DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 45.764.339.104 (19 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Faktor yang Memengaruhi Peningkatan Pembelanja Online

M Studio - 10 Januari 2018 11:38 wib
(Foto:Shutterstock)
(Foto:Shutterstock)

Jakarta: Tidak bisa dipungkiri, Asia menjadi salah satu kawasan dengan jumlah pembelanja online yang terus meningkat. Khusus untuk wilayah Asia Tenggara, Indonesia memiliki jumlah populasi terbesar, sehingga menjadikannya target utama pelaku e-commerce dunia.
 
Selain Indonesia, tiga negara lainnya yaitu Thailand, Malaysia dan Filipina juga mengalami pergerakan e-commerce cukup pesat sehingga keempat negara tersebut dijuluki sebagai  "Asian Tiger Cubs."
 
Salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan ialah hubungan e-commerce terhadap tren yang terjadi. Sejauh mana tren ini berperan dalam meningkatkan jumlah pembelanja online? Ada 6 faktor yang mempengaruhi.
 
1. Peningkatan jumlah pengguna mobile internet
 
Salah satu tren yang cukup membawa perubahan pada pergerakan e-commerce di kawasan Asian Tiger Cubs adalah pesatnya pertumbuhan pengguna internet.
 
 
 
Dari jumlah pengguna internet Asian Tiger Cubs, sebagian besar mengakses melalui smartphone (mobile internet). Fakta ini berdasarkan data pengguna yang dihimpun oleh Priceza sejak Januari hingga November 2017.
 
Tren e-commerce Asian Tiger Cubs cenderung menuju ke arah mobile internet. Jumlah pengguna yang mengakses Priceza melalui smartphone terus meningkat.
 
Data ini didukung juga oleh gaya hidup generasi milenial yang mengedepankan keterbukaan, dalam hal ini keterbukaan terhadap teknologi. Pembeli online kini lebih pintar dalam berbelanja. Mereka cenderung mencari informasi secara mandiri sebelum akhirnya memutuskan membeli.
 
 
2. Model omnichannel mulai diperhatikan
 
Tren yang mulai diadopsi oleh pelaku e-commerce saat ini adalah omnichannel yang menggabungkan antara commerce tradisional dan e-commerce.
 
Artinya, mereka tidak hanya fokus pada satu channel distribusi saja dalam menjual produk dan jasa, namun memanfaatkan media offline (toko fisik/retail) dan online (online shop) secara bersamaan untuk menciptakan keseimbangan bisnis.
 
Omnichannel sudah menjadi tren di Amerika dan Tiongkok. Untuk Asia Tenggara, khususnya kawasan Asian Tiger Cubs, baru saja melakukan pemanasan untuk memulai model bisnis ini. Di Indonesia sendiri, MatahariMall adalah salah satu contoh bagaimana model bisnis ini bisa sukses dilakukan.
 
 
3. Pengiriman barang yang cepat
 
Selain itu, pengiriman dalam waktu cepat juga mulai menjadi tren e-commerce. Di Indonesia, beberapa pelaku e-commerce, bekerja sama dengan penyedia layanan antar untuk melakukan pengiriman barang. Sebut saja Go-Jek yang melakukan layanan antar barang dari partner e-commerce mereka.
 
Di Thailand pun ada jasa kurir Kerry Express yang bekerja sama dengan e-commerce setempat untuk melakukan pengiriman barang langsung kepada pembeli. Tren pengiriman cepat ini tentunya untuk menjawab kebutuhan konsumen.
 
 
4. Uang fisik digantikan e-payment
 
Indonesia, Thailand, Malaysia dan Fiilipina sedang menuju ke arah cash-less society, dimana berbelanja dengan uang fisik, tidak lagi menjadi keharusan.
 
Kemudahan dalam melakukan pembayaran telah ditawarkan oleh berbagai startup fintech. Walau pada kenyataannya, pembayaran melalui transfer bank dan cash-on-delivery (COD) masih tetap menjadi yang terpopuler.
 
 
5. Jual beli antar negara
 
Kawasan Asian Tiger Cubs umumnya menggemari fashion, otomotif dan gadget. Hal ini terlihat dari kategori yang paling banyak dipilih oleh pengguna Priceza. Kita ambil contoh di Indonesia dan Filipina, fashion dan otomotif adalah kategori terpopuler di kedua negara ini.
 
Berdasarkan data selama 11 bulan terakhir (Januari–November 2017), minat pada kategori fashion di Indonesia mencapai hingga 27persen, yang mewakili jumlah total klik di Priceza, disusul dengan otomotif sebanyak 16 persen dan 12 persen untuk smartphone.
 
Sementara untuk Filipina, yang walau jumlahnya lebih kecil, yaitu 19 persen untuk fashion, 14 persen untuk otomotif dan 11 persen untuk elektronik, dari total jumlah klik, namun membuktikan bahwa minat pembelanja online-nya tidak jauh berbeda.
 
Lain halnya dengan Malaysia, dimana otomotif menjadi kategori paling populer, dengan angka 17 persen, yang diikuti oleh makanan (15 persen) dan fashion (14 persen).
 
Pasar Thailand lebih unik lagi. Kategori terpopulernya adalah jimat dan barang antik (19 persen), yang diikuti dengan fashion (12 persen) dan smartphone (11 persen).
 


Data-data tersebut menunjukkan bahwa ada peluang untuk melakukan aktivitas jual beli antar negara karena adanya kesamaan minat. Bicara tentang tren di dunia gadget misalnya, kehadiran platform mesin pencari belanja (shopping search engine) seperti Priceza, memungkinkan pembeli untuk membandingkan harga produk yang sama di negara lain.
 
Tren jual beli antar negara, atau lebih dikenal dengan istilah cross-border e-commerce, diperdiksi akan terus meningkat.
 
Contoh konkret dari adanya cross-border e-commerce ini adalah munculnya konsumen atau pembeli dari Indonesia yang berbelanja kebutuhan ke negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia, bahkan Singapura, hanya untuk membeli spare parts motor atau ingin buru-buru memiliki smartphone keluaran terbaru yang belum rilis di Indonesia.
 

 
Peluang ini dilirik juga oleh pelaku e-commerce yang tidak memiliki perwakilan di kawasan Asian Tiger Cubs, untuk menjual produk mereka dan menawarkan jasa pengiriman antar negara.
 
Menurut data Priceza, perbandingan jumlah rata-rata uang yang dihabiskan oleh pembelanja online dalam sekali transaksi adalah Rp820 ribu (Indonesia), Rp750 ribu (Thailand), Rp1,1 juta (Malaysia), dan Rp920 ribu (Filipina).
 

6. Berbelanja melalui media sosial
 
Di Thailand, sekitar 50 persen pembelanja online melakukan proses pembelian melalui media sosial. Ini sekaligus menjadikan Negara Gajah Putih tersebut sebagai pasar social commerce terbesar di dunia. Jadi, wajar bila Facebook menjadikan Thailand sebagai negara pertama untuk tes pasar Facebook Shop.
 
Sistem seperti ini tampaknya belum bisa diterapkan di Indonesia, karena masyarakat kita masih skeptis terhadap belanja online. Ajang-ajang belanja besar seperti Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), bahkan menempatkan edukasi belanja online sebagai salah satu misi utama mereka.
 

 
Pembeli kini lebih cerdas dalam berbelanja online. Hal ini didasari oleh persaingan yang ketat di antara para pelaku e-commerce itu sendiri. Tentunya ini menjadi pemacu semangat, sekaligus tantangan bagi perusahaan kecil. Bila mereka bisa melihat ini sebagai kesempatan, maka mereka bisa dengan mudah masuk ke segmen pasar dan menawarkan solusi terbaik bagi pembeli.
 
Lalu, dengan semakin majunya e-commerce, apakah lantas akan mematikan kehadiran toko fisik? Jawabannya bisa ya, dan tidak.
 
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nielsen, empat kunci untuk menjadi pemenang dalam lingkungan e-commerce yang berubah dengan cepat adalah ketangkasan, fleksibilitas, mampu mempengaruhi, dan daya tarik.
 
Tanda-tanda sepinya bisnis retail memang sudah terlihat, terutama di Indonesia, namun hal ini bukan semata akibat kehadiran e-commerce saja. Beberapa faktor lain juga mempengaruhi, termasuk kondisi ekonomi yang menyebabkan biaya operasional naik.
 
Membuka toko online bisa menjadi pilihan untuk menekan biaya operasional, namun pelaku e-commerce tidak selamanya bisa bergantung pada pilihan ini. Untuk itulah, keseimbangan antara offline dan online tetap diperlukan, dan tentunya, selalu terbuka dan mampu menyesuaikan dengan segala perubahan.


(ROS)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG STARTUP
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 20-10-2018