GAPKI Sebut Larangan Ekspor CPO Indonesia Tidak Berpengaruh Besar

Kautsar Widya Prabowo - 14 Februari 2018 08:55 wib
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)

Jakarta: Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) menyebut keputusan parlemen Eropa untuk melarang ekspor minyak sawit dari Indonesia tidak berdampak besar. Pasalnya Eropa hanya membeli sekitar 20 persen dari total penjualan ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke dunia.

"Kalau misalkan dilarang, secara harga tidak berpengaruh besar karena Eropa hanya membeli sekitar 20 persen," ujar Direktur Eksekutif GAPKI Danang Girindrawardana, usai melakukan pertemuan bersama para pengusaha kelapa sawit Indonesia dengan European Palm Oil Alliance (EPOA), di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa, 13, Februari 2018.

Dalam hal ini, Danang menambahkan, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) akan melakukan pemberhentian seluruh komponen ekspor sawit ke Eropa dengan catatan Uni Eropa tetap berpendirian melakukan pelarangan produk sawit Indonesia.

"Rekan-rekan dari asosiasi petani sawit menyampaikan, apabila Eropa mau melarang kelapa sawit untuk biodiesel maka kami akan hentikan ekspor seluruh produk Crude Palm Oil (CPO)  ke sana. Untuk apa hanya biodiesel," tuturnya.

Di Indonesia, ekspor minyak kelapa sawit siap dioptimalkan termasuk dari sisi manajemen. Hal ini sesuai dengan meningkatnya kualitas industri kelapa sawit di Tanah Air, seiring kondisi industri kelapa sawit semakin baik karena telah memiliki kemampuan dalam mengolah minyak kelapa sawit, sehingga jumlah minyak kelapa sawit hasil olahan yang diekspor cukup tinggi dibandingkan dengan ekspor minyak kelapa sawit murni.

"Kondisi industri sawit Indonesia relatif cukup tinggi, kita berada di angka 80 dan 20 dalam ekspor. Sebanyak 80 persen itu minyak kelapa sawit yang sudah diolah, yang berarti tidak mentah dan yang benar-benar mentah hanya 20 persen," tukasnya.

Bersamaan dengan itu, Lembaga EPOA yang diwakili oleh Frans Claassen menegaskan pihaknya akan membantu menunjukkan fakta sesungguhnya tentang kelapa sawit Indonesia yang telah memenuhi standar keberlanjutan. Sehingga, hal ini dapat memperbaiki citra industri kelapa sawit Indonesia di mata dunia. Hal tersebut dapat mematahkan pernyataan kampannye hitam dari Uni Eropa.

"Kami ingin memberikan pandangan yang seimbang dan objektif tentang kelapa sawit. Kami juga memfasilitasi dan mendukung aliansi industri nasional pada komitmen minyak sawit berkelanjutan di Eropa," pungkas Frans.


(ABD)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KELAPA SAWIT
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 21-02-2018