Bisnis Film Era Kini, Daur Ulang Kenangan dan Karakter Manjur

Purba Wirastama - 11 Januari 2019 11:37 wib
Suzzanna Bernapas dalam Kubur (kiri) dan Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss (kanan) (Foto: Soraya Intercine Films, Falcon Pictures)
Suzzanna Bernapas dalam Kubur (kiri) dan Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss (kanan) (Foto: Soraya Intercine Films, Falcon Pictures)

Warkop DKI Reborn, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, Lagi-lagi Ateng, OM PSP: Gaya Baru, dan Benyamin Biang Kerok 2018 adalah film cerita jenis baru. Mereka menawarkan nostalgia, tetapi dengan cara berbeda dari film kebanyakan.

Ambil contoh Jangkrik Boss! Part 1 dan 2. Kalau ditulis, kira-kira begini: Abimana Aryasatya memerankan Dono sebagaimana Dono (Wahyu Sardono) asli menjadi Dono dalam film-film lawas rujukan. Tak hanya aktor menirukan karakter, film juga mendaur ulang elemen ikonik lain dari film-film lama seperti musik dan dialog. Ada adaptasi karakter dan adegan ikonik di sini.

Benyamin Biang Kerok versi Reza Rahadian (2018) sedikit lebih rumit. Reza memerankan Pengki, tokoh yang diperankan Benyamin Sueb alias Bang Ben dalam film aslinya (1972), tetapi dengan karakter seperti Bang Ben. Singkatnya, Reza harus menjadi Bang Ben dulu sebelum menjadi Pengki. 

Namun dalam film Reza, selain performa aktor aslinya yang ditiru, tidak ada Bang Ben di sana dan tidak ada pula tokoh bernama Benyamin. Lalu kenapa harus ada nama "Benyamin" dalam judul? Salah satunya tentu faktor strategi pemasaran. Poin utama bukan cerita, tetapi pembawaan unik Bang Ben dan sosoknya sebagai seniman Betawi legenda. 

Beda lagi dengan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur yang dibintangi oleh Luna Maya dan berhasil menjadi film horor terlaris 2018. Kita bahas itu di bagian berikutnya. Sekarang, mari kita menilik kembali sumber nostalgia itu, ketika gaya penjudulan film atau penamaan tokoh dengan nama bintangnya ini dimulai di Indonesia.


Bing Slamet

Konon, mulanya adalah Bing Slamet. 

Setelah sukses dengan grup komedi Kwartet Jaya, Raden Slamet alias Bing Slamet mendirikan perusahaan Safari Sinar Sakti pada era 1970-an. Perusahaan ini membuat belasan film komedi, termasuk empat film yang memakai nama "Bing Slamet" sebagai judul. 

Misalnya, Bing Slamet Koboi Cengeng, film terlaris di Jakarta 1974 dan terlaris ke-12 pada 1973-1994 dengan angka penjualan tiket 530 ribu lembar. 

Pada era itu, dalam periode sama ketika Festival Film Indonesia mulai digelar rutin setiap tahun, film-film Bing dengan judul "Bing Slamet" tidak sendiri. Ada sejumlah film serupa yang kebanyakan bintangnya adalah pelawak, seperti Bang Ben, Ateng Suripto, Oma Irama, atau Ayub Abdul Djalal.

Nama "Bing Slamet" bahkan sudah diabadikan dalam judul sejumlah film sebelum era Safari Sinar Sakti. Ada Bing Slamet Tukang Betja (1959) garapan CC Hardy yang dibintangi Mieke Wijaya dan Bing, yang disebut-sebut sebagai yang pertama memakai nama bintang utama sebagai judul film. 



Poster film Bing Slamet Koboi Cengeng yang dirilis tahun 1974 (Foto: Flickr/IndonesianFilmPosterArchive)


Namun sebelumnya lagi, menurut data Katalog Film Indonesia, ada film komedi hitam putih dengan judul "Bing Slamet" saja buatan Canary Film Company rilisan 1956.

Kisahnya mengikuti Bing Slamet, pemuda dengan hidup tidak karuan, sering sial, dan kacau dalam pekerjaan, bahkan setelah dia mendapat pekerjaan tetap atas bantuan surat sang ibu. Sang ibu menjodohkan Bing dengan gadis modern, tetapi Bing Slamet memilih seorang gadis buta yang dikenal sewaktu berjualan bunga. 

Ini adalah film komedi pertama Bing setelah film drama Solo Di Waktu Malam (1952) dan Disimpang Djalan (1955). Sebelum menjadi aktor, Bing sudah lebih dulu dkenal sebagai penyanyi, pelawak, dan penyiar. Dia juga pernah membantu divisi hiburan militer pada masa perang. Bisa dipahami, nama besar Bing Slamet menjadi senjata utama penjualan filmnya. Bahkan pembuat filmnya tak ingin pusing-pusing menentukan nama tokoh.

Setelah dua film itu, Bing bermain dalam sedikitnya lima film komedi yang memakai namanya sebagai judul. Ada Bing Slamet Merantau, Bing Slamet Setan Jalanan, Bing Slamet Sibuk, dan Bing Slamet Dukun Palsu. Terakhir adalah Bing Slamet Koboi Cengeng (1974) garapan Nya Abbas Akup, yang dirilis pada tahun Bing meninggal.


Disusul Film-film Komedi Lain

Gaya penjudulan dan penamaan ini lantas diikuti sejumlah film komedi lain. Sebagian adalah film yang dibintangi komedian junior Bing, yaitu Ateng dan Bang Ben. Mereka bertiga pernah beradu akting dalam Bing Slamet Setan Djalanan (1972), yang juga melibatkan Iskak dan Eddy Sud (Kwartet Jaya). 

Dua film pertama Ateng dengan gaya ini dirilis pada 1974, yaitu Ateng Minta Kawin dan Ateng Raja Penyamun. Lalu ada sedikitnya sembilan film komedi dengan judul Ateng, termasuk dua terlaris Ateng Sok Tahu (1976) dan Ateng Bikin Pusing (1977). Dalam Tiga Sekawan (1975), Ateng tampil bersama dua anggota Kwartet Jaya tersisa, yaitu Iskak dan Eddy Sud. 

Debut Bang Ben untuk film dengan judul namanya adalah Benyamin Biang Kerok (1972) garapan sutradara Nawi Ismail dan penulis Syamsul Fuad. Sekuelnya dibuat tahun berikutnya dan tidak lagi memakai nama Benyamin.

Berikutnya, dari hampir empat lusin film Bang Ben sebelum meninggal, sedikitnya 10 film komedi memakai namanya sebagai judul dan tokoh. Misalnya Benyamin Brengsek (1973), Benyamin Koboi Ngungsi (1975), dan Benyamin Jatuh Cinta (1976). 

Ayub Abdul Jalal, pelawak dalam grup Surya Group, juga punya dua film dengan namanya sebagai judul. Setelah dikenal lewat film populer Inem Pelayan Sexy (1976), Jalal bermain dalam Jalal Kawin Lagi (1977) dan Jalal Kotak Palsu (1977). 

Oma alias Rhoma Irama punya riwayat lebih panjang. Setelah film debut Oma Irama Penasaran (1976), dia bermain dalam 20-an film cerita dan hampir semua tokoh perannya diberi nama Rhoma. Sebagian besar film ini berasal dari ide cerita Rhoma sendiri. 


Poster film Rhoma Irama Berkelana yang dirilis tahun 1978 (Foto: Flickr/IndonesianFilmPosterArchive)


Salah satu fakta menarik tentang Rhoma Irama dalam sinema adalah dia selalu memberi syarat pada produser atau sutradara, jika menginginkan dia sebagai aktor, Rhoma tidak ingin memerankan karakter lain. Dia tidak ingin jadi tokoh fiktif. Rhoma tetap ingin tampil di film sebagai diri sendiri.

Namun hanya sekitar 10 film yang memakai namanya di judul. Misalnya, Gitar Tua Oma Irama (1977) dan dwilogi Rhoma Irama Berkelana (1978). 

Ada juga Dorce Ashadi alias Dorce Gamalama dan S Bagio. Dorce punya Dorce Sok Akrab (1989) dan Dorce Ketemu Jodoh (1990). Bagio punya Boss Bagio dalam Gembong Ibukota (1976), tetapi sebelum itu dia telah bermain dalam sejumlah film sebagai tokoh bernama Bagio. 

Grup lawak Warkop DKI punya ciri berbeda. Film-film mereka tidak pernah memakai nama pemain atau grup sebagai judul, tetapi sosok trio pelawak ini sangat ikonik hingga menjadi legenda. Dono, Kasino, dan Indro memerankan tokoh yang masing-masing namanya sama. 

Baru setelah ada film eksperimen berjudul Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! (2016-2017), nama grup pelawak itu dipakai sebagai judul atau semacam merek waralaba. Hal serupa terjadi untuk film OM PSP: Gaya Mahasiswa (2019) yang mengadaptasi karakter grup musik komedi Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (OM PSP) dari sejumlah film era 1980-an.



Poster film Ateng Minta Kawin yang dirilis tahun 1974 (Foto: Flickr/IndonesianFilmPosterArchive) 


Jualan Nama Besar

Kita bisa sepakat, pemakaian nama bintang sebagai nama tokoh cerita, atau yang lebih bergengsi lagi, sebagai judul film, adalah bagian dari strategi penjualan filmnya. Popularitas Bing Slamet, Benyamin, serta Ateng misalnya, adalah jembatan komunikasi pembuat dan pengedar film dengan calon penonton. 

Ekky Imanjaya, kritikus film dan dosen Jurusan Film Universitas Bina Nusantara, menyebut bahwa dunia hiburan Indonesia era 1970-an dan 1980-an punya stardom begitu kuat. Khalayak tertarik kepada sosok bintang filmnya.

"Zaman dulu, star system sangat kuat. Bintang film itu memang (materi) dagangan," terang Ekky kepada Medcom.id, Kamis, 10 Januari 2019.

Dia menyebutkan contoh sejumlah nama pemain film zaman dulu yang bisa membuat gengsi filmnya terangkat. Ada Roy Marten, Roby Sugara, Yenny Rachman, Yati Oktavia, dan Doris Callebout yang lebih dikenal sebagai The Big Five. Kendati begitu, nama-nama mereka belum sampai dijadikan judul film.

"Misal ada namanya The Big Five. Memang yang dijual nama bintang filmnya," lanjutnya. 

Menurut Ekky, Bing Slamet memang sangat terkenal pada masanya dan  menjadi panutan bagi banyak orang, termasuk seniman. Hal sama juga dicapai oleh aktor dan aktris seperti Benyamin atau Ateng, yang lebih dulu dikenal sebagai komedian. 

"Kalau zaman dulu itu nama Bing Slamet dan Benyamin dimasukkan karena mereka sedang ngetop-ngetopnya. Dorce dan Ateng itu juga memang sedang terkenal. Kalau sekarang, mereka sudah tidak terkenal tetapi menjadi semacam cult icon," ujar Ekky.


Poster film Dorce Sok Akrab rilisan 1989 (Foto: Flickr/IndonesianFilmPosterArchive)


"Sekarang aktris ratu horor siapa? Enggak ketahuan. Kecuali mungkin satu, Iko Uwais dan kawan-kawan. Ketahuan dia silat, kuat, walaupun belum sampai disebutkan nama Iko Uwais (dalam judul)," imbuhnya.

Apakah film-film seperti ini sukses komersial ketika dirilis di bioskop pada tahun-tahun itu? Setidaknya ada tiga yang masuk ke jajaran 98 film terlaris sepanjang 1973-1994. Ada Bing Slamet Koboi Cengeng (1974), Ateng Sok Tahu (1976), dan Ateng Bikin Pusing (1977). 


Eksperimen Baru, Daur Ulang Kenangan

Kembali ke topik awal. Warkop DKI Reborn, Benyamin Biang Kerok (2018), Lagi-lagi Ateng, dan OM PSP: Gaya Baru merupakan jenis eksperimen baru. Mereka adalah film-film baru tetapi dengan tawaran nostalgia atau kenangan atas sosok lama. 

Semua melibatkan pemeran baru. Ada pula satu dua pemeran asli yang terlibat, tetapi sebagai tambahan saja dan bukan utama. Film versi baru ini mengambil sejumlah ciri khas dari film lama, meliputi sosok pemeran, dialog, dan adegan, untuk didaur ulang dalam film baru. Para pemeran  menjadi pengisi atau penggerak saja untuk mengantar kenangan.

Menurut Ekky, ini menjadi perbedaan utama film-film lama berbintang besar dengan film-film terbaru yang memakai nama bintang besar itu.

"Film yang rumit hanya Benyamin Biang Kerok (2018), Kalau yang lain jelas jualan nostalgia. Ikon cult. Jualan Suzzanna, Warkop DKI, Ateng. Mereka tidak mengklaim ini remake atau apa, tetapi yang jelas sama-sama jualan (kenangan)," tutur Ekky. 

"Hal yang dijual itu (sosok) Suzzanna – bukan Luna Maya, Benyamin – bukan Reza Rahadian. Kalau dulu, yang dijual para aktor dan aktrisnya langsung karena ngetop. Kalau sekarang, kenangan yang dijual," imbuh Ekky. 

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur juga menjual nostalgia, tetapi punya sedikit perbedaan dengan film-film serupa. Film garapan sutradara Rocky Soraya dan Anggy Umbara ini mengambil inspirasi dari sosok aktris Suzzanna Martha Frederika van Osch dalam film Sundel Bolong (1981) dan Malam Satu Suro (1988). 

Film ini juga mengambil nama mendiang Suzzanna sebagai judul film dan nama tokoh, kendati dalam 40-an film aslinya, Suzzanna tidak  pernah memerankan tokoh bernama Suzzanna. Tidak ada pula film Suzzanna yang memakai namanya sebagai judul.

Namun baik untuk Suzzanna, Warkop DKI, Benyamin, Ateng, atau OM PSP, film-film terbaru yang memakai nama mereka punya satu kesamaan  yaitu menjual kenangan. 

Apa sebutan bagi jenis film semacam ini, untuk membedakan dengan remake, reboot, atau sekuel-prekuel? Barangkali istilah "reborn" bisa dipakai, seperti diungkapkan oleh Ekky. 

"Ada yang bilang ini reborn reborn itu bukan remake. Kalau reborn, yang hidup kembali itu aktor dan aktrisnya dengan adegan trivia yang ikonik. Maksud reborn adalah (unsur ikonik) itu , bukan kisahnya, yang penting ada adegan ini atau dialog itu," kata Ekky.

"Itu enggak ada di Benyamin Biang Kerok," imbuhnya menilai kenapa film komedi garapan Hanung Bramantyo tersebut gagal. "Kalau di Warkop DKI Reborn ada yang mengingatkan kita kepada masa lalu." 

Sebagian besar film-film reborn ini laris ketika dirilis di bioskop. Tiga film telah masuk ke jajaran 10 film terlaris sepanjang 2007-2019, meliputi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss part 1 dan 2 dengan total capaian 10,94 juta tiket dan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur dengan 3,34 juta tiket.

Ekky belum bisa memastikan apakah gaya judul film seperti Bing Slamet Tukang Betja atau jenis film reborn seperti Warkop DKI Reborn ada di negara lain. Namun yang jelas, strategi penjualan dengan nama bintang besar bukan hal baru di dunia. 

Terkait film-film reborn, Ekky menilai masih ada beberapa nama cult icon lain yang akan dijadikan sumber inspirasi dan materi jualan berikutnya.

"Kalau saya jamin, semakin banyak ya (...). Setelah OM PSP, akan ada reborn Rhoma Irama kalau dapat izin dari Rhoma, ada reborn Bing Slamet, tetapi setelah itu mereka (produser) akan kehabisan bahan. Siapa lagi coba?" ujarnya.

"Biasanya yang reborn adalah ikon cult atau legenda. Sekarang yang legenda siapa lagi? Sudah habis, itu-itu saja. Mungkin Jojon (Srimulat). Jojon pernah main film tetapi namanya tidak disebut di judul."




(ASA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG MONTASE FILM
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA EKSKLUSIF
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 19-01-2019