DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 48.065.276.228 (24 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Kinerja Satgas Pangan Diapresiasi

- 14 Juni 2018 10:25 wib
Ilustrasi. (Foto: Antara/Adeng).
Ilustrasi. (Foto: Antara/Adeng).

Makassar: Satuan Tugas (Satgas) Pangan yang terdiri dari berbagai instansi, termasuk Kepolisian RI, telah menangkap sedikitnya 495 anggota mafia pangan dalam kurun waktu sekitar setahun. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Dirut Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Wasesa pun mengapresiasi kinerja satgas tersebut.

Pasalnya ratusan anggota mafia pangan itu mengganggu distribusi pangan sehingga kerap memicu lonjakan harga yang tidak terkendali.

"Terima kasih semuanya, termasuk Satgas Pangan yang sangat efektif betul untuk memantau dan melihat semua pergerakan harga dan pasokan yang ada. Ini semua kerja dari tim," ujar Enggar di sela-sela meninjau pasar tradisional dan Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, 13 Juni 2018.

Hal senada disampaikan Budi Wasesa. "Kami harap kerja sama Satgas Pangan, TNI, dan Polri dalam memonitor dan mengawasi sehingga pangan tidak jadi permainan di momentum Lebaran ini, khususnya beras."

Gejolak harga daging ayam menjelang Lebaran, kata Buwas, juga perlu diatasi. Sering kali stok barang ada, tetapi tidak dikeluarkan pedagang yang ingin mendapat keuntungan lebih. Karena itu, Buwas meminta TNI dan Polri mengawasi para spekulan dan pasti tahu tempat penimbunannya. "Kita awasi ini, pantau bersama. Jadi, tidak ada harga melambung dan harga terlalu rendah yang juga merugikan produsen," katanya.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan, dari sejumlah 495 orang tersebut, 390 orang di antaranya telah menjalani proses hukum dan ditetapkan sebagai tersangka. "Itu sejak Mei 2017. Sejak adanya Satuan Tugas Pangan," kata Tito saat menjawab pesan Whatsapp Media Indonesia, kemarin.

Tito mengatakan, untuk mengatasi persoalan distribusi pangan, langkah pertama harus dilakukan secara persuasif. Kalau tidak bisa, baru dilakukan upaya penegakan hukum. Hal itu, menurut Tito, disebabkan mekanisme pasar yang jika disentuh terlalu keras malah akan menimbulkan kelangkaan.

"Kuncinya di polda (krimsus) dan polres yang berhubungan dengan masalah pangan. Mereka itu sudah tahu orang-orangnya yang biasa main-main begini. Mereka itu yang perlu dipukul karena undang-undangnya jelas, ada UU Persaingan Usaha dan UU soal pangan," kata Tito.

Beri Teguran

Dalam kunjungannya di Sulawesi Selatan, Enggar menngatakan masih ada gula kristal putih yang dijual seharga Rp15 ribu per kilogram (kg) atau di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp12.500 per kg. "Kita akan beri teguran, itu melanggar HET. Mereka harus ikut aturan," tegasnya.

Secara keseluruhan, lanjut Enggar, sejumlah harga pangan relatif stabil begitu pula dengan pasokannya. "Secara keseluruhan, hingga H-2, semua bahan pokok tersedia, harga stabil dan terkendali. Tidak hanya pada Lebaran tahun ini, kami berkomitmen menjaga stabilitas harga setelah Lebaran hingga tahun depan," tegasnya.

Upaya tersebut tentunya tidak bisa dilakukan sendiri. Sinergi antarkementerian dan lembaga sangat dibutuhkan guna mencapai tujuan yang ditetapkan. Ia pun meminta kepada setiap kepala dinas perdagangan daerah, untuk selalu turun ke lapangan memantau harga dan berkoordinasi dengan Satgas Pangan setempat. (Media Indonesia)


(AHL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PANGAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 24-10-2018