Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.641.144.273 (17 JULI 2018)

Stabilitas Harga Pangan saat Lebaran Diapresiasi

- 21 Juni 2018 22:39 wib
Ilustrasi bahan pokok. Foto: Antara/Wahyu Putro
Ilustrasi bahan pokok. Foto: Antara/Wahyu Putro

Jakarta: Stabilitas harga pangan yang terjaga pada momen menjelang hingga pasca-Idulfitri dinilai sebagai keberhasilan yang dicapai pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Capaian ini, menurut pengamat dan pelaku usaha, berkontribusi menciptakan kondusivitas politik. Walhasil, proses pembangunan dapat berjalan lebih baik ke depan. 
 
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, memandang stabilitas pangan ini timbul dikarenakan pemerintah telah mengantisipasi kebutuhan masyarakat sejak lebih dari tiga bulan sebelum Idulfitri.
 
Sarman mengatakan stabilnya harga pangan dikarenakan pemerintah pusat, melalui Kementerian Perdagangan yang dibantu Satgas Pangan, proaktif memantau pendistribusian berbagai barang kebutuhan pokok. Dengan demikian, aliran distribusi menjadi lancar dan isu terkait kekurangan bahan pokok bisa kurangi. Dampak akhirnya, kata dia, harga pun tidak bergejolak.
 
“Kita harus mengapresiasi kinerja itu, termasuk pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan,” kata dia, melalui keterangan tertulis, 21 Juni 2018.
 
Pemantauan rutin yang dilakukan pemerintah diyakini pula menggerus upaya mafia pangan yang kerap memanfaatkan momentum Lebaran untuk mencari untung. Terlebih Kementerian Perdagangan, pemerintah daerah, beserta Bulog gemar melakukan operasi pasar guna menekan harga.
 
“Kalau demand dan supply itu seimbang, kita yakin bahwa harga tidak bergejolak. Kita lihat hasilnya saat ini bahwa ketika menjelang Lebaran harga-harga bahan pokok itu pada posisi stabil. Stabil bukan berarti tidak naik,” tutur Sarman.

Baca: Sehari Jelang Lebaran, Pasokan dan Harga Pangan Stabil
 
Sarman mengapresiasi pola komunikasi Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang kerap memanggil para importir untuk memastikan izin dan penyaluran agar sesuai. Langkah ini dianggap mampu menghilangkan mafia-mafia importir yang kerap menyalahgunakan izin impornya.
 
Melalui dialog dengan para importir ini, kata dia, kementerian jadi bisa mengetahui total berapa izin impor yang didapat para importir. Dari sana, langkah selanjutnya bisa ditanyakan volume pendistribusian barang yang sudah impor kepada masyarakat. Jika ada yang tidak tepat, bisa segera diketahui dan ditindak. 

"Dikombinasikan dengan pemantauan yang rutin, stok di pasar menjadi kian terjaga," kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) ini.

Sudah transparan
 
Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adriana Elisabeth menyampaikan hal senada. Ia mengatakan keadaan ini membuat stabilitas politik cukup terjaga sehingga proses pembangunan dapat berjalan lebih baik. 

“Saya pikir ini sebuah kemajuan yang patut diapresiasi yah,” ucapnya.

Kemajuan di sektor pangan yang mampu meredam gejolak kenaikan harga komoditas pangan, khususnya pada saat menjelang hingga pascaperayaan Idulfitri, menurut Adriana, harus diakui sebagai sebuah keberhasilan di era pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

“Ini merupakan salah satu keberhasilan pembangunan dari pemerintah sekarang. Itu harus diakui adanya,” kata Adriana.

Ketersediaan kebutuhan pokok yang memadai, tambah dia, pun berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia dan stabilitas sosial politik sebagai prasyarat untuk melaksanakan pembangunan.

“Repotnya kalau tahun politik kan biasanya semua bisa digunakan sebagai alat untuk menyerang kebijakan pemerintah. Kekurangannya lebih diungkap daripada keberhasilan,” katanya.

Adriana memandang pemerintah sekarang bahkan sudah  transparan dan terbuka sehingga keberhasilan dan kekurangannya pun bisa mudah diketahui. Oleh karenanya, Adriana berharap pemerintah sekarang dapat terus konsisten dan lebih baik lagi dari tahun ke tahun. 

Baca: Harga Pangan Stabil di Pertengahan Ramadan

Mengacu pada indikator harga di hargapangan.id, kisaran harga bahan pokok sehari menjelang Lebaran memang tidak tampak melonjak. Harga cabai merah yang cenderung melambung terpantau masih di kisaran Rp66.450 secara nasional.
 
Harga beras, meski naik, tidak juga melonjak karena berada di kisaran Rp11.900. Harga bawang putih yang tahun lalu sempat menyentuh Rp80 ribu menjelang Lebaran, di tahun ini hanya terpatok Rp32.800 sehari menjelang hari raya. Begitu halnya dengan harga daging yang cenderung turun.

Terhadap fluktuatifnya harga, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan pasokan bahan pangan pasca-Lebaran tahun ini relatif aman.

Abdullah mengatakan pasokan pangan masih terus disuplai ke pasar-pasar tradisional. Menurutnya, selama ini belum ada kendala untuk ketersediaan bahan pangan, kecuali ayam yang pasokannya tidak banyak.




(UWA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG IDULFITRI 1439 H
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 19-07-2018