Lirik Properti & Emas, Masyarakat Mulai Alihkan Dana dari Perbankan

Dian Ihsan Siregar - 14 November 2017 17:02 wib
 Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari.
Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari.

Jakarta: Suku bunga tabungan berjangka (deposito) terus mengalami penyusutan. Bayangkan saja, rata-rata perbankan memberi bunga deposito di sekitar 4-5 persen.

Bunga deposito perbankan yang terus menurun, menurut Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti, membuat masyarakat berpikir untuk mengalihkan ke instrumen investasi lain. Karena, masyarakat menginginkan investasi yang lebih menguntungkan dan risikonya tidak terlalu tinggi.

"Bisa saja masyarakat tidak memasukkan uang lagi ke deposito. Sebenarnya itu wajar, kalau melihat bunga deposito yang terus turun dan makin rendah," ujar Destry di acara 'UOB Indonesia's Economic Outlook 2018', di Hotel Shangri-La, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa 14 November 2017.

Alternatif investasi, tutur Destry, karena masyarakat bakal lebih tertarik ke emas dan properti.

"Masyarakat akan cari alternatif ke investasi lain kalau bunga deposito paling tinggi empat persen, seperti emas, tapi mulai geliat ekonominya masuk ke properti," ungkap Destry.

Meski bunga deposito turun, dia mengaku, masih banyak masyarakat yang menyimpan bunganya di perbankan. Sebab, kelompok menengah menjadi penyumbang besar kenaikan tingkat DPK perbankan di September 2017.

Dari data Bank Indonesia (BI), uang beredar tercatat Rp4.992 triliun per September 2017, tumbuh 11,1 persen dibandingkan periode bulan sebelumnya 9,4 persen. Angka itu tumbuhm meski bunga simpanan terus mengalami penyusutan.

Untuk simpanan jenis giro per September 2017 tercatat Rp1.110 triliun tumbuh 12,1 persen jika dibandingkan periode Agustus 2017 8,9 persen. Simpanan jenis tabungan, tercatat Rp1.592 triliun atau tumbuh 10,1 persen dibandingkan periode Agustus 8,5 persen.

Kemudian, simpanan deposito atau tabungan berjangka tercatat Rp2.290 triliun atau tumbuh 11,3 persen dibandingkan periode bulan sebelumnya 10,3 persen. Dari jenis mata uang, DPK dalam rupiah tercatat Rp4.288 triliun, sedangkan DPK valuta asing Rp704 miliar.

"Ini terjadi karena ekonomi Indonesia yang dinilai agak menarik. Di satu sisi kayaknya turun, tapi di sisi lain DPK naik kencang," pungkas Destry.


(SAW)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG INVESTASI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 25-11-2017