Menkeu Formulasikan Pengembangan Dana Abadi Bisa Capai Rp100 Triliun

Suci Sedya Utami - 11 Januari 2018 15:07 wib
Menkeu Sri Mulyani MI/Susanto.
Menkeu Sri Mulyani MI/Susanto.

Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sedang memformulasikan instruksi Presiden Joko Widodo yang menginginkan agar dana abadi atau sovereign wealth fund (SWF) yang dikelola oleh lembaga pengelola dana pendidikan (LPDP) tidak untuk digunakan dalam membiayai pendidikan formal, namun juga vokasi dan penelitian.

Saat ini dirinya dan juga jajaran di Kabinet Kerja sedang memformulasikan pengembangan dana abadi di bidang pendidikan agar bisa lebih berkembang paling tidak Rp100 triliun. Posisi sekarang, dana abadi pendidikan yang dikelola Rp31 triliun.

"Kalau dia jadi satu dedicated sovereign wealth fund yang nanti proyeksi anggarannya kita bisa capai setiap tahun katakanlah Rp100 triliun berarti berapa dana yang bisa digunakan untuk pertama tradisional beasiswa S2, S3 atau vokasi, dan penelitiannya. Kemarin waktu Sidkab terbatas sudah dapat masukan dari para menteri, presiden dan wapres, ya nanti kita akan formulasikan," kata Ani di Perpusnas, Jakarta Pusat, Kamis, 11 Januari 2018.

Dirinya menjelaskan, sebetulnya apabila untuk dana vokasi pendanaannya tak tergantung pada dana kelolaan LPDP saja. Anggaran vokasi untuk mengembangkan sektor ketenagakerjaan bisa berasal daru anggaran dana pendidikan yang dikelola oleh Kemendikbud dan Kemenristek Dikti.

Sesuai mandat dalam UU APBN di mana 20 persen anggaran belanja negara dialokasikan pada bidang pendidikan yang tersebar melalui belanja pemerintah pusat, transfer daerah dan dana desa serta investasi.

Dalam realisasinya, kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, anggaraan tersebut tak sepenuhnya terserap 100 persen. Namun, meski begitu 20 persen harus tetap terjabarkan dalam setiap laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP).

Lebih lanjut, dirinya juga menekankan, agar penggunaan dana tersebut tak hanya habis hanya untuk memenuhi kuota 20 persen tersebut, namun bagaimana profit atau return yang didapatkan lebih besar lagi. Sehingga diperlukan semacam manager investasi yang profeisonal untuk mengelola dana abadi tersebut.

"Penggunaannya  enggak hanya asal habis, karena kalau tujuannya hanya akan menghabiskan 20 persen akan jadi anggaran pendidikan yang sia-sia. Jadi kita sedang cari gimana penggunaan anggaran pendidikan yang besar tergunakan dengan baik," jelas dia.





(SAW)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG DANA DESA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 20-04-2018