Kemendag: Stok Beras Capai 900 Ribu Ton

Dian Ihsan Siregar - 12 Januari 2018 19:44 wib
Ilustrasi pedagang beras. (ANTARA FOTO/Risky Andrianto)
Ilustrasi pedagang beras. (ANTARA FOTO/Risky Andrianto)

Jakarta: Kementerian Perdagangan (Kemendag)‎ mencatat stok beras yang dimiliki saat ini sekitar 900 ribu ton. Jumlah itu dianggap tidak mencukupi kebutuhan masyarakat hingga masa panen Maret 2018.

‎Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan masih minimnya stok membuat impor beras diperlukan. Alhasil, sebanyak 500 ribu ton akan didatangkan dari Vietnam dan Thailand.

"Setahu saya sudah berada di sekitar 900 ribuan ton. Dan keluarnya hampir setiap hari 13 ribu ton sampai 15 ribu ton. Karena untuk memasok pasar-pasar untuk ketersediaan dan stabilisasi," kata Oke, ‎ditemui di Gedung Kemendag, Jakarta, Jumat, 12 Januari 2018.

Oleh karena itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita akan melakukan impor beras dengan menunjuk PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero). Dana impor beras sudah dialokasikan oleh PPI tidak didapatkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Itu pasti (tidak dari APBN). PPI itu menjadi pintu, sehingga kita bisa mengatur. Mereka bisa bermitra dengan pengusaha beras.‎ Beras harus dijual (dengan harga) medium. Kalau rugi dikit nanti kita kasih ke yang lain," kata Enggartiasto.

Impor beras sebanyak 500 ribu ton akan mulai masuk di akhir Januari 2018.‎ "Untuk mengisi gap ini, saya tidak mau mengambil risiko kekurangan pasokan saya mengimpor beras khusus. Yang diimpor 500 ribu ton, awalnya," kata dia.

Beras tersebut akan dipasok dari dua negara yakni Thailand dan Vietnam. Tapi, dia memastikan beras yang diimpor ini bukan jenis beras yang sudah mampu diproduksi di Indonesia.

"Dari berbagai negara yang ada. Dari Vietnam, Thailand, kita masukkan.‎ Beras yang tidak ditanam di dalam negeri. ‎Beras IR64 tidak kami impor, tetapi kami memasok beras impor," tutur politisi dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) ini.

Enggar menambahhkan rentang waktu ribuan ton beras khusus yang akan diimpor akhir Januari 2018 ini diyakini tidak mengganggu petani saat musim panen tiba di Februari 2018. "Kita jual dengan harga medium, kita tak ingin mengambil risiko dan ada pertentangan karena petani juga adalah konsumen membeli beras dan tidak boleh ada terjadi kekosongan pasokan," tutur dia.

‎Sebelumnya Menteri Pertanian Amran Sulaiman optimistis stok pangan nasional aman, setidaknya periode Januari-April 2018. Bahkan, menurut dia, stok beras akan surplus.

"Insyaallah stok kita aman, kurang lebih satu juta ton. Kalau stok satu juta di September, itu kita harus hati-hati. Tapi stok satu juta jatuh di Januari, itu tidak ada masalah," kata Amran belum lama ini saat kunjungan kerja ke sawah di Kecamatan Karawang Barat.

Amran menyampaikan, sekitar satu juta hektare (ha) padi di seluruh Indonesia panen pada Januari ini. Pada Februari, akan panen 1,7 juta ha padi, Maret 2,1 juta ha, April kurang lebih dua juta ha. "Januari surplus, Februari apalagi," ujar Amran.

Menurut Amran, yang sekarang disiapkan Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Badan Urusan Logistik, yakni menghadapi puncak musim panen. Dia mengatakan, di musim panen stok beras akan melimpah.

"Karena surplusnya untuk Jawa Barat saja 800 ribu ton, Jawa Timur 1 juta ton. Ini harus diserap, supaya petani menikmati harga yang baik," sebut Amran.

 


(AHL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG STOK BERAS
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 23-01-2018