Kerek Bisnis, BNI Suntik Modal Rp1 Triliun ke BNI Syariah

Dian Ihsan Siregar - 12 Oktober 2017 20:28 wib
BNI Syariah membidik pengembangan wisata halal. (MI/RAMDANI).
BNI Syariah membidik pengembangan wisata halal. (MI/RAMDANI).

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terus menyokong kinerja bisnis anak usahanya. Salah satu langkahnya dengan menyuntikkan modal atau dana segar.

Menurut Direktur Keuangan dan Risiko Kredit BNI Rico Rizal Budidarmo, perseroan telah menyiapkan dana sebesar Rp1 triliun untuk dikucurkan ke PT BNI Syariah. Sehingga, BNI Syariah memiliki tambahan modal dalam menjalankan bisnis.

"Penambahan modal ke BNI Syariah sebesar Rp1 triliun di tahun ini," ujar Rico, ditemui usai paparan publik kinerja kuartal III di kantor pusat BNI, Jakarta, Kamis 12 Oktober 2017.

Alasan perusahaan menambah modal ke anak usaha, ‎tutur Rico, agar BNI Syariah bisa leluasa dalam menjalankan bisnis, khususnya menyalurkan kredit di sepanjang 2018.

‎"Kami sedang melakukan kajian soal ini. Kita suntikkan modal Rp1 triliun di tahun ini," pungkas Rico.

Pada s‎aat ini, fokus bisnis BNI Syariah lebih banyak ke segmen menegah kecil dan konsumer. Guna memperkuat bisnis dan kinerja BNI Syariah, BNI sebagai induk usaha segera melakukan penambahan modal.

‎Adapun rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing finance (NPF) BNI Syariah dianggap masih terjaga dengan baik. Dengan demikian, adanya penambahan modal tersebut diharapkan dapat menopang kinerja BNI Syariah lebih baik lagi.

Kinerja BNI Syariah

BNI Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp165 miliar sampai dengan semester I-2017. Raihan laba ini mengalami pertumbuhan sebesar 13 persen dibandingkan dengan periode Juni tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp146 miliar.

"Pertumbuhan laba tersebut pada satu sisi disokong oleh ekspansi pembiayaan dan kontribusi komposisi rasio dana murah serta efisiensi operasional yang juga terus terjaga," ungkap Plt Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo.

Perseroan mencatatkan pertumbuhan aset secara year on year (yoy) naik sbeesar 19,7 persen dari Rp25,7 triliun pada Juni tahun lalu menjadi sebesar Rp30,7 triliun. Pertumbuhan aset ini didorong oleh pertumbuhan pada pembiayaan sebesar 18,8 persen dan Dana Pihak Ketiga (DPK) 22,1 persen terhadap posisi tahun sebelumnya periode yang sama.

"Dengan tetap menjunjung semangat ber-Hasanah di 2017, kami bersyukur kinerja BNI Syariah pada kuartal kedua pada sisi aset juga berjalan cukup optimal. Ini sebagaimana terlihat dari pertumbuhan aset serta DPK BNI Syariah sampai sejauh ini," jelas dia.

Pembiayaan pada Juni 2016 sebesar Rp18,9 triliun atau tumbuh menjadi Rp22,5 triliun pada Juni tahun ini. Di sisi lain DPK pada Juni tahun lalu sebesar Rp21,8 triliun meningkat menjadi Rp26,7 triliun dengan rasio dana murah (CASA) sebesar 47,6 persen dibandingkan 47,1 persen di tahun sebelumnya.

Dari total pembiayaan tersebut, sebagian besar merupakan pembiayaan konsumer sebesar 51,9 persen, kemudian pembiayaan ritel produktif (UMKM) sebesar 21,7 persen, pembiayaan komersial 19,3 persen, pembiayaan mikro 5,6 persen, dan kartu pembiayaan Hasanah Card 1,5 persen. Dari pembiayaan konsumer, portofolio BNI Griya iB Hasanah sebesar 84,9 persen.



(SAW)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG BNI SYARIAH
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 13-12-2017