DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Menteri Bambang: Rupiah Harus Lebih Diperkuat Secara Fundamental

Dian Ihsan Siregar - 14 Maret 2018 16:21 wib
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro. ANT/Sigid Kurniawan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro. ANT/Sigid Kurniawan.

Jakarta: Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan salah satu tantangan yang harus dihadapi pemerintah saat ini adalah penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD). Dengan kata ini, rupiah sedang mengalami under pressure dari kekuatan nilai USD. Untuk itu, penguatan rupiah harus dilakukan secara lebih fundamental.

"Bukan hanya melalui operasi moneter atau intervensi pasar dengan cadangan devisa tapi melalui kebijakan yang lebih fundamenal. Dalam konteks merealisasikan kebijakan yang lebih fundamental," ungkap Bambang, dalam siaran persnya, Rabu, 14 Maret 2018.

Dia mengaku, salah satu yang bisa dikedepankan adalah penguatan ekspor jasa sebagai sumber devisa. Pariwisata atau tourisme termasuk kategori ekspor jasa yang bisa menghasilkan devisa dan memperkuat mata uang rupiah secara permanen.

"Jadi jangan hanya berhenti pada ekspor barang, ekspor jasa juga tidak kalah penting karena ekspor jasa mempunyai  multiplier effect yang luar biasa," ungkap Bambang.

Menurut Bambang, di sisi current account, penguatan rupiah secara lebih fundamental juga bisa dilakukan dari sisi capital account. Ada yang sifatnya hot money, portofolio, dan Foreign Direct Investment (FDI). Kalau dalam jangka pendek yang harus diperhatikan adalah portofolio karena langsung berdampak terhadap Surat Utang Negara (SUN), pasar modal dan ujungnya terhadap rupiah. Berikutnya dari komponen pertumbuhan seperti konsumsi.

"Sejauh ini konsumsi masih merupakan pendorong perekonomian yang dominan sebesar 54,3 persen terhadap PDB 2017. Karena porsinya yang signifkan pada PDB, maka perlambatan pada konsumsi memiliki dampak terhadap laju pertumbuhan ekonomi," jelas dia.

Namun, kata Bambang, Indonesia harus waspada, mengingat pertumbuhan konsumsi masih di bawah lima persen. Dalam standar global, capaian pertumbuhan konsumsi di bawah lima persen sebenarnya masih bagus. "Jadi kalau ada yang bilang ada pelemahan daya beli, ya tidak cocok karena konsumsinya tumbuh meski tumbuhnya tidak di atas lima persen," terang dia.

Selain itu, sambung dia, yang juga perlu ditingkatkan adalah kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi yang sampai 2013 hanya mencapai tiga persen atau lebih. Padahal di 2011, saat perekonomian tumbuh tinggi 6,5 persen kontribusi konsumsinya di atas 3,5 persen. Tapi, setelah 2013, kontribusi pertumbuhan dari konsumsi berada di bawah tiga persen.

Bambang menyebutkan, ada korelasi antara pertumbuhan konsumsi dengan komoditas. Saat terjadi commodity boom sekitar 2013 pertumbuhan ekonomi mencapai enam persen sampai 6,5 persen. Saat itu, konsumsi pernah tumbuh luar biasa di atas 5,2 persen sampai 5,3 persen. Tapi faktor itu hilang seiring dengan berakhirnya commodity boom.

"Jadi kalau diperhatikan, kontribusi konsumsi yang besar dapat mempengaruhi kemampuan kita untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi," ujar Bambang.

Saat ini, Bambang menambahkan, memang ada perbaikan harga komoditas, CPO, batu bara, tetapi tentunya bukan seperti commodity boom, sebagaimana beberapa tahun lalu. Oleh karena itu, kontribusi atau peran strategis konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi yang besar dapat diganti oleh investasi atau ekspor. Cuma masalahnya, ekspor Indonesia masih sangat bergantung kepada sumber daya alam seperti batu bara dan CPO.

"Sementara investasi, meski tahun lalu sudah ada tanda-tanda bangkit dengan capaian mendekati tujuh persen, masih perlu lebih dioptimalkan lagi untuk bisa membuat ekonomi kita tumbuh lebih tinggi lagi," pungkas dia.


(SAW)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KURS RUPIAH
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 11-12-2018