Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp 5.963.078.120 (13 AGUSTUS 2018)

Sidi Saleh, Film Indie Layar Lebar dan Kisah Minor di Hari Besar

Purba Wirastama - 20 Januari 2018 19:09 wib
Sidi Saleh (archipelago pictures)
Sidi Saleh (archipelago pictures)

Jakarta: Sidi Saleh, sutradara-sinematografer peraih trofi bergengsi Venice Film Festival pertama dari Indonesia, membuat debut film panjangnya yang akan dirilis di bioskop dalam waktu dekat.  Hampir serupa seperti tiga film pendek sebelumnya, film berjudul Pai Kau ini menyajikan suatu kisah 'minor' yang terjadi pada hari besar.

Kali ini hari besarnya adalah prosesi dan resepsi pernikahan berlatar kultur Tionghoa di Indonesia. Lucy, putri pengusaha dan mafia yang ditakuti, hendak menikah dengan Edy. Pada hari besar itu, datang Siska, tamu wanita tak diundang dari masa lalu Edy yang mengaku sebagai sepupu jauh dari luar kota. Siska datang dengan niat untuk menghancurkan pernikahan Edy dan Lucy.

Ada tiga film pendek arahan Sidi sebelumnya, yang juga kisahnya terjadi pada hari besar. Fullmoon mengikuti sopir taksi dan istrinya yang berjalan-jalan pada malam tahun baru sembari mengangkut penumpang. Sang istri ingin ikut merayakan tahun baru, sedangkan sang sopir ingin menyatakan cerai.

Fitri mengikuti seorang pelacur yang ingin mudik pada malam Lebaran, tetapi mucikari menahan dia untuk tetap tinggal dan bekerja. Lalu ada Maryam, yang mengikuti kisah seorang pembantu rumah tangga pemeluk Islam yang harus menjaga majikannya yang autis pada Malam Natal. Kedua film ini sukses masuk ke festival film pendek bergengsi Clermont-Ferrand Prancis. Maryam berhasil membawa pulang trofi dari Venice.



Sidi menyadari ada pola semacam itu di filmnya, terutama film pendek. Saat ditemui usai diskusi film Pai Kau di IFI Jakarta beberapa waktu lalu, Sidi menyebut ini terkait erat dengan gagasan dia soal film 'grand' dan kendala produksi dalam mewujudkan.

"Sebenarnya ini jadi pertanyaan besar bagi pembuat film Indonesia, tapi mungkin saya ambil contoh dari diri saya sendiri. Bisa dibilang baru lima tahun terakhir kita akrab  dengan film pendek, tapi sebelumnya kita kenal film bioskop panjang. Saat di sekolah film, mulai mengenal ternyata bikin film tidak seperti yang kita bayangkan," kata Sidi kepada Medcom.id.

Menurut Sidi, referensi film panjang memicu keinginan untuk membuat film serupa dengan begitu banyak pemain. Namun kesempatan produksi film panjang tentu tidak datang dengan mudah. Saat dia membuat film pendek, impian film dengan banyak pemain diwujudkan lewat gagasan cerita dengan situasi yang pada dasarnya memang sudah ramai orang.

"Ada satu mimpi-mimpi kecil, yang ingin bikin film grand, gede, yang saya tahu sekali kalau bikin itu harus dengan kontrol. Misal saya mau bikin film dengan extras di atas 100, terus saya mau bikin itu sendiri, enggak mungkin. Jadi saya pikir caranya adalah saya bikin di hari yang memang sudah ada orang, tanpa saya harus usaha," tutur Sidi.

"Jadi saya cukup dengan upaya kecil tetapi dampak visual yang saya punya itu besar. Intinya mengakali karena ada kebutuhan ingin punya film besar, tapi kita sadar bahwa kapasitas kita, saya, sebagai pembuat film levelnya belum sampai situ," lanjutnya.


Sidi Saleh _ (archipelago pictures)

Sidi berharap film-film pendek tersebut menjadi jejak yang menuntun dia ke proyek film panjang impiannya. Pai Kau, debut film panjang Sidi bersama rumah produksi baru Archipelago Pictures, telah memberi kontrol lebih baginya terkait set dan extras.

"Berharap dengan beberapa jejak yang saya buat ini, paling enggak bisa jadi domino bagi kesempatan untuk membuat sesuatu seperti yang saya ingin. (Pai Kau) ini boleh dibilang punya skala yang sama dengan film-film sebelumnya, tapi lebih kontrol," ujar Sidi.

Pai Kau, dengan kisah tentang pernikahan, melibatkan wedding organizer sungguhan serta vendor lain untuk syuting selama delapan hari. Pemain ekstra didatangkan untuk memerankan para tamu undangan. Ibarat, selama sepekan ada pernikahan dengan tim dokumentasi sangat besar.

Akar Ide Cerita Pai Kau

Proyek film Pai Kau berawal dari obrolan antara Irina Chiu dengan Sidi setelah suatu sesi pemutaran film Maryam. Irina, pekerja bank yang keluar demi mengejar karier akting, berharap dapat bekerja dengan Sidi untuk film terbaru. Namun Irina justru terlibat lebih jauh dengan menjadi produser.

Awalnya Irina ingin bermain di film dengan cerita tak biasa karena bosan dengan peran yang itu-itu saja. Sidi pun menawari dia ide cerita dasar Pai Kau, yang khusus dibuat untuk merespons karakter yang mungkin bisa diperankan oleh Irina.

"Saya sudah punya satu ide cerita. Cerita itu dielaborasi. Kami diskusi bareng kira-kira apa yang cocok dengan dia karena sebenarnya, itu menyamakan visinya. Cerita dasar dari saya, lalu saya teruskan ke naskah," ungkap Sidi.

Kendati film Pai Kau berlatar kultur Tionghoa di Indonesia, Sidi menyebut kisah cinta segitiga ini bisa terjadi dalam kultur mana pun. Etnis tertentu menjadi seperti tekstur yang dilekatkan ke cerita dasar sebagai pilihan estetika supaya lebih berwarna.

"Kalau sebelumnya di area sosial, yang ini (Pai Kau) cenderung lebih estetik, lebih ke creative filming. Tapi tak bisa saya pungkiri, saya selalu punya lapisan-lapisan yang saya kembangkan pelan-pelan.

"Walaupun secara cerita ini tentang perselingkuhan, sakit hati karena perasaan, saya pikir kisah ini juga menarik kalau diangkat dengan tekstur yang mungkin enggak semua orang punya referensi ini," tutur Sidi dalam sesi diskusi Pai Kau di IFI Jakarta.

Salah satu 'tekstur' lain tersebut adalah penggambaran ayah Lucy sebagai bos mafia. Film ini disebut punya elemen yang juga mengemuka dalam film-film mafia Hongkong. Lalu ada permainan domino pai gow, yang merujuk ke makna 'efek domino'. Lembaga Sensor Film memberi film ini kategori drama laga 17+.

"Pai Kau ini jadi menarik karena antara tema dan tema visual itu sangat tipis, tetapi ketika nonton akan merasakaan pengalaman berbeda," imbuh Sidi.



Berkaca dari film-film Sidi sebelumnya, penokohan etnis dan agama para tokoh bisa menjadi sangat fleksibel. Bagi Sidi yang besar di Jakarta dan mengenal banyak orang, salah satunya lewat pekerjaan sang ayah sebagai penyedia jasa rekaman pernikahan, keberagaman adalah kewajaran sehari-hari. Hal ini tercermin saat dia melontarkan gagasan cerita Pai Kau, yang tak butuh riset ulang secara mendalam.

"Misal kita mau bikin film tentang tokoh. saya rasa itu akan jadi riset yang perlu dibuat terencana. Tapi kalau film-film saya, risetnya sudah bawah sadar karena satu, Jakarta ini boleh dibilang saya tahu semua titiknya (...). Apalagi untuk film Pai Kau. Saya lahir di Kebon Kacang, Jembatan Lima," ungkap Sidi.

Sidi mengaku dapat dengan mudah memanggil kembali memori tentang kehidupan di lokasi yang dia kenal sejak kecil. Kisah film Pai Kau mengambil latar lokasi yang dia kenal. Kalangan pedagang Tionghoa pun sudah dia kenal sejak SD.

"Umur segitu, saya sudah muter-muter daerah Glodok, Petak Sembilan. Bisa dibilang itu tempat jalan kaki saya. Jadi kalau ditanya riset, risetnya kayak di sini (menunjuk bagian belakang kepala). Jadi tinggal mau yang mana, ini atau ini," ucap Sidi.

Pai Kau dibuat dengan cukup gerilya karena Irina dan rekan produser Tekun Ji belum pernah memproduksi film. Setelah Irina fokus ke dunia film, dia dan Tekun belajar soal pembuatan film lewat berbagai sumber dan acara workshop. Ongkos produksi film ini juga termasuk lebih rendah dibanding rata-rata film domestik yang rilis bioskop.


Irina Chiu, Anthony Xie, dan Tjie Jan Tan dalam Pai Kau (Archipelago Pictures)

Sebagian besar pemain tak punya latar belakang aktor. Sidi merangkap posisi sebagai sinematografer, situasi yang dianggapnya merugikan karena dia harus debat dengan diri sendiri.

"Pada dasarnya, walaupun secara produksi tidak seperti film pendek saya, tapi film ini masih bergerak dalam (ranah) independen. Jadi, Irina dan Tekun itu menjalankan satu-satu, naik turun, pernah ada drama untuk berhenti, tapi terus dijalani. Kebetulan saya punya latar belakang sinematografi, ada titik yang bisa saya tangani sendiri," ungkap Sidi.


Film Panjang Bukan Sekadar Ekpresi Kesenian

Setelah produksi Pai Kau, Sidi mengaku belajar soal 'meredam' keinginan pribadi saat membuat film panjang. Membuat film panjang bukan sekadar mengungkap ekspresi kesenian, terutama karena film ini membutuhkan dukungan finansial yang tak kecil.

"Mungkin kalau film pendek, saya masih merasa, saya punya sesuatu untuk dikatakan, lalu kita bikin film pendek. Itu benar-benar produksi dari kita, kita sendiri yang buat dan komunikasikan," kata Sidi kepada Medcom.id.

"Namun kalau film panjang bukan sekadar 'mau bikin ini'. Ternyata banyak hal yang harus disesuaikan. Idenya A, tapi ternyata enggak cocok. Harus ada fleksibilitas. Jadi bukan cuma penciptaan ekspresi kesenian, ya memang iya. Ini bukan soal apa yang ada di kepala kita A jadinya A. Jadi ada hal-hal yan harus saya elaborasi. Ada yang bisa 100 persen, ada yang malah enggak bisa sama sekali," lanjutnya.

Jenis pertimbangan baru ini termasuk soal menyesuaikan pilihan bahasa film dengan yang dipahami oleh penonton. Film bagus bisa jadi minim perhatian. Film tak bagus juga tetap bisa mendapat perhatian tinggi.

"Jadi istilah bagus dan tidak jadi sangat relatif. Artinya, seberapa mampu kita sebagai pembuat film menempatkan diri di posisi yang paling pas. Makanya, ini bukan soal membuat kesenian karena menurut saya, membuat kesenian itu tidak ada toleransi. Kalau mau gini ya harus gini. Tapi kalau kita mau gini, belum tentu orang terima," tukas  Sidi.

Pai Kau akan dirilis di bioskop pada akhir pekan kedua Februari 2018, jelang tahun baru Imlek. Sidi dan Archipelago juga telah menyiapkan film lain yang berjudul Bukan Cerita Cinta. Selain itu, dia juga sedang menyiapkan naskah film Magadir yang berlatar kultur Arab.





 


(ELG)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG SINEAS KITA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA EKSKLUSIF
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 15-08-2018