DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 41.348.051.099 (17 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Kenapa Indonesia Tidak Bikin Film Dokumenter Bagus?

Purba Wirastama - 31 Agustus 2018 06:00 wib
 Help is on the Way_, proyek dokumenter panjang dari sutradara Ismail Fahmi Lubis (Foto: Two Islands Digital)
Help is on the Way_, proyek dokumenter panjang dari sutradara Ismail Fahmi Lubis (Foto: Two Islands Digital)

"Kenapa orang Indonesia enggak bikin dokumenter bagus? Indonesia bagus, beragam budaya sampai ke mistik."

Pertanyaan itu mengusik Ismail Fahmi Lubis, salah satu sineas Tanah Air yang aktif menggali cerita lewat film dokumenter sejak 1998. Dalam sesi perkenalan Docs By The Sea 2018 kepada media di Jakarta, pertengahan Juli 2018 lalu, dia curhat betapa sulit membuat dan menonton dokumenter di Indonesia, setidaknya selama dua dekade terakhir.

Menurut Ismail, selama ini pembuat film mencari jalannya masing-masing. Dia sendiri sering bekerja dengan sutradara atau produser negara lain. Salah satunya bersama sutradara Stand van de Sterren, untuk film Position Among the Stars (2010) yang kemudian mendapat penghargaan di sejumlah festival film. Soal distribusi, film-filmnya lebih sering diputar di festival film, itupun festival film mancanegara.

Masalah utama adalah dana produksi dan saluran distribusi yang bisa diandalkan. Sumber pendanaan paling umum adalah pitching, sesuatu yang sebelumnya belum pernah ditempuh Ismail karena baginya, "tukang bikin" bukanlah tukang jualan atau cari dana. Namun toh dia belajar juga cara membuat proposal dan meyakinkan klien. Salah satunya lewat Docs By The Sea perdana yang digelar di Bali pada 2017

"Kalau saya disuruh bikin film, daripada di luar, di sini saja. Banyak cerita, saya ketemu banyak orang di daerah, lucu-lucu dan segala macam – dan pasar (distribusi) memang penting," ungkap Ismail.

"Indonesia terlalu luas, banyak budaya, beragam. Seharusnya dokumenter lebih hidup daripada fiksi," imbuhnya.

Pasar Penonton Belum Tercipta

Curahan hati Ismail mewakili banyak pembuat dokumenter lokal dengan tantangan serupa. Di balik industri perfilman fiksi yang sedang berkembang lagi, ada dokumenter yang lebih jauh tertinggal secara bisnis dan distribusi reguler. Gejala paling kentara adalah bahwa kebiasaan menonton film dokumenter belum terbentuk. Ada satu dua lembaga penyiaran televisi yang punya program dokumenter, tetapi terbatas ke produksi in-house atau kelompok kecil binaan televisi terkait.

Selama ini, pemutaran dokumenter lebih sering di lingkup terbatas festival film, seperti Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta, atau dari komunitas ke komunitas. Ini pasar yang belum cukup untuk membuat dokumenter berkembang karena biar bagaimana, jenis film ini tetap butuh monetisasi.

"Penonton film dokumenter itu ada, tetapi belum tercipta," ungkap Amelia Hapsari, Direktur Program In-Docs, di Jakarta pada awal Mei, ketika mengenalkan program baru IF/Then kepada media. IF/Then adalah lokakarya film dokumenter pendek tingkat Asia Tenggara, hasil kolaborasi antara In-Docs dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf) dengan Tribeca Film Institute sejak 2018.

Soal ekosistem dokumenter, Amel memberi contoh Inggris. Ini adalah negara dengan penonton film dokumenter sangat banyak. Filmnya pun bisa dimonetisasi dengan baik. Faktor utamanya, ada BBC yang punya siaran khusus dan selalu menghasilkan dokumenter baik, termasuk bagi anak-anak. Sejak bisa menonton televisi, anak-anak sudah punya akses terhadap dunia luas lewat film dokumenter.

"Siapa sih penonton film dokumenter (Indonesia)? (...) Itu potensi besar yang belum kita tahu karena kita belum melakukan cukup hal untuk mendapatkan potensi tersebut," ujar Amel.


Suasana forum pitching proyek dokumenter di Docs By The Sea 2018 (Foto: dok. DBTS)


Membangun Ladang Baru

Sejak dua tahun lalu, In-Docs mendapat dukungan baru dari BEKraf untuk membangun ekosistem film dokumenter Indonesia. Film merupakan salah satu subsektor kreatif yang sedang digenjot BEKraf dan dokumenter termasuk bagian di dalamnya.

BEKraf sudah punya terobosan forum investasi film Akatara yang ditujukan bagi proyek-proyek film secara umum. Ini adalah program hasil kerja sama dengan Badan Perfilman Indonesia (BPI). Khusus untuk dokumenter, BEKraf merapat ke In-Docs dan membuat dua program, yaitu Docs by The Sea dan IF/Then. Lewat BEKraf, In-Docs juga punya program mandiri bernama Good Pitch Southeast Asia.

Docs By The Sea (DBTS) adalah forum internasional yang menghubungkan pembuat dokumenter Asia Tenggara dengan berbagai institusi dokumenter dunia, baik dari dalam maupun luar kawasan Asia Tenggara. Di sana, para pembuat film melakukan pitching atau mengenalkan proyek masing-masing kepada para calon mitra dan investor.

Dalam gelaran perdana di Bali tahun lalu, forum ini mengenalkan 31 proyek dokumenter ke sejumlah institusi seperti Kone Foundation Finlandia, IDFA Bertha Europe, NHK Jepang, dan Docs Port Incheon. Beberapa proyek yang sudah mendapat dukungan dana antara lain My Big Sumba Family (Indonesia), Last Day in the White Building (Kamboja), serta Aswang dan Audio Perpetua (Filipina).

Pada awal Agustus tahun ini, DBTS kembali digelar di Bali selama sepekan. Ada sebanyak 41 proyek dibawa, termasuk 10 proyek tahun lalu yang ikut dikenalkan kepada Go-Studio, anak perusahaan Go-Jek untuk lini bisnis perfilman. Tidak hanya pitching, para peserta juga mendapat kelas khusus mulai dari penulisan proposal hingga distribusi dokumenter.

Institusi yang bergabung juga lebih banyak mencapai 30-an. Selain Go-Studio, pihak-pihak baru itu antara lain Al Jazeera English, The Guardian, dan Rough Cut Service. Sebagian institusi bahkan tidak hanya datang untuk mencari proyek potensial, tetapi juga menjalin kemitraan strategis dengan DBTS dan memberikan komitmen hadiah.

Sambutan Internasional

Tribeca Film Institute adalah salah satu pihak yang girang dengan kehadiran DBTS. Setelah datang ke DBTS 2017, mereka bergabung dengan BEKraf dan In-Docs untuk membuat workshop atau lokakarya film dokumenter pendek bertajuk IF/Then. Lokakarya ini punya relasi erat dengan DBTS karena proyek yang lolos seleksi mendapat kesempatan pitching di sana.

Diary of Cattle (David Darmadi), How Far I'll Go (Ucu Agustin), dan The Songbirds of Aceh (Aminda Faradilla) adalah tiga proyek Indonesia hasil IF/Then yang berhasil mendapatkan hadiah dari mitra DBTS 2018. Mereka mendapat undangan pitching ke forum internasional yang lebih besar untuk bertemu para calon investor.

Ismail Fahmi Lubis, yang tahun lalu tidak berhasil mendapatkan rekan kolaborasi, kembali menjadi peserta pitching DBTS 2018. Dia membawa proyek film panjang Help is on the Way? yang berkisah tentang sekolah TKI di Indramayu. Dari forum ini, dia berhasil mendapatkan dua hadiah, yaitu undangan pitching ke Australian International Documentary Conference (AIDC) 2019, serta masuk ke program Docs By The Sea Co-Production Fund, hasil kerjasama In-Docs dan Go-Studio.

"Dengan kehadiran Docs By The Sea, secara mengejutkan, kita mendapat respons luar biasa dari kalangan internasional. Ternyata, minat terhadap potensi karya dokumenter Indonesia dan kawasan Asia Tenggara itu luar biasa tinggi," kata Wakil Kepala BEKraf Ricky Persik di Jakarta, 19 Juli 2018.

"Sebuah keniscayaan bahwa dunia semakin melihat Asia Tenggara dan Asia. Momentum ini tidak bisa disia-siakan oleh kita, Indonesia, penyelenggara Docs By The Sea, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas Docs By The Sea kali ini," lanjutnya.

Bagi Amelia, DBTS adalah salah satu jalan penting untuk membangun ekosistem dokumenter Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Dari dua kali penyelenggaraan, forum ini telah membawa pendanaan dan kolaborasi internasional untuk berbagai proyek dokumenter yang dibawa.

"Saya sangat senang sekali. Mereka yang rencananya kasih satu (hadiah), jadi lebih. Korea Selatan jadi tiga, Australia jadi dua. Dalam hati mereka, sebenarnya ada beberapa (hadiah) lagi, tetapi enggak bisa janjikan," kata Amel kepada Medcom.id, sehari setelah DBTS 2018 usai digelar di Bali.

"Sambutannya luar biasa. Sudah ada yang ingin bergabung, tetapi tahun ini terlambat, jadi di tahun berikutnya," imbuhnya.

Bukan tidak mungkin, Indonesia, lewat Docs By The Sea – juga IF/Then dan Goodpitch Southeast Asia, akan menjadi hub atau pusat pertemuan film-film dokumenter Asia Tenggara.


Sculpting The Giant, tentang perjalanan 28 tahun pematung Garuda Wisnu Kencana, menjadi salah satu proyek dokumenter yang ditawarkan di Docs By The Sea 2018 (Foto: Seeds Motion)

Investasi Jangka Panjang

Dalam investasi terhadap film dokumenter, hasil secara komersial tidak bisa segera dipetik seperti film-film cerita fiksi. Baik Amel maupun orang-orang BEKraf mengamini hal tersebut. Menurut Deputi Akses Permodalan BEKraf Fajar Hutomo, tujuan paling penting dari forum seperti Docs By The Sea adalah menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar.

"Sulit bicara target karena proses pengembangan proyek setiap film beda-beda. Ini enggak seperti ada barang, sudah jadi, kemudian ditawarkan dan ada jual beli, selesai. Pengembangan produk ini lama," kata Fajar kepada Medcom.id dan sejumlah wartawan di DBTS 2018.

"Saya sebagai Deputi Akses Permodalan, akan senang jika terjadi banyak deal hari ini, tetapi yang penting, bagaimana ini menjadi bagian dari ekosistem yang besar. Makanya ada masterclass dan mentoring. Pitching juga bukan hanya soal jual beli, tetap juga ada proses pengembangan buat para pembuat film," lanjutnya.

Fajar Hutomo menyebut bahwa hasil forum DBTS tidak selalu terjadi dalam bentuk perjanjian kerja sama yang melibatkan dana produksi atau akses distribusi. Kendati begitu, mereka tetap memantau perkembangan lusinan proyek yang masuk. Sangat mungkin ada proyek yang tidak mendapat rekan kolaborasi langsung saat DBTS 2018, tetapi beberapa bulan kemudian.

"Mereka melaporkan ke kami, In-Docs yang akan mengawasi," ujar Fajar.

Amel menyebut bahwa BEKraf cukup sabar menunggu. Menurutnya, hasil kerja sama dalam bentuk uang baru bisa kelihatan setidaknya dalam satu tahun.

"Mereka mau menunggu dan ternyata memang satu tahun, baru mendapat hasil yang lumayan," kata Amel saat berbincang lebih lanjut dengan sejumlah wartawan di DBTS 2018.

Dokumenter sebagai Album Keluarga

Namun di luar target komersial, DBTS membawa misi penting bagi demokrasi Asia Tenggara, yang disebut Amel "sangat rapuh". Menurut Amel, forum ini mampu memberi ruang bagi para pembuat film independen untuk bersuara. Misalnya, beberapa proyek film dari Filipina yang punya isu mendesak terkait keadaan politik di sana.

"Kita harus akui bahwa meski di Asia Tenggara kita menikmati demokrasi, tetapi demokrasi rapuh. Docs By The Sea memberi ruang yang suportif dan aman untuk suara-suara independen ini. Mereka akhirnya bisa dibuat. Belum tentu di negara sendiri, mereka bisa mendapatkan seperti itu," kata Amel.

"Itu juga menjadi motivasi kami di In-Docs untuk mendorong suara-suara independen ini untuk tetap bisa hidup di tengah demokrasi Asia Tenggara yang rapuh," lanjutnya.

Sebelum terlibat aktif dalam pembangunan ekosistem dokumenter, Amel dikenal sebagai sutradara film dokumenter. Dia memutuskan untuk mengurangi kegiatan produksi karena ingin fokus membantu ekosistem ini berdiri kokoh.

"Kalau aku enggak fokus membangun ekosistem, lalu aku mau buat (film) terus, ya sama saja. (Aku) cukup senang bisa terlibat dalam produksi teman-teman. BIsa diskusi dan mendukung mereka itu juga kreativitas, enggak cuma administrasi," ucap Amel.

Secara personal, dia juga ingin anak-anaknya dan generasi berikutnya punya pilihan tontonan selain sinetron. Jika dokumenter kelak berkembang menjadi tontonan sehari-hari sewajarnya, ada banyak cerita yang bisa dibagikan ke anak-anak tentang keragaman Indonesia. Motivasi ini yang menguatkan Amel untuk gigih memperjuangkan dokumenter.

"Ketika saya kecil, ada TVRI sehingga saya punya imajinasi tentang Indonesia, punya identitas yang lebih terbangun sebagai orang Indonesia. Sekarang, itu hampir enggak ada. Seperti sekarang, saya cari buku anak saya saja itu susah yang benar-benar untuk anak, terlalu banyak yang menggurui, dan tontonan itu hampir enggak ada," ungkap amel.

"Kalau kita terus kayak gini, kita mau apa sih sebenarnya sebagai bangsa? Kita enggak punya konten, tontonan yang bisa kita bagi, yang bisa menjadi album keluarga sebagai bangsa," pungkasnya.

 


(ASA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG MONTASE FILM
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA EKSKLUSIF
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 19-10-2018