Rama Satria, Spiritualisme Blues dan Keputusan Meninggalkan Narkoba

Agustinus Shindu Alpito - 06 September 2017 15:14 wib
Rama Satria (Foto: Metrotvnews/Shindu)
Rama Satria (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Rama Satria adalah salah satu gitaris Indonesia yang punya pengalaman luar biasa. Bersama grup Jaque Mate, Rama pernah tampil membuka konser Aerosmith di Boston, juga diundang dalam tur Stevie Ray Vaughan dan mendapat kesempatan bermain musik dengan Wes Jeans, Lance Lopez, dan band Stevie Ray Vaughan yang bernama Double Trouble. Selain itu Rama mendapat kesempatan bermain bersama B.B King, Slash, Joe Bonamassa, dan The Band of Gypsys, sebuah grup yang tercatat pernah memiliki gitaris bernama Jimi Hendrix.

Rama adalah wajah lain dari dunia musik Indonesia. Dia tidak memaksakan diri mengarahkan sorot lampu kepada dirinya untuk popularitas semata. Namanya memang samar-samar terlihat, namun dia terus bertahan dengan idealismenya tanpa peduli pandangan orang. Bagi Rama, blues lebih dari sekadar musik. Blues sebuah spiritualisme yang hidup dalam dirinya.

Gitaris sekaligus vokalis Barasuara, Iga Massardi, sempat menyebut nama Rama Satria sebagai guru gitar paling berkesan dalam perjalanan musiknya.

“Gue awalnya sama sekali enggak tahu blues dan gue dapat banyak hal dari dia. Dia seperti ‘Blues Priest.’ Gue respect dia as a player. Kalau lo mau tanya blues, Rama orang yang bisa jawab A sampai Z, Z sampai A.”

“Menurut gue dia gitaris blues nomor satu di Indonesia. Ini subyektif. Gue menikmati sekali dia bermain blues,” kata Iga kepada Metrotvnews.com, pada 2016.

Baca juga Iga Massardi Menyulut Bara dalam Nama Suara

Lahir di Bandung pada 29 Mei 1983, Rama Satria Claproth adalah Warga Negara Indonesia berdarah Spanyol. Rama mulai belajar bermain gitar pada usia 9 tahun. Awalnya, Rama bermain gitar klasik, beberapa tahun kemudian dia belajar jazz. Musik adalah hidup Rama, sedangkan blues seperti darah yang mengalir di nadinya. Sepanjang hidupnya, Rama telah berguru kepada lebih dari 25 guru gitar dari berbagai genre musik. Dia sempat studi di Berklee College of Music jurusan Jimi Hendrix Lab, juga mengenyam pendidikan di The Univeristy School, Amerika Serikat.


Rama Joe Bonamassa 2005 Dallas Texas (Foto: via Facebook Rama Satria)

Menyaksikan aksi panggung Rama merupakan pengalaman yang menyenangkan. Rama totalitas ketika di atas panggung, energinya begitu besar dan dapat dirasakan oleh mereka yang menyaksikan. Dia tidak semata menyuguhkan aksi atraktif, teknikal yang matang, atau unjuk gigi dengan kecepatan tangan memainkan lick-lick mengagumkan. Namun Rama mampu menghadirkan sebuah pertunjukan yang bernyawa dan meyakinkan penonton bahwa memang blues adalah hidupnya.

Proses wawancara dengan Rama Satria terjadi pada awal September 2017. Rama memilih menjawab serangkaian pertanyaan melalui surel dan WhatsApp. Rama terkesan terbuka perihal dirinya, termasuk berbagi cerita personal tentang persoalan berat yang pernah dilaluinya, hingga keputusannya meninggalkan narkoba. Berikut hasil wawancara kami dengan Sang Blues Priest Rama Satria!


Bagaimana pandangan Rama terhadap perkembangan musik blues di Indonesia pada saat ini?
Secara keseluruhan hampir tidak pernah saya pantau. Tapi kalau pas lagi iseng mantau it all comes 50/50. Beberapa ada yang real dan beberapa hanya berproklamasi diri saja alias "sok ngaku" Bluesman yang bermain musik jenis pop atau memainkan blues dengan TIDAK BENAR atau TIDAK SELAYAKNYA.

Bahayanya yaitu bagi yang berproklamasi diri mereka telah cukup berhasil memperkenalkan masyarakat bahwa "buah durian" adalah "buah jeruk". Artinya masyarakat tidak diperkenalkan "wajah" blues yang sebenarnya sehingga masyarakat ibaratnya akan mengklaim bahwa Britney Spears jenis musiknya adalah Thrash Metal.

Banyak sekali yang gemar mencapkan/melabelkan dirinya sesuatu yang sebetulnya bukan diri mereka yang sebenarnya. Jauh sekali dari apa yang mereka selalu melabelkan dirinya. They do not know who they really are. Sangat memprihatinkan. Mereka bilangnya "komunitas". Saya pribadi melihatnya bukan komunitas tapi sebagai a "pack". Mental "pack" tersebut yaitu "if you are not with us" maka Anda adalah ancaman atau an outsider, tetapi kalau "if you are with us" maka Anda adalah "a part of us".

Sedangkan saya, I have my own seat. Rama Satria is Rama Satria. I was already playing the blues before it was cool. Perkembangan blues di Indonesia overall saya lihat knowledge-nya saja dulu, ternyata Indonesia masih memandang blues di sebatas hanya "Give Me One Reason"-nya Tracy Chapman. "Still Got The Blues"-nya Gary Moore. "Little Wing"-nya Jimi Hendrix. "Chevrolet"-nya Robben Ford and that's it.


Rama Satria (Foto: Metrotvnews/Shindu)


Dari sudut pandang industri, mengapa ekosistem atau geliat musik blues di Indonesia belum menunjukkan sesuatu yang menjanjikan? Terutama dibanding dengan genre lain yang belakangan mulai terasa bergeliat dari sisi industri.
Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, ada banyak self proclaimers yang tidak memperkenalkan the real face of the blues kepada masyarakat. Selama ini it has always been a big lie. Gimana mau "terasa besar" kalau disuap oleh self proclaimers terus-terusan? Mereka yang ngakunya musisi sudah terlalu betah dengan dusta dan resah dengan kebenaran. Masyarakat sebagian besar hanya akan "say yes" saja secara terus dan menerus jika hal ini tidak diluruskan.

Blues adalah sakral. Membawa nama Blues dengan output yang penuh dusta is just very wrong. Daging sapi bukan termasuk golongan sayuran.


Apa tantangan terbesar menjadi musisi blues di Indonesia?
Tantangan terbesar adalah mengedukasikan masyarakat yang sudah lama dibohongi, memperkenalkan kepada mereka bahwa ini loh yang real. Jelas akan ada serba "tapi kan", "kok gitu", "oh tapi katanya si (sebut nama)", "mana yang benar nih", dsb. Pada mulanya pasti akan ada kebingungan. Meng-install ulang enggak akan gampang. It will be hard. We'll see.


Lantas, apa yang membuat Rama Satria begitu konsisten dengan blues?
Passion and love for it.


Apa hal yang membuat seorang Rama Satria bertahan dengan idealismenya?
"Normal" menurut versi diri sendiri itu selalu lebih baik dari pada "normal" menurut versi orang lain. Salah satu mentor saya bernama Amien Kamil pernah bilang dan menasihati saya, "Jagalah kewarasanmu baik-baik dan hormatilah kegilaanmu."


Rama salah satu gitaris blues Indonesia yang pernah tampil dengan sederet legenda dan ikon musik dunia. Apa pelajaran yang Rama dapat ambil dari pengalaman itu?
Bukan "bertemu" saja tapi justru perform bersama mereka, tampil bersama mereka, tinggal dengan mereka, dsb. Blues adalah bahasa tanah. Faktor lingkungan, keimanan, waktu, dan pengalaman-pengalaman pribadi sangat berbicara. A personal spiritual journey yang pada akhirnya bisa di-share. Tidak seperti di Indonesia yang selalu diserap sebagai "lomba" atau "olimpiade.” Musik khususnya Blues adalah pendetoks jiwa, bukan seperti pada umumnya di Indonesia yang mentalnya serba "oh siapa yang lebih jago," dsb.


Rama Satria tengah berbincang dengan maestro gitar Les Paul (Foto: via Facebook Rama Satria)


Apa yang memutuskan Rama kembali ke Indonesia setelah studi musik di Amerika? Mengapa tidak melanjutkan karier musik di sana?
Saya lahir di Bandung. Saya warga negara Indonesia. Ada beberapa plus dan minus antara Indonesia dan Amerika. Afterall networking di Amerika yang sudah lama saya bina sejak 2001 masih terjaga dengan baik dan kami masih keep in touch.


Jika menurut Rama ada musisi yang memproklamasikan diri sebagai musisi blues meski tidak membawakan blues, lalu bagaimana cara awam membedakan mana musisi blues sejati dan mana yang sekadar bermain citra? Adakah ciri-ciri dari kedua hal itu?
Ciri ada macam-macam. Tidak ada ciri yang spesifik sebab banyak sekali. Yang jelas yaitu the consistency. Kejujuran jati diri. Bukan yang sebentar berubah-ubah. Menjadi palsu itu mudah. Menjadi real itu yang paling sulit. Thank God buat saya terbalik. Sulit sekali bagi saya untuk menjadi palsu dan mudah sekali bagi saya to stay as real as I can be.


Sudah cukup lama penggemar Rama menantikan album baru. Mengapa hingga saat ini Rama belum merilis album baru?
Jujur saja karena lagu-lagu saya terlalu banyak. Saya bingung lagu-lagu yang mana yang mau dimasukkan ke dalam album. Tapi bocoran dikit saja ya, sudah 70% on the way.


Bicara soal metode rekaman, Rama memilih merekam lagu dengan cara "todong" atau direct?
Todong atau direct tergantung lagunya. Cocok-cocokan saja sih sebenarnya. Biasanya experiment dulu coba satu per satu dan pilih yang terbaik. Kalau untuk live jelas saya prefer todong.


Bagaimana proses kreatif Rama Satria dalam menulis lagu? Adakah kebiasaan-kebiasaan tertentu untuk itu?
Kadang-kadang lirik duluan, gitar belakangan. Kadang saya iseng main bass dan dapat riff line yang asyik, combine dengan gitar, lirik belakangan. Enggak ada cara khusus, bebas saja karena semuanya tergantung momen dan timing. Setiap lagu memiliki kepribadian masing-masing dan story/proses tersendiri.


Apakah Rama percaya narkoba berpengaruh baik dalam proses kreatif bermusik?
Menurut saya tidak. Kreativitas dan performance yang jujur adalah kreativitas dan performance yang murni, tanpa hadirnya substance using. Drugs is the downfall of music.


Blues identik dengan jeritan hati, terlebih bagi mereka yang merasakan getirnya hidup. Apakah Rama memiliki pengalaman hidup yang gelap dan menggetarkan?
Wow! Ada banyak sekali. Blues tidak semestinya selalu negatif, gelap dan sedih. Blues juga mengandung banyak berkat. Di usia yang sangat muda banyak pengalaman-pengalaman yang belum tentu pernah dialami oleh orang-orang yang sudah berusia tua. I been in very dark places, again there is a saying "that's life".

Salah satu faktor yang mengubah hidup saya untuk selamanya adalah kepergian ibu saya pada tahun 2000. Hancurnya rumah tangga saya 2007, perceraian, jauh dari anak-anak saya, saya dilarang menemui anak-anak saya, total mental breakdown adik saya 1999-2007, rumah terbakar habis tanpa sisa 2008, sempat terjerat narkoba on-off 1995-2008, anak saya yang kedua lahir prematur dan divonis buta, saya doa kepada Tuhan supaya anak saya tidak buta, Tuhan mendengar, anak saya bebas dari kebutaan tetapi rutin terapi dan menggunakan kaca mata.

2013 saya berhenti total merokok dan alkohol setelah saya menikah lagi pada tahun 2012. Anak saya yang ketiga lahir 2013 dan didiagnosa autisme pada tahun 2016. Tidak gampang memang, tapi banyak pelajaran yang saya ambil. Menerima hal-hal yang di luar kontrol saya secara ikhlas. Bersyukur setiap hari baik di hari-hari yang menyenangkan atau di hari-hari yang buruk. Kita enggak sendirian, banyak yang lebih susah dari kita. Saya belajar untuk jangan "jalan sendiri" tetapi undanglah Tuhan di setiap langkah yang kita buat. There is always hope, don't give up.   


Rama Satria (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Rama punya pengalaman panjang dengan narkoba. Menurut Rama, apakah obat-obatan terlarang adalah bagian dari gaya hidup bermusik atau menikmati musik?
Drugs adalah musuh musik. Harus dilepas dan bisa dilepas.


Momen apa yang membuat Rama berhenti menggunakan narkoba?
Saya sudah di titik di mana saya sudah kapok tetapi tetapi enggak bisa berhenti. Di momen-momen itu saya “menantang” Alkitab dan secara sembarang saja saya buka (Alkitab) dan tunjuk apapun yang sudah terbuka. Di setiap ayat-ayat yang saya tunjuk semuanya sinkron dengan apa yang sedang saya alami. Di momen itulah saya tahu bahwa Tuhan sedang menuntun saya kepada arah yang benar. Saya menerima Jesus Christ sebagai my Lord dan juru selamat saya. Di dalam nama Jesus saya melihat adanya kedamaian dan sukacita. Saya mulai mendengar banyak lagu-lagu rohani terutama dari Rev. James Cleveland setiap hari. Ini adalah momen yang terbalik. Sejak dulu saya selalu make fun bahwa Tuhan itu enggak nyata, I used to make fun of these things. Well, look who saved and healed me?


Apa perbedaan yang Rama rasakan saat bermusik dalam pengaruh narkoba dan tanpa pengaruh narkoba?
Bersama drugs saya menjadi insecure, enggak ada "grip," enggak ada pegangan yang hidup. Sifat fun-nya hanya temporer sementara saja and it brings you to dark places. Tanpa drugs saya merasa lebih bebas, saya memiliki pegangan “grip” yang nyata dan hidup. Saya bersyukur dari hal-hal yang paling kecil, grateful and happy. Secara musikal saya merasa lebih open, saya bisa mendengar semuanya menjadi lebih detail dan jelas. Main gitar menjadi lebih fokus, matang, dan lebih “behave.The high of being sober is a lot higher daripada being hign on drugs.


Di samping bermusik, apa kegiatan Rama sehari-hari?
Mengajar gitar privat di rumah. Saya juga buka jasa reparasi gitar.


Apakah Rama punya hobi lain di luar musik?
Selain ngajar privat dan reparasi gitar saya coba berusaha sering olahraga khususnya yoga dan lari. Nonton DVD kalau lagi santai atau nonton wrestling. I am a BIG wrestling fan since 1986!!! 30 years plus!


Rama pernah terlibat dengan grup musik Electron 45 yang mencampurkan genre elektronik dengan rock alternatif. Apakah Rama juga menyukai musik elektronik? (Drummer Electron 45 adalah Tyo Nugros, mantan drummer Dewa)
Enggak semua jenis musik elektronik, ada musik elektronik tertentu yang saya suka beat arrangement-nya dan sangat membantu melatih teknik rhythm saya sebagai gitaris. Sering juga saya sadar bahwa musik elektronik bisa membantu gitaris berimprovisasi menciptakan sebuah riff line, atau licks line dsb. Really fun stuff to do!


Rama Satria (Foto: Metrotvnews/Shindu)


Terakhir, dari sekian banyak musisi di Indonesia, siapa yang paling Rama Satria kagumi dan hormati? Mengapa?
Kagumi dan hormati bukan berarti saya suka dengan musiknya. Di Indonesia hanya satu tokoh musisi yang saya sangat kagumi dan hormati tapi saya tidak suka dengan musiknya yaitu Rhoma Irama. Dia raja di bidangnya. Konsisten. Tidak berubah-ubah. Dia bangga dan jujur dengan jati dirinya sebagai musisi. Dari 250 juta penduduk di Indonesia mayoritas sebagian besar adalah lovers jenis musik yang dianuti Rhoma Irama, ini objektif. Rhoma Irama sudah puluhan tahun membuktikan and he is real in what he do as a musician. Musically he represents the face of Indonesia.


 


(ELG)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG INDONESIA MUSIK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA INDIS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 26-09-2017