Tingginya Pertumbuhan Ekonomi tak Buat Kemiskinan di Jatim Surut

Amaluddin - 12 April 2016 21:17 wib
Illustrasi. ANTARA/M Risyal Hidayat.
Illustrasi. ANTARA/M Risyal Hidayat.

Metrotvnews.com, Surabaya: Angka kemiskinan di Jawa Timur mengalami peningkatan di 2015 mencapai 4.775.000 jiwa, sedangkan pada  2014 mencapai 4.748.000 jiwa. Tingginya kemiskinan ini tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di Jatim yang terus meningkat 5,44 persen, lebih tinggi di atas nasional yang hanya 4,79 persen.

Hal itu diketahui dari hasil pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Jawa Timur tahun 2015, saat sidang paripurna di Gedung DPRD Jatim.

"Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin, akibat jumlah kemiskinan di Jatim meningkat," kata Wakil Ketua LKPJ Gubernur 2015, Agus Maimun, Jalan Indrapura, Selasa (12/04/2016).

Menurut Agus, tingginya angka kemiskinan di Jatim lantaran banyak program yang diperuntukkan untuk mengurangi kemiskinan di daerah di Jatim tidak maksimal. Akibatnya jumlah masyarakat miskin meningkat dan muncul disparitas wilayah.

Selain itu, tingginya kemiskinan ini menyangkut ketimpangan sosial di Jatim yang semakin meningkat sejak tahun 2013 sebesar 0,36 persen, tahun 2014 naik menjadi 0,37 persen dan tahun 2015 malah semakin meningkat menjadi 0,41 persen. "Parahnya lagi, kebijakan pembangunan di 38 kab/kota di Jatim tidak sejalan dengan program pemerintah provinsi," jelasnya.

Menurut dia, kab/kota di Jatim cenderung merealisasikan programnya sesuai visi dan misi yang dibawahnya saat maju dalam Pilkada. Sementara pemerintah pusat, harus melakukan revisi terhadap UU 23/2004 yang cenderung kab/kota tidak mengikuti kebijakan yang dibuat oleh pemerintah diatasnya (Pemerintah Provinsi).

"Sudah saatnya pemerintah pusat membuat regulasi yang mengatur kebijakan yang dibuat kab/kota harus sejalan dengan pemerintah diatasnya. Dengan begitu, program pemerintah bisa tuntas hingga tingkat bawah," ujarnya.

Gubernur Jatim Soekarwo, mengatakan meningkatnya jumlah kemiskinan di Jatim karena faktor ekonomi global yang sedang tidak stabil, sekaligus imbas dari peralihan pekerjaan dari manusia ke mesin yang dilakukan banyak perusahaan. Akibatnya membuat jumlah pengangguran terbuka semakin banyak.

Menurut Soekarwo, memang tidak bisa dipungkiri lagi dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu seperti saat ini akan semakin membuat jumlah kemiskinan meningkat.

"Ini tidak hanya terjadi di Jatim, tapi hampir diseluruh wilayah dan negara. Banyaknya industri yang menggunakan tenaga mesin dari pada manusia membawa dampak jumlah pengangguran setiap tahunnya meningkat," kata dia.

 


(SAW)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KEMISKINAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 19-11-2017