DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 41.348.051.099 (17 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Iwa K, Bicara Narkoba dan Identitas Hip-Hop Indonesia

Agustinus Shindu Alpito - 07 September 2018 06:00 wib
Iwa K (Foto: Shindu Alpito)
Iwa K (Foto: Shindu Alpito)

Seperti lancang jika bicara hip-hop Indonesia tanpa menyebut nama Iwa K. Lebih dari seperempat abad berkecimpung di dunia hip-hop dan menjadi pionir di jalur itu. Bisa dibilang, Iwa K adalah "bapak" hip-hop Indonesia. Dirinya berperan besar memomulerkan genre musik asal Amerika itu di Indonesia. Hingga hari ini, Iwa masih bertaji, bermain kata membentuk rima yang tak henti-henti menghujam telinga.

Seperti kisah musisi-musisi besar lain, Iwa juga merasakan bagaimana dirinya beradu dengan arus popularitas, pasang-surut industri hingga lembah kelam narkoba. Namun, tidak ada satupun dari itu semua yang membuatnya bertekuk lutut dan menyerah. Pada tahun lalu, Iwa sempat merasakan lantai dingin penjara. Namun pengalaman itu justru memberinya kekuatan baru.

Saya berkesempatan menemui Iwa, di kediamannya yang terletak di Jakarta Timur. Jauh dari kesan angker, sang Godfather hip-hop Indonesia itu terkesan bijaksana. Iwa seorang musisi yang bukan saja kenyang secara pengalaman, tetapi juga mampu menempatkan diri pada berbagai situasi. Dalam wawancara santai selama dua jam, Iwa membagikan kisah hidupnya, mulai dari kenangan bertemu UFO saat kecil, momen ketika di dalam penjara, hingga visinya melihat masa depan hip-hop Indonesia.



Iwa K belum lama ini merilis album live. Apa alasan di balik lahirnya album itu?

Sebenarnya sudah terpikirkan dari dulu, cuma karena satu dan lain hal, baru terwujud sekarang. Kalau sudah waktunya, terjadi saja, entah bertemu orang yang tepat, gig yang tepat, akhirnya baru terjadi sekarang ini. 

Teman-teman kolaborasi juga tepat, dari Neurotic. Buat gue itu sesuatu banget, buat gue kolaborasi itu ada attitude masing-masing dari kolaborator dan Neurotic menunjukkan banget attitude-nya. Buat gue kolaborasi bukan hal baru, gue dari dulu senang banget kolaborasi, sampai teman-teman gue bilang, "Wa, genre lo kolaborasi ya?"
 
Iwa telah bertemu begitu banyak musisi sepanjang karier, mengapa merasa tepat dengan Neutoric hingga akhirnya berkolaborasi melahirkan album live ini?

Sebenarnya dengan yang lain juga tepat, tetapi Neurotic ini dari generasi yang dekat dengan gue, gue bisa mendapatkan bukan cuma musiknya saja yang beda. Ada sound-sound baru tanpa mengubah soul dari lagu yang sudah gue bikin. Menariknya di situ. Ada juga yang dibikin "patah" tetapi tidak mengubah soul aslinya.

Gue orang yang intens ketemu Mono waktu gue keluar dari "pesantren," dia salah satu teman yang encourage gue untuk berkarya lagi. Gue ada satu singel juga kan sama dia. 

Selepas dari penjara, Iwa merilis lagu berjudul Sans, sebuah lagu yang terdengar galak, apakah singel itu jadi pernyataan musikalitas Iwa ke depan? 

Itu hasil ngobrol-ngobrol, ceritanya riset. Para pendengar musik sekarang sudah smart, apresiasi hari ini sudah tinggi. Sekarang gue keluarin karya enggak kayak dulu lagi, enggak pikirin gimana-gimana. Itu seperti test case juga, rilis singel tanpa promosi yang bagaimana-bagaimana, hanya mengandalkan media sosial Twitter sama Instagram. Tidak ada treatment khusus tetapi gue merasa itu asik, Cek ombak saja, seperti apa responsnya dan ternyata baik. Ke depan kayaknya bakal lebih dalem lagi.

Hip-hop di Amerika sedang mendapat sorotan yang luar biasa, apakah hal itu  berimbas juga pada kancah hip-hop Indonesia?

Ada beberapa teman dari non hip-hop bilang hip-hop di Indonesia ombaknya makin besar. Secara bisnis ini bagus. Menurut gue dari dulu ombak hip-hop bagus, tapi di Indonesia enggak laku. Sepuluh tahun lalu di luar bagus banget tapi di sini enggak.

Kalau saat ini, euforia lagi bagus. Gue sendiri kalau ombak terlalu besar gue ragu keluarin album, gue ingin melihat yang muda. Di sisi lain gue ingin menikmati, gue ingin yang lain-lain nongol. Dulu, zamannya di Amerika hip-hop tiap tahun dapat awards, tapi di sini enggak ramai, kalau dari orang industri dulu bilangnya ini (hip-hop lokal) enggak hasilin duit. Gue bingung enggak hasilkan duitnya di mana? Pikiran piciknya, apa sengaja enggak dikasih tempat?

Gue ada di titik gue bermusik, bermusik saja enggak melihat ombak besar apa kecil. 

Dengan sorotan yang besar dan ditunjang era internet yang membuat siapapun bisa mendapat ekspos, apakah menurut Iwa saat ini komunitas hip-hop masih relevan?

Komunitas penting, tapi bukan segala-galanya. Gue selalu bilang itu dari tahun 90-an, sebelum era internet sebesar sekarang. Ketika like and dislike dari komunitas yang enggak bsa bikin lo naik, itu disayangkan. Gaul penting, tapi bukan segalanya. Ketika lo enggak ngasih warna tapi cuma dikasih warna di pergaulan lo, itu akan menjadi enggak penting (masuk dalam komunitas). 

Dengan berkomunitas, lo seharusnya jadi punya wawasan, bikin lirik lebih luas, bukan jadi memikirkan hierarki. Itu yang bikin gue suka gedeg. Ini terjadi dari dulu, gue dengar dari yang curhat ke gue.

Yang menarik sekarang banyak pertapa-pertapa yang kita enggak temuin di komunitas tapi bagus dan mereka mendalami hip hop banget. Misal dia anak komplek, ya enggak perlu nulis lirik soal kehidupan jalanan. Itu kenapa gue suka Rich Brian. Kalau lo enggak thug life, enggak usah gaya thug life. 

Jika kita bicara genre musik lain,  sesekali terlintas pembahasan seputar identitas musik Indonesia dalam terjemahan berbagai genre. Menurut Iwa, bagaimana dengan hip-hop? Aapakah kita punya apa yang disebut identitas hip-hop Indonesia?

Sedang dalam perjalanannya. Dibanding pop, jazz sama rock yang lebih dulu ada. Kenapa jazz, rock, dangdut bisa bertahan lama di kultur kita, karena genre itu sudah menyatu dengan attitude lokal. Ibaratnya, lo tanam jeruk California di sini, dia akan tumbuh dengan elemen organik tanah di sini. Tidak mungkin jeruk itu jadi higienis sendiri. 

Hip-hop di Indonesia mengalami proses evolusi sama dengan genre-genre lain. Awal-awal album gue nongol, ada kritikus yang bilang ke gue kalau setahun dua tahun ke depan tren hip-hop ini hilang. Lihat buktinya? Bicara lokal bukan berarti etnik atau pentatonis, tetapi dari tema, lirik atau attitude. 

Pada era seperti saat ini, masih relevan bagi musisi untuk menulis materi semata demi memuaskan pasar?

Buat gue yang penting karya memang dibuat pakai cinta bukan karena pengin pamer. Ini terdengar bullshit dan klise. Tetapi, ketika orang melakukan dengan cinta hasilnya beda.

Apa Iwa masih mendengarkan perkembangan musik-musik Indonesia terkini?

Kalau lagi proses album, gue menghindari mendengarkan hip-hop. (Kalau sedang membuat album) Gue jusru mendengarkan Beatles. Sekarang gue lagi proses kreatif, gue jarang banget mendengar yang baru-baru, tetapi kalau lagi nongkrong sama teman ada saja yang kasih dengar rekomendasi.

Bagaimana pandangan Iwa soal masa depan hip-hop Indonesia?

Gue suka Ramengvrl, Tuantigabelas, Rich Brian. Itu hal yang menenangkan gue. Ada juga Mario (dari) Jogja. Kalau dulu ombaknya besar, sekarang variannya lebar.

Seperti tradisi musisi hip-hop pada umumnya, regenerasi akan terjadi dengan menempatkan diri sebagai produser dan mengembangkan talenta-talenta baru. Apakah Iwa juga memiliki rencana untuk memproduseri musisi hip-hop muda?

Itu cita-cita yang belum kesampaian. Dari sekarang ada beberapa konsep yang sudah diomongin di awal tahun. Mulai dari (memroduseri) solo sampai band sudah ada. Tapi gue pengin ada waktu yang khusus untuk mengurus itu, gue enggak bisa multitask. 

Menurut Iwa, apa yang penting untuk disuarakan para rapper dan musisi hip-hop Indonesia, melihat peta sosial-budaya yang terjadi di Indonesia hari ini?

Attitude lokalitas, karena attitude itu jadi pilar. apapun yang lo ludahin di hip-hop dengan gaya lo yang radikal, chill, enggak melulu tentang lo paling bener dan orang lain salah. Di hip-hop, orang baru gede dikit "digituin" sampai jatuh lagi. Itu yang terjadi di 2000-an awal sampai akhirnya scene-nya sibuk dengan masalah internal saja. 

Dulu, orang Malaysia belajar hip-hop di sini. Sekarang, mereka jadi lebih settle. Mereka sekarang punya atttiude-nya sendiri dengan unsur Melayu.

Jika melihat musisi hip-hop yang eksis hari ini, terasa seperti ada generasi yang "terputus." Apakah hal itu memang terjadi?
 
Kalau gue ngomong gini, tapi bukan ini berarti gue ya. Maksudnya, hip-hop bukan tentang gue. Ketika gue enggak aktif di hip-hop, orang nyalahin gue. Dulu gue sempat jadi presenter olahraga lama. Kemudian ada yang bilang (putusnya regenerasi) karena yang menggerakan tidak ada. Masa tidak bisa gerakin sendiri? Gue menempatkan diri gue sebagai penikmat dan pelaku, soal istilah legend itu bukan datang dari pihak gue, karena dengan title legend itu secara bisnis justru merugikan gue, enggak bagus. Karena orang pada akhirnya melihanya karya gue yg lama-lama.

Gue mengikuti (lika-liku hip-hop lokal) tetapi enggak pernah ikut sampai yang urun-rembuk karena mereka sudah pada besar, sampai sempat ada masalah soal attitude di hip-hop lokal. Kalo gue melihatnya itu tidak ada masalah, biar hip-hop di Indonesia berkembang dengan sendirinya, bertumbuh dengan sendirinya. Orang yang tanpa skill hanya mengandalkan sosmed bisa dikenal sebagai musisi hip-hop, sementara dari segi musikalitas dan estetika tidak ada. Kemudian itu pada dipermasalahkan. Kalau gue melihat kayak gitu, tinggal cari jalan tengah saja, kasih input saja agar banyakin manggung. Hal-hal kayak gitu tidak perlu dimusuhin, yang penting hip-hop hidup. 

Di Indonesia, hip-hop jadi salah satu genre yang cair. Para musisi hip-hop dari berbagai daerah mampu menerjemahkan musik hip-hop dengan kultur masing-masing, terutama dari segi bahasa. Apakah unsur lokalitas kedaerahan itu justru jadi pilar penting dalam perjalanan menuju identitas hip-hip Indonesia?

Sebelum dulu gue bikin album, gue dulu sering bolak-balik Jepang, dulu gue enggak punya nyali nge-rap bahasa indonesia. Gue pakai bahasa Inggris, bahasa Jawa, bahasa Ambon, bahasa Sunda. Sampai gue ditantang sama anak jazz untuk bikin pakai bahasa Indonesia, akhirnya gue mencoba bikin. Ketika dulu bikin Batman Kasarung, banyak orang enggak ngerti tapi suka, itu pakai bahasa Sunda. Bahasa daerah itu kekayaan yang kalau dimanfaatkan itu jadi penunjang hip-hop indonesia.

Banyak jalan membuat hip-hop ini punya (nilai) lokalitas

Pada tahun lalu, Iwa sempat mengalami masalah hukum terkait dengan kepemilikan ganja. Apakah Iwa punya rencana membagikan pengalaman saat berada di dalam tahanan melalui buku?

Ketika dalam "pesantren" gue memang banyak menulis, mau tidak mau,. Beberapa lirik lagu ke depan sebagian gue tulis di dalam (penjara). Gue tulis dalam bentuk jurnal, dalam jurnal itu ada beberapa bait, gue tandai pakai tanggal, nanti akan gue sambung. Mungkin akan jadi belasan (lirk lagu).

Untuk dijadikan buku sudah ada rencana awal tahun ini, tetapi (waktunya) sudah terlewat, Mungkin tahun depan

Apa pelajaran berharga yang Iwa dapat dari dalam penjara?

Life is all about acceptance. Ketika lo bisa accept yang terjadi di hidup lo, lo bisa melakukan apa saja. Itu yang gue rasa ketika gue menerima apa yang terjadi, gue jadi lega dalam melakukan sesuatu

Kapan lo "menerima" apa yang terjadi pada waktu itu?

Sebenarnya dari pertama tangan gue dipegang (ditangkap).

Gue bukannya enggak stres, tapi gue enggak memikirkan yang enggak bisa gue dapat. Banyak hal lain yang bisa gue nikmatin. Enggak setiap hari gue menjalani hal itu. Itu seperti hadiah buat gue. Banyak banget pelajaran di situ, Ini priceless banget, Gue bilang sama teman-teman di situ (penjara), 'Bray, kita sebenarnya orang-orang yang dipilih, kita dikasih hadiah, ibaratnya hadiah, kalau dikasih hadiah motor misal enggak benar mengendarainya ya bakal nabrak,' free will lo yang menuntun lo ke mana. Kalau gue dengan hadiah ini gue berpikir, ngapain gue pakai (narkoba) lagi. 

Terus gue juga menemui orang-orang dengan latar belakang yang berbeda,bisa ngobrol dengan mereka, semua karakter yang gue temui itu gue tulis. Pikiran gue harus terus terisi, tidak boleh kosong. Jadinya menulis terus, karena kalau kangen sama keluarga itu menyakitkan. Gue juga alihkan rasa kangen dengan olahraga, sebelum tidur pun gue olahraga, sampai keringetan baru tidur. Harus ada yang gue lakukan, pikiran enggak boleh kosong. Gue merasa pengalaman itu adalah hadiah. 

Satu hal yang gue pegang, dari segala sesuatu yang ada, lo bisa ambil jalan putih apa hitam. Gue ambil jalan positifnya. Sehancur-hancurnya gue, gue orang yang memikirkan keluarga gue.

Gue dulu nulis biasa dengan pakai (narkoba), tetapi sekarang gue bisa menulis tanpa make. Penjara jadi tempat gue melatih diri. Di situ gue punya ruang lain dari diri gue juga. Ruang escape gue. 

Orang bilang gue junkie, ya memang gue junkie, orang-orang tidak mudah menerima itu. Tapi gue woles (santai) saja, gue simpel saja toh mereka tidak tahu gue sekarang bagaimana. Hidup ini dibikin woles saja, Mau orang judge kita, biarin saja. Mereka tidak kenal kita, jadi ya sudah. Dibikin santai saja

Bagaimana pendapat Iwa soal musisi hip-hop yang vokal beropini tentang politik?

Itu wajar, Berpandangan soal politik wajar, tetapi apakah akan masuk ke politik praktis atau bukan? Hal itu wajar entah terang-terangan atau subliminal, tetapi kalau gue enggak ke politik praktis. Meski itu sah-sah saja. Sah dan wajar juga ketika orang hip-hop punya figur politik yang dia suka. Santai saja, tetapi ya jangan norak. Hidup bukan cuma soal politik saja, banyak hal lain. Jangan karena berbeda pandangan politik terus dibawa-bawa ke kehidupan pribadi. Hidup sangat luas. Bebas mau bicara politik lewat musik, mengekspresikan dalam bentuk karya. Itu  wajar. Cuma self-reminder, hidup bukan soal itu doang. pemimpin cuma lima tahun sekali, jangan sampai kehilangan teman, tetangga hanya karena berbeda.

Apakah Iwa masih sering mendengarkan musik di luar hip-hop?

Masih, tapi musik 90s. Atau gue dengar sound-sound untuk referensi. Gue juga masih dengerin The Doors, Genesis, Pink Floyd, Sting, The Beatles. Dulu gue memang mendengarkan lagu-lagu yang lebih tua dari generasi gue. Kebetulan musik-musik 90s banyak ambil sound-sound dari 70s. Kalau dari musisi Indonesia gue masih dengerin lagu-lagu Kang Harry Roesli, Benyamin.

Apa band Indonesia yang Iwa K dengarkan?

Gue suka Gigi, gue tong sampah musik (mendengarkan segala jenis musik). Slank album-album lama juga masih gue dengerin. Gue juga banyak belajar dari genre-genre lain, mereka enggak sadar gue pelajarin. He-he-he, soal bagaimana soal menuangkan kreativitas di musik. 

Bicara soal spirit hip-hop, apakah Iwa melihat ada perbedaan antara spirit musisi hip-hop era Iwa K dulu dengan musisi hip-hop generasi sekarang?

Spirit sama, persepektif yang berbeda. Itu wajar, tiap zaman ada angle-nya masing-masing. 

Mereka (musisi hip-hop generasi saat ini) lebih kaya referensi, mereka cepat menyerap. Meski sama-sama pegang gadget, tetapi cara mereka menyerap berbeda, lebih cepat. Dari musikalitas juga lebih berani.

Pertanyaan intermeso, dulu waktu kecil sebelum mengenal hip-hop, apa cita-cita Iwa K? 

Dulu setiap maghrib gue selalu nongkrong di atas genteng, dengan satu keinginan diculik UFO (Unidentified Flying Object). Gue koleksi buku-buku UFO. Dulu gue punya boneka alien kayak di film E.T., gue taruh di halaman dengan pikiran bisa memancing alien. Hal itu membuat gue ingin jadi astronot. 

Sampai sekarang masih percaya eksistensi makhluk luar angkasa?

Sampai sekarang gue berpikir ini semesta gede banget, enggak usah GR kita sendirian di sini. Gue sampai sekarang punya asumsi yang mungkin salah, kadang-kadang gue berpikir apa yang orang bilang jin itu mungkin alien. Karena kita masih berpikir jarak secara fisik, bukan dimensi. 

Apakah hal itu pernah Iwa tuangkan dalam musik?

Ada satu lagu tentang apa yang gue lihat. Harusnya lagu itu judulnya Selamat Datang, cuma salah cetak jadi judulnya Piring Terbang. Gue dulu pernah melihat di halaman belakang, ada benda bulat mengambang di udara. Kalau gue cerita ke orang, orang bilang itu khayalan. Tetapi itu yang gue lihat secara nyata. Gue enggak tahu juga apa sebenarnya itu, apalagi dulu terlalu banyak zat yang berkecimpung di badan gue, ha-ha-ha.
 


(ASA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG INDONESIA MUSIK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA INDIS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 19-10-2018