DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 45.764.339.104 (19 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Kementan: Harga Ayam di Pedagang Harusnya Stabil

M Studio - 13 Februari 2018 11:54 wib
(Foto:Dok.Kementan)
(Foto:Dok.Kementan)

Jakarta: Terkait isu kenaikan harga ayam di pasar, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Peternakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fini Murfiani mengatakan, harga ayam di tingkat peternak saat ini stabil, sehingga tidak mungkin ada kenaikan harga yang tidak wajar.

Fini Murfiani mengimbau agar media massa berhati-hati menyampaikan informasi, terutama pemberitaan ke masyarakat terkait harga. 

“Ini tentunya sangat berbahaya jika belum tentu kebenarannya atau tanpa penjelasan yang lengkap, misalnya dijelaskan harga dijual dalam satuan apakah kg atau per ekor,” kata Fini Murfiani, saat menanggapi pemberitaan terkait naiknya harga ayam hingga menembus Rp60 ribu di sebuah media masa. 

"Kami tentunya khawatir karena akan berdampak terhadap munculnya spekulan-spekulan yang mempermainkan harga yang akan berdampak ke masyarakat, terutama konsumen,” ucap Fini Murfiani.

Untuk mengetahui kondisi di lapangan, Fini Murfiani selaku Direktur Pengolahan dan Pemasaran Peternakan telah menurunkan Timnya yang terdiri Analis Pemasaran Hasil Peternakan (APHP) dan PIP (Petugas Informasi Pasar) untuk melakukan pengecekan langsung ke Pasar Ciracas yang terdiri dari 26 los pedagang karkas daging ayam broiler. Pengecekan dilakukan untuk memastikan harga jual ayam di pedagang, sebagaimana yang diberitakan sebelumnya telah menembus harga Rp60 ribu. 

“Kami langsung turunkan Tim ke lapangan untuk memantau kebenaran informasi tersebut untuk mengetahui apa yang terjadi di lapangan. Hal ini mengingat harga ayam hidup di kandang saat ini masih stabil,” kata Fini Murfiani.

Tim berhasil mewawancarai beberapa pedagang. Berdasarkan wawancara dengan pedagang bernama Haris diperoleh informasi, harga penjualan ayam dilakukan sesuai dengan ukuran/bobot karkas daging ayam, bobot karkas daging ayam dengan ukuran 1 kg dijual seharga Rp37 ribu per ekor, ayam ukuran 1,5 kg  Rp40 ribu per ekor, untuk ayam ukuran 1,6 kg harga yang ditawarkan kepada konsumen Rp42 ribu per ekor, dan untuk ukuran 1 kg Rp37 ribu per ekor.

Sementara, menurut informasi dari pedagang ayam bernama Tanti, dia menjual karkas daging ayam seukuran  1,2 kg seharga Rp40 ribu per ekor, dan karkas ayam dengan ukuran 1,5 kg dijual seharga Rp43 ribu per ekor. Barang dagangan Tanti dipasok dari agen pedagang di Cipayung yang mengambil ayam dari kandang peternak langsung, kemudian ayam dibagikan ke pedagang pasar dengan marjin yang diambil oleh pedagang pengumpul ke pedagang pasar sekitar Rp5 ribu per ekor. Rata-rata ayam yang dijual oleh Ibu tanti per hari sebanyak 80 ekor.

Pedagang lain bernama Agus menjelaskan, dia hari ini menjual karkas daging ayam broiler dengan ukuran ayam 1,3 kg dengan harga Rp40 ribu per ekor, dan untuk karkas ayam dengan ukuran 9 ons dibanderol dengan harga Rp27 ribu per ekor.

Menurut Agus, rantai distribusi saat ini yang diikuti oleh pedagang ayam di pasar yaitu dari peternak ke pedagang pengumpul, lalu ke pedagang eceran di pasar untuk dijual ke konsumen. 

“Ayam yang didistribusikan oleh pedagang pengumpul masih dalam bentuk ayam hidup. Pedagang pengecer tidak mengambil ayam di RPHU, karena pedagang hanya mampu menjual ayam dalam jumlah sedikit, yaitu sekitar 60-80 ekor per hari,” jelasnya. 

Agus menjelaskan, pedagang tidak langsung mengambil di RPHU karena adanya perbedaan sistem penjualan di RPHU menjual dengan sistem per kg, sedangkan pedagang menjual di pasar dengan harga per ekor. Lebih lanjut Agus menceritakan, alasan lain yaitu bahwa pedagang tidak bisa memilih kondisi ayam yang dibeli ketika mengambil ayam di RPHU, sehingga pedagang yakin ayam yang dipotong dalam keadaan sehat.

Dari hasil wawancara dengan beberapa pedagang Fini mengungkapkan, kebanyakan pedagang membeli ayam dari pedagang pengumpul untuk ukuran besar lebih dari 2 kg, yaitu sebesar Rp23 ribu per ekor ayam hidup. 

"Untuk ukuran sedang dan kecil yaitu 1-1,5 kg harga jual di pedagang pengumpul Rp25 ribu per ekor. Ukuran kecil lebih mahal karena konsumen rumah tangga yang membeli di pasar lebih banyak membeli yang sedang atau kecil, sedangkan ukuran besar biasanya dijual untuk catering dan rumah makan,” kata Fini.

Lebih lanjut disampaikan, harga jual di pedagang pengumpul belum termasuk ongkos potong hingga jadi bersih tanpa bulu dan jeroan di pasar, yang mencapai per ekor sebesar Rp1.000-1.500. “Ongkos potong ini biasanya dibebankan ke pedagang pengecer ayam,” ucapnya.  Rata-rata susut ayam hidup setelah dipotong tanpa bulu dan jeroan sebesar 0,5 kg, namun jeroan yang ada merupakan keuntungan bagi pedagang karena dapat dijual kembali.

Ditemui secara terpisah, Ketua PINSAR (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia) Singgih Januratmoko mengatakan, informasi mengenai naiknya harga ayam hingga menembus Rp60 ribu per ekor dalam sebuah media masa masih belum terlalu jelas, artinya dalam berita tersebut tidak disebutkan ukuran besar dan kecilnya. "Kalau yang besar ukurannya 2 kg per ekor mungkin benar harga di pasar mencapai Rp60 ribu per ekor, sehingga per kilo hanya Rp30 ribu," ucap Singgih.

Lebih lanjut Singgih menjelaskan, berdasarkan pengecekan ke beberapa anggota PINSAR lain yang menjual karkas dan filet, harga karkas kisarannya masih Rp35 ribu, dan untuk filet Rp50 ribu. Sementara, untuk harga di supermarket masih berkisar Rp35 ribu-40 ribu, dan di pasar tradisional Rp36 ribu-38 ribu. Singgih menyebutkan, harga  ayam di kandang dihargai Rp17 ribu-Rp19 ribu per kg hidup. 

“Jadi, secara hitungan harga di pasar maksimal seharusnya sebesar Rp32 ribu–Rp34 ribu per kg,” kata dia.


(ROS)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG BERITA KEMENTAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MIKRO
MORE
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
MOST COMMENTED
POPULAR FOTO
ADVERTISEMENT

Sun , 21-10-2018