Panen Berkali-kali via Teknologi Salibu

Ade Hapsari Lestarini - 13 Januari 2018 12:20 wib
Kelompok tani Subak Bukit Telu, Desa Bengkel, Busungbiu, Buleleng, Bali menggelar panen raya dengan teknologi Salibu. (FOTO: istimewa)
Kelompok tani Subak Bukit Telu, Desa Bengkel, Busungbiu, Buleleng, Bali menggelar panen raya dengan teknologi Salibu. (FOTO: istimewa)

Buleleng: Kelompok tani Subak Bukit Telu, Desa Bengkel, Busungbiu, Buleleng, Bali menggelar panen raya dengan menggunakan teknologi Salibu yaitu sistem tanam padi sekali dengan panen berkali-kali dari bibit yang sama.

"Teknologi Salibu yang baru pertama kali diterapkan di Buleleng ini merupakan program pemerintah yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017. Tujuannya meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) padi," ujar Kepala Bidang Produksi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bali I Wayan Sunarta, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 13 Januari 2018.

I Wayan Sunarta menjelaskan para petani tersebut menggunakan paket lengkap teknologi Salibu dari PT Prima Agro Tech yang berlandaskan agro-biotechnology untuk setiap produknya. Adapun paket produk yang digunakan dalah Decohumat, Oriza Plus, Metarizep, BT Plus, Kalsika, dan Humatop.

"Teknik ini diterapkan sebagai usaha inovasi peningkatan kebutuhan beras dan usaha mencapai swasembada pangan," tambah dia.

Dia menambahkan lahan seluas satu hektare (ha) di lokasi tersebut menjadi bukti atas prestasi dari teknologi salibu mewakili dari total 12,5 ha yang tersebar di delapan kecamatan dari seluruh Kabupaten Buleleng, di antaranya Kecamatan Busungbiu, Gerokgak, Kubutambahan, Banjar, Seririt, Sukasada, Buleleng, dan Sawan.

Selain itu dengan menggunakan varietas IR-64 dan Ciherang, serta dengan sistem tanam PTT tanpa legowo, hasil panen Salibu yang berarti produksi kedua dari bibit sebelumnya mencapai tujuh ton/Ha Gabah Kering Panen (GKP), hampir menyamai hasil panen bibit pertama atau produksi pertama yaitu 8,8 ton/Ha.

Hal ini sangat menarik perhatian karena petani bisa mendapatkan hasil produksi yang berkali-kali lipat tanpa harus membeli benih baru dan menghabiskan waktu untuk melakukan penyemaian baru. Karena teknologi ini hanya memanfaatkan sisa tanaman yang telah dipanen sebelumnya.




"Tahap pertama padi salibu ini sangat menggembirakan. Hasilnya tidak jauh berbeda dari konvensional. Malah kita untung karena dapat menghemat biaya produksi karena tidak perlu ongkos tanam untuk membeli benih dan penyemaian dan waktunya 50 hari lebih cepat karena ada yang bisa diputus," ujar I Wayan Sunarta.

Menurutnya program salibu ini bisa dijadikan program unggulan padi di Kabupaten Buleleng mengingat hasilnya memuaskan. Suksesnya panen raya padi teknologi salibu di Buleleng ini tidak lepas dari cara perawatan tanaman yang tepat serta pengelolaan hama dan penyakit yang cermat pada areal pertanaman.

"Aplikasi Salibu akan kami kembangkan di kecamatan lain. Dan pemerintah turut mendukung untuk meningkatkan produktivitas hasil panen," tambahnya.

Salah satu petani Buleleng, Suede, mengaku terbantu dengan adanya teknologi ini. Dirinya pun optimistis jika penggunaan teknologi salibu bisa menekan biaya produksi.

"Kendala biasanya di bagian pemeliharaan, jadi mempengaruhi hasil panen. Ke depannya setelah panen ini, kami petani akan tanam salibu lagi. Hasil panen pertama bisa dijadikan sebagai pembelajaran," ujar Suede, petani Kecamatan Busungbiu.

Budidaya padi salibu adalah salah satu inovasi teknologi untuk memacu produktivitas/ peningkatan produksi. Pada budidaya padi salibu ada beberapa faktor yang berpengaruh antara lain tinggi pemotongan batang sisa panen, varietas, kondisi air tanah setelah panen, dan pemupukan.

Padi salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen ditebas/dipangkas, tunasakan muncul dari buku yang ada di dalam tanah tunas ini akan mengeluarkan akar baru sehingga suplay hara tidak lagi tergantung pada batang lama. Tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi seperti padi tanaman pindah biasa, inilah yang membuat pertumbuhan dan produksinya sama atau lebih tinggi dibanding tanaman pertama (ibunya).

Salibu merupakan metode tanam tanpa menggunakan benih dan tanpa pengolahan lahan. Teknik salibu menggunakan bonggol tanaman padi sisa panen musim pertama sehingga lebih cepat panen.

 


(AHL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PETANI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 22-04-2018