Nasib Petani Jadi Kunci Swasembada Garam

Anggi Tondi Martaon - 12 September 2017 17:53 wib
Petani garam. Foto: MI/Gino F. Hadi
Petani garam. Foto: MI/Gino F. Hadi

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi IV DPR yakin Indonesia bisa swasembada garam mengingat pantai Indonesia nomor dua terpanjang setelah Kanada. Untuk mencapai hal itu butuh keseriusan pemerintah memerhatikan nasib para petani garam.
 
“Sangat mungkin Indonesia tidak perlu impor garam, dan bisa swasembada kalau petaninya diperhatikan,” kata Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo dalam keterangan tertulis, Selasa 12 September 2017.

Dia menyampaikan, selama ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah memberikan perhatian kepada petani garam. Namun, menurut Edhy, perhatian dari KKP saja tidak cukup.
 
Semua stakeholder, termasuk Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian, ikut berperan menyukseskan program kesejahteraan para petani penghasil garam lokal.
 
“Kita hanya tinggal menunggu keseriusan dari pemerintah, jangan hanya KKP saja. Kita sudah punya modal pantai yang luas. Di Jerman, mereka punya perusahaan garam terbesar. Padahal matahari di sana tidak sebanyak di Indonesia, panjang pantainya juga tidak sepanjang Indonesia. Saya yakin kita bisa, tinggal menunggu keseriusan pemerintah,” katanya.

Jika selama ini produk garam lokal selalu dianaktirikan oleh industri karena kualitasnya rendah. Dia meyakini, jika hal itu bisa dibenahi, produk garam lokal akan terserap dan pada ujungnya akan membawa kesejahteraan kepada petani.
 
“Dengan dibenahi sistem infrastruktur pengolahan ini, nasib para petani tidak seperti ini. Harga garam tidak terus menurun,” sebut Edhy.
 
Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron menambahkan, pemerintah harus hadir dalam persoalan harga garam yang sangat tidak berpihak kepada para petani garam.
 
“Saat ini harga garam hanya Rp700 per kilo, ini sangat tidak rasional. Untuk itu, pemerintah harus tegas menetapkan harga bawah,” ujarnya.
 
Dia menganggap harga garam selalu jatuh saat diberlakukan kebijakan impor. Jika hal ini terus terjadi, petani garam tidak akan merasakan kesejahteraan dari hasil pertaniannya.
 
“Harga selalu jatuh. Bulan lalu mereka menjual Rp3 ribu, setelah impor masuk menurun jadi Rp700,” tandas dia.


(TRK)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG BERITA DPR
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 18-11-2017