Manfaatkan Lahan Terlantar untuk Tekan Impor Garam

Suci Sedya Utami - 14 November 2017 17:33 wib
Ilustrasi petani garam. (FOTO: ANTARA/Saiful)
Ilustrasi petani garam. (FOTO: ANTARA/Saiful)

Jakarta: PT Garam (Persero) menyatakan luas lahan tambah atau produksi garam saat ini menjadi 525 hektare (ha) setelah adanya tambahan lahan terlantar dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) seluas 225 ha di Kupang.

Direktur Utama PT Garam Budi Sasongko mengatakan dengan lahan tersebut akan bisa menekan laju impor garam aneka pangan yang masuk dalam klaster garam industri.

"Dengan 525 Ha ini paling tidak bisa memberikan produksi output untuk empat tahun ke depan, minimal 50 ribu ton dalam upaya menekan impor," kata Budi, di Kementerian ATR, Jakarta Selatan, Selasa 14 November 2017.

Adapun dalam rangka mencapai target swasembada di 2020, dia bilang masih memerlukan tambahan lahan lagi 20 ribu ha. Dia bilang, daerah potensial sebagai lahan garam yakni di NTT, NTB, Makassar.

"Kalau Pantura akan sulit mengembangkan lagi, apalagi Madura sudah maksimal. Kecuali mengintensifikasi, merevitalisasi lahan seperti PT Garam yang 5.000 ha, kita revitalisasi untuk tiga tahun lagi paling tidak menambah 30 persen dari produksi yang sekarang kurang lebih 350 ribu ton," tutur dia.

Lebih jauh, Budi menambahkan, meskipun berharap bisa dikerjakan sendiri, namun pihaknya tidak menutup kemungkinan bagi investor yang mau masuk untuk bekerja sama.

Dia menuturkan, sudah banyak pihak yang tertarik seperti Korea, Taiwan, Jepang pernah menawarkan dengan teknologi baru.

 


(AHL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG GARAM
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 25-11-2017