 06 Desember 2018 13:04 wib
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Medcom.id/Desi Angriani)
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Medcom.id/Desi Angriani)

Jakarta: Indonesia ingin kembali menjadikan industri manufaktur sebagai sumber terbesar pertumbuhan ekonomi, ketimbang terus bergantung pada ekspor bahan mentah sumber daya alam. Namun, perlu penyempurnaan kebijakan pengembangan teknologi dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk reindustrialisasi.

"Kami dan Bappenas sekarang membuat manufaktur menjadi mainstream kembali. Salah satu dari tujuan industri 4.0 adalah mengembalikan manufaktur menjadi arus utama," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Kamis, 6 Desember 2018.

Menjadikan manufaktur sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi, kata Airlangga, akan termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. RPJMN tersebut kini sedang disusun oleh Bappenas dan instansi pemerintah terkait lainnya.

Saat ini, menurut data Bappenas, kontribusi industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) baru 20 persen. Angka itu dinilai belum ideal. Berkaca pada beberapa dekade silam, kontribusi industri manufaktur terus mengalami penurunan hingga kini. Pada awal 1990-an, kontribusi manufaktur terhadap PDB mencapai 27 persen.

Menurunnnya kontribusi manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi karena Indonesia sudah terlalu lama mengandalkan ekspor bahan mentah, seperti kelapa sawit dan batu bara sebagai mesin pertumbuhan. Padahal ekspor komoditas mentah sangat rentan terhadap pergerakan harga di pasar global, dan tidak berkelanjutan karena kurang memiliki nilai tambah.

Menurut Airlangga, sebagai negara kaya sumber daya alam, industri manufaktur memiliki potensi yang besar untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Terlebih, saat ini pemerintah sedang mendorong industri 4.0 yang akan menciptakan efesiensi dan digitalisasi industri.

Berdasarkan RPJMN 2020-2024 yang sedang disusun pemerintah, pertumbuhan industri manufaktur perlu mencapai 5,4-7,05 persen. Bappenas juga ingin mempertahankan kontribusi manufaktur terhadap PDB stabil di kisaran 20 persen, untuk mencapai 27 persen pada 2030. Dengan asumsi itu, pertumbuhan ekonomi pada 2020-2024 dapat mencapai rentang 5,4-6 persen.
 


(ABD)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG EKONOMI INDONESIA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MAKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 11-12-2018