Rasio Kredit Bermasalah BNI Naik Jadi 2,8%

Husen Miftahudin - 12 April 2016 20:23 wib
BNI. ANTARA FOTO/R. Rekotomo.
BNI. ANTARA FOTO/R. Rekotomo.

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melaporkan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross pada akhir kuartal I-2016 sebesar 2,8 persen atau naik 0,7 persen dari posisi kuartal IV-2015 sebesar 2,1 persen. Sementara untuk NPL net kuartal I-2016 sebesar 0,9 persen.

Direktur BNI Herry Sidharta mengungkapkan, kenaikan rasio kredit bermasalah disebabkan oleh buruknya NPL di segmen kecil menengah. Menurut dia, Usaha Kecil Menengah (UKM) di sektor ritel perdagangan memiliki sumbangan terbesar meningkatnya NPL BNI.

"Itu karena segmen usaha kecil disektor ritel perdagangan yang pemberian kredit maksimal Rp15 miliar," ujar Herry, usai Konferensi Pers Paparan Kinerja BNI Kuartal I-2016, di Kantor Pusat BNI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa (12/4/2016).

Dia menjelaskan, segmen ritel skala kecil memiliki rasio NPL gross sebesar 4,46 persen. Sementara segmen menengah cukup tinggi dengan NPL sebesar 3,6 persen.

"Ini akibat ekonomi lesu dan di sektor perhotelan juga lesu," imbuhnya.

Total penyaluran kredit BNI selama kuartal I-2016 pada segmen menengah sebanyak Rp52 triliun. Sedangkan penyaluran kredit di segmen kecil mencapai Rp42 triliun.

Namun demikian, Herry berharap akan terjadi perbaikan rasio kredit bermasalah seiring dengan penurunan suku bunga kredit di segmen ritel tersebut. Seperti diketahui, pada awal April 2016 suku bunga kredit ritel telah diturunkan menjadi 9,9 persen.

"Kami harap dengan penurunan suku bunga kredit ritel produktif maka kemampuan bayar nasabah kami akan membaik, sebab sebelumnya kredit tersebut di angka 12-13 persen," pungkas Herry.


(SAW)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG BNI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 19-11-2017