Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.387.516.226 (18 JUNI 2018)

Sutradara "Hantu" Teror Industri Film Indonesia

Purba Wirastama - 12 Juni 2018 11:57 wib
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Lazimnya, film disutradarai atau diarahkan oleh satu sutradara. Ada kalanya, kemudi ini dibagi kepada dua atau tiga nahkoda sekaligus karena berbagai alasan. Saat itu, kata "co-director" dipakai untuk menyebut bahwa sineas terkait bukanlah satu-satunya sutradara di situ. 

Namun ada kasus tertentu, di mana film digarap "dua sutradara," tetapi diklaim sebagai karya salah satu saja yang namanya tercantum sebagai sutradara resmi. Seringkali, sutradara resmi justru tidak ikut syuting dan tugas-tugasnya dikerjakan seseorang yang diakui sekadar sebagai co-director atau justru asisten sutradara.

Begitulah klaim yang diajukan oleh penulis-sutradara Joko Anwar dalam beberapa pekan terakhir di Twitter. Menurut Joko, praktik seperti ini adalah sesat dan masih terjadi hingga sekarang dalam perfilman Indonesia. Penonton dirugikan. 

"Banyak sutradara resmi, namanya tercantum dalam credit title, hanya melakukan sebagian dari tugas, yang seharusnya dia emban sepenuhnya sebagai sutradara," kicau @jokoanwar pada Minggu, 27 Mei lalu.

"Film, sekalipun kerja kolektif, adalah hasil visi seorang sutradara. Jika sutradara tidak hadir secara fisik dan intelektual, film akan menjadi produk yang compang-camping. Yang dirugikan tentu adalah penonton," sambungnya dalam kicauan lain.

Pada hari lain, Joko membahas lagi masalah ini. Poin utamanya tetap sama, yaitu soal sutradara yang tidak bekerja sesuai porsinya dan klaim yang tidak jujur atas karya. 

"Banyak yang enggak paham penyutradaraan, terus ngaku-ngaku jadi sutradara, film jadi, terkenal, dapat duit," kicaunya. 

Beberapa sineas sepakat dengan penilaian Joko. Dua di antaranya Paul Agusta dan Robert Ronny. Paul menyebut bahwa ada beberapa penyakit dalam industri film lokal. 

"Tidak perlu ada yang merasa diserang, akui saja kekurangan ini, mulai benahi, dan sembuhkan industri sebelum penyakit ini menjadi norma," kicau Paul lewat akun @Paul_Agusta.

Robert menyebut bahwa produser film punya peran besar dalam praktik semacam itu. Menurutnya, sebagian produser memang merekrut sutradara ternama dan memakai namanya sebagai materi jualan. Namun penyutradaraan belum tentu dikerjakan sepenuhnya oleh sutradara terkait. 

"Dua hal terzolimi," turut Robert kepada Medcom.id saat ditemui terpisah.

"Pertama, penipuan profesi karena sutradaranya enggak pernah nongol. Kedua, kasihan sutradara yang betulan, cuma ditulis sebagai co-director. Kalau filmnya bagus, yang mendapat credit (pengakuan publik) yang namanya ada resmi. Kalau filmnya jelek, yang disalahkan (co-director). Enggak adil," lanjutnya. 


Film-film dengan Dua Sutradara   

Salah satu film dengan dua sutradara yang paling mudah diingat mungkin adalah Jelangkung (2001) dan Jailangkung (2017). Keduanya diarahkan Jose Poernomo dan Rizal Mantovani. 

Saat membuat Jailangkung tahun lalu, Jose menyebut bahwa mereka sudah saling tahu porsi masing-masing. Jose fokus ke fotografi dan Rizal ke soal artistik. Untuk pengarahan adegan, mereka berbagi. 

"Ini (kami) berkolaborasi bersama bikin satu film. Jadi ketika nge-direct berdua, justru gantian," kata Jose dalam salah satu sesi jumpa pers tahun lalu sebelum Jailangkung dirilis di bioskop. 

Ada juga Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto yang sempat akrab disebut dalam entitas Mo Brothers. Mereka berbagi kursi sutradara dalam Rumah Dara, Killer, dan Headshot. Sebelum Iblis Menjemput adalah debut penyutradaraan solo bagi Timo. 

Robert adalah salah satu produser eksekutif Jailangkung 1 dan 2. Dia membawa bendera rumah produksi Legacy Pictures. Selain kedua film itu, Legacy juga ikut membuat Critical Eleven dan Kartini. Keduanya melibatkan dua sutradara. 

Critical Eleven disutradarai Monty Tiwa dan Robert. Kartini disutradarai Hanung Bramantyo, tetapi juga menyebut status Pritagita Arianegara sebagai co-director. 

Namun Robert mengklaim, tidak ada film produksinya yang menganut "paham sesat" seperti diungkapkan Joko. Ini mengisyaratkan bahwa peran "co-director" untuk Kartini tidak sebesar sutradaranya. 

"Saya enggak mau melakukan itu. Siapapun yang saya rekrut sebagai sutradara, memang harus jadi sutradara. Kalau enggak, ya saya pecat," kata Robert.

"Jadi, keputusan akhir di tangan produser memang betul. Kalau produser enggak benar, sistemnya juga enggak benar. Saya yakin, sutradara yang benar enggak mau melakukan hal itu. Produser benar enggak mau melakukan hal itu," lanjutnya.

Selain mereka, ada banyak kolaborasi lain. Starvision Plus misalnya, punya banyak proyek film cerita yang digarap dua sutradara. Namun menurut produser Chand Parwez Servia, kolaborasi itu dibedakan menjadi dua jenis.

Pertama adalah relasi seperti Jose dan Rizal, antara lain Kemal Palevi & Jovial da Lopez (Youtubers), Monty Tiwa & Soleh Solihun (Mau Jadi Apa?), Monty & Robert (Critical Eleven), Fajar Bustomi & Angling Sagaran (From London to Bali), serta Fajar Nugros & Bayu Skak (Yowis Ben). 

Dalam kasus Yowis Ben, menurut data Katalog Film Indonesia, bahkan masih ada peran co-director yang ditempati oleh Yogi Supra. 

Kedua adalah relasi antara director dengan co-director. Dalam produksi mereka, kata Parwez, tugas co-director adalah membantu sutradara dalam sebagian kecil aspek. Salah satunya, jika sutradara ikut bermain, co-director menjadi pengganti sutradara di kursi monitor.

Misalnya Adink Liwutang untuk Ernest Prakasa (Ngenest, Cek Toko Sebelah, Susah Sinyal), Adink untuk Patrick Effendy (Ada Cinta di SMA), Dona Roy Sandra untuk Hestu Saputra (Hujan Bulan Juni), dan Raymond Handaya untuk Pandji (Partikelir).

"Macam-macam. Ada co-director yang membantu teknis, ada yang membantu aspek psikologi cerita," terang Parwez kepada Medcom.id melalui telepon.

Namun Parwez sendiri menyatakan dalam proyek film produksinya tidak terjadi hal seperti yang diungkap oleh Joko. 

"Di Starvision, tidak terjadi itu. Dalam produksi saya, seorang sutradara adalah komandan tertinggi. Dia mempertanggungjawabkan karya filmnya," akunya.

"Kalau sutradara dua, kami sebut sutradaranya dua. Kalau co-director adalah co-director. Ernest sebagai sutradara, pada saat dia berperan, enggak mungkin bisa memonitor. Itu butuh co-director," imbuh Parwez memberikan contoh.

Falcon Pictures punya banyak film hasil garapan dua sutradara atau setidaknya melibatkan peran co-director. Ada 10 film, mulai dari Faza Meonk & Deasy Buana (Si Juki), Fajar Bustomi & Andreas Sullivan (Surat Kecil untuk Tuhan), Hanung & X.Jo (Jomblo), serta Hanung & Senoaji Julius (Benyamin Biang Kerok).

Dari rumah produksi lain, ada kolaborasi Kemal Palevi & Lola Lestania (Abdullah & Takeshi), Anggy & Bounty (Insya Allah Sah 2), Hanung & Ismail Basbeth (Talak 3), dan Hanung & Fey Hero (The Gift). Judul-judul ini hanya beberapa contoh yang dirilis dalam tahun-tahun terdekat. 


Berawal dari Sistem Kerja Sinetron

Baik Joko maupun Robert berpendapat, budaya pengakuan tidak adil ini bermula dari industri serial televisi lokal atau sinetron. Sinetron kejar tayang, kata Robert, mustahil dikerjakan satu sutradara saja untuk ratusan episode.

"Kalau sinetron, sudahlah ya. Saya sih enggak bisa bayangkan ada orang yang bisa sutradarai 1.000 episode sinetron, yang ceritanya gitu-gitu saja. Pasti mual dan muntah darah. Dengan berganti-ganti tim, saya masih bisa menerima adanya co-director (untuk sinetron)," tuturnya.

"Namun kalau film layar lebar, seharusnya sudah enggak benar hal seperti itu. Ada beberapa teman sutradara yang melakukan hal itu dan saya sempat pertanyakan kenapa. Alasannya, banyak pekerjaan dan enggak bisa ditolak. Sementara itu, dia harus menghidupi rumah produksinya," lanjut Robert.

Menurut Robert, kesesatan ini bisa diperparah oleh kondisi permintaan produksi film yang semakin tinggi, tetapi jumlah sutradara dan para kru inti masih kurang. Bisa-bisa, praktik lempar tanggung jawab sutradara semakin dianggap hal wajar. 

"Itu menciderai nama sutradara sendiri. Nama sutradara kan (tercantum) dalam (materi promosi) 'Sebuah karya –'. Enggak ada artinya lagi kata-kata itu," ujarnya. 

Dalam sistem produksi Parwez di Starvision, istilah co-director dimaknai agak berbeda dengan yang diajukan Joko. Co-director bukan sebutan bagi sutradara yang berbagi kursi imbang dengan sutradara lain, melainkan sebutan bagi jabatan sutradara kedua atau pendukung.

Jika rujukan Joko adalah "negara lain termasuk Hollywood", pemahaman seperti Parwez juga terjadi misalnya di Pixar Studios untuk proyek film animasi. Beberapa animator menjadi co-director atau sutradara tandem lebih dulu sebelum menjadi sutradara solo. 

Menurut Parwez, jika dipahami seperti itu, co-director punya manfaat dalam soal regenerasi. 

"Saya sudah menjadikan 40 sutradara yang debut filmnya di Starvision Plus (...). Prosesnya adalah dia mantan co-director atau mantan asisten (sutradara) atau yang sama sekali baru dan enggak pernah melalui proses itu," ungkap Parwez. 

Dia enggan terlalu berkomentar mengenai bagaimana praktik sesat yang diungkap Joko terjadi di luar rumah produksinya.

"Dalam industri yang sedang bertumbuh, segala hal menjadi bisa dilakukan," ujar Parwez, yang tak menampik bahwa praktik seperti ini punya dampak negatif bagi industri.

"Itu tergantung rumah produksinya. Produsernya mau apa enggak membiarkan sutradaranya kerja enggak penuh waktu. Kalau saya, mungkin agak susah, saya enggak bisa," imbuhnya.

Robert juga berharap praktik ini segera berakhir. Tumpuan utama perubahan ada pada produser. Sutradara seharusnya tidak dibiarkan mendapat pengakuan resmi yang tidak sesuai dengan tugas nyatanya di lapangan. 

"Ya kemauan dari produsernya. Selama masih ada film yang dibuat asal-asalan dan masih laku, pasti masih ada praktik seperti itu," tukas Robert.


 




(ASA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG FILM INDONESIA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA EKSKLUSIF
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 19-06-2018