Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.659.184.273 (20 JULI 2018)

KEIN: Jaga Kepentingan Nasional

M Studio - 12 Juli 2018 16:47 wib
Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta (Foto:Dok)
Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta (Foto:Dok)

Semarang: Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) memandang kebijakan yang disusun oleh pemerintah harus mementingkan dan mengakomodir kepentingan nasional terlebih dahulu untuk menjaga kedaulatan ekonomi. 

Hal ini penting, khususnya dalam menghadapi tekanan perdagangan dari Amerika Serikat belakangan ini.

Belum lama ini, Amerika menyampaikan rencana untuk mengkaji ulang kebijakan bea masuk yang di dalamnya merupakan 124 produk ekspor Indonesia. Jika terjadi, produk dari dalam negeri ke Amerika akan kehilangan fasilitas keringanan bea masuk yang selama ini diterima, sehingga berpeluang menurunkan daya saing. 

Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta menuturkan agar pemerintah mengantisipasi kondisi yang berpeluang memberikan efek negatif bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Apalagi, selama ini perdagangan Indonesia dengan Amerika masih surplus, sudah sepatutnya dijaga dengan baik.

Arif menyarankan, dalam kondisi tekanan dagang seperti sekarang, alangkah baiknya kalau Indonesia lebih melihat ke dalam (inward-looking). 

"Kepentingan nasional harus dijaga melalui perlindungan terhadap pasar domestik agar bermanfaat besar bagi masyarakat Indonesia," kata Arif, usai Focus Group Discussion bertema Sistem Ekonomi Pancasila, di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 12 Juli 2018.

Kebijakan tersebut, lanjutnya, dapat dijalankan dengan cara memberikan fasilitas yang baik bagi industri dalam negeri, sekaligus melindungi dan meningkatkan daya jangkau masyarakat terhadap barang dan jasa. 

Dalam pandangan Arif, kebijakan tersebut sekaligus menjaga kedaulatan ekonomi yang saat ini sangat diperlukan demi menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri, tidak bergantung pada bangsa lain. Salah satu ketergantungan Indonesia yakni impor bahan baku/penolong yang masih cukup tinggi.

"National interest first itu menjadi penting. Kita harus mandiri dan yang paling penting adalah kita menjadi bangsa yang berdaulat secara ekonomi," katanya.

Pada kesempatan tersebut, beragam masalah sosial dan kesejahteraan masyarakat diungkapkan oleh para pemangku kepentingan di Jawa Tengah, antara lain peneliti, pengusaha lokal, media, serta organisasi non pemerintah. Hadir juga dalam pertemuan, perwakilan dari Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan.



Dia menjelaskan untuk menjadikan negara yang berdaulat secara ekonomi perlu dilakukan penguatan terhadap ekonomi domestik, mendorong ekonomi kerakyatan, dan mengembalikan kekayaan sumber daya alam untuk mencapai kemakmuran rakyat seluas-luasnya.

Menurutnya hal itu dapat terjadi apabila nilai-nilai dalam Pancasila yang merupakan ideologi bangsa dapat diterapkan pada seluruh aspek pembangunan, khususnya pembangunan perekonomian. 

"Oleh karena itu dipandang perlu untuk membuat sebuah sistem ekonomi dengan dasar-dasar Pancasila sehingga kekuatan domestik dapat tercapai sejalan dengan terciptanya kemakmuran rakyat sebesar-besarnya," jelasnya.

Lebih lanjut Arif menjelaskan cita-cita para pendiri bangsa ini ialah rakyat Indonesia hidup sejahtera, adil, dan makmur, serta merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi. Kepentingan negara tersebut dapat diwujudkan dalam lima komitmen negara yang terwujud dalam Sistem Ekonomi Pancasila, yakni pasar yang adil, kesetaraan akses untuk penghidupan yang lebih baik, penurunan tingkat ketimpangan, peningkatan kualitas hidup, dan penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran.

Kendati demikian, mencapai kondisi tersebut bukan pekerjaan mudah mengingat saat ini perekonomian sudah bergerak sangat dinamis. Banyak pihak-pihak yang lemah akibat adanya penguasaan sumber-sumber ekonomi oleh segelintir orang.

"Di sinilah perlunya negara hadir. Negara hadir untuk merealisasikan kepentingan negara yang sebenarnya adalah cita-cita luhur para pendiri bangsa melalui kebijakan-kebijakan yang telah dan akan  disusun," tuturnya.


(ROS)

ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 20-07-2018