DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 12.459.578.391 (16 AGUSTUS 2018)

Nona Ria yang Ceria

Cecylia Rura - 20 Januari 2018 10:21 wib
Nona Ria (Foto: medcom/shindu)
Nona Ria (Foto: medcom/shindu)

Jakarta: Pelan-pelan menggeretak warna musik Indonesia, tiga perempuan muda dari berbagai latar belakang berbeda, Nesia Ardi, Nanin Wardhani, dan Yashinta Pattiasina mencoba bermusik lewat permainan jazz swing dan ragtime.

Seolah memanggil penikmat musik menoleh ke belakang mendengar melodi kenangan, trio jenaka yang menamai diri mereka Nona Ria itu memilih bermain alat musik akordeon dan string biolin. Perpaduan melodi itu kemudian dibubuhi selingan 2-4 ketuk stik brush yang ditabuhkan pada snare drum yang terdengar lembut. Sadar akan komposisi musik yang dibawakan untuk bernostalgia, ketiganya selalu kompak mengenakan busana bernuansa vintage saat tampil bermusik.

Histori mereka tak berakar di situ. Awalnya, Nesia Ardi sebagai vokalis menggagas band format trio mengajak kawan-kawannya untuk bermusik.

"Pada suatu hari, saya mau bikin band, terus ajak Nanin. Terus, karena kita sering dibilang mukanya mirip, sama satu lagi namanya Rieke Astari, ini pemain akordeon sebenarnya sebelum Yashinta masuk. Jadi Rieke, Nanin, sama saya akhirnya kita memutuskan untuk bikin band," kata Nanin saat menyambangi kantor Medcom.id, belum laa ini.

Belum tercetus nama Nona Ria pada formasi awal yang menggandeng duo pianis saat itu. Mereka lebih banyak bermain dengan mengkaver lagu-lagu lawas dan mendengarkan lagu-lagu jazz standar seperti It's Only Paper Moon, kemudian lagu Minsondah, Penjaga Sapi yang kerap dinyanyikan oleh Nesia saat menjemur kain.

Tabuhan snare pun tak pernah direncanakan sebelumnya oleh Nesia yang saat itu berada di posisi vokalis. Coba-coba ia memainkan snare drum dengan format 2-4 ketuk. "Latihan dan akhirnya pada gig kedua spontan bermain snare," lanjut Nesia.

Formasi mereka pun berubah setelah Rieke yang saat itu bermain akordeon hijrah ke Papua mengikuti suaminya. Sebelum Rieke hijrah, mereka berempat sempat bermain bersama di ajang Indonesian Jass Festival tahun 2013.

Nesia kemudian mengajak Yashinta untuk bergabung. Nesia dan Yashinta merupakan kawan sejawat sejak di bangku perkuliahan. Keduanya sama-sama menuntut ilmu di Institut Musik Daya Indonesia (IMDI).

"Pernah sama Rieke, ajak (Yashinta) sekali tahun 2013 di Indonesian Jass Festival. Kayaknya cocok-cocok saja dan dia (Yashinta) seleranya juga mirip. Bukan mirip, tapi sama. Kita suka yang vintage, suka yang lama, jazz juga," kata Nesia.


Nona Ria (Foto: instagram nonariamusic)

Masing-masing personel bukan orang baru di panggung hiburan Indonesia. Nesia Ardi dengan latar belakang studi musik merupakan vokalis yang sudah berlalulalang bekerjasama dengan musisi jazz ternama antara lain Idang Rasjidi, Sandy Winarta, Nikita Dompas, Sri Hanuraga, Nial Djuliarso, Shadow Puppets, Tjut Nyak Deviana Daudsjah, Glen Dauna, Benny dan Barry Likumahuwa, The Extra Large, Chaplin Band, Harry Toledo dan Oele Pattiselanno. Pada formasi baru Nona Ria, Nesia bergerak sebagai vokal dan penabuh snare drum.

Sedangkan Nanin Wardhani dikenal piawai bermain piano sejak dulu. Ia sempat memenangkan kompetisi Jazz Goes To Campus pada 2007 dan menyandang gelar Best Keyboardist saat itu. Beberapa musisi yang pernah berkolaborasi dengan Nanin di antaranya Beben Jazz, Inna Kamarie, dan Pandji Pragiwaksono.

Kepiawaian Nanin bermain piano pun berasal dari campur tangan pianis jazz Andi Wiriantono. Kendati mahir memainkan tuts piano, Nanin sendiri berangkat dari latar belakang studi Komunikasi di Gandhi University, berbeda dengan Nesia dan Yashinta yang sejak awal menekuni ilmu musik di IMDI. Nanin memainkan akordeon untuk musik-musik Nona Ria.

Lalu Yashinta Pattiasina, adalah pemain biolin yang dikenal aktif dalam Jakarta Simfonia Orchestra dan Jakarta Concert Orchestra. Beberapa grup musik yang sempat menggandengnya bekerjasama antara lain Chroma String Quartet, Notturno, dan Shadow Puppets. Kehadiran Yashinta kemudian memberikan warna suara baru lewat gesekan biolin yang dimainkan.


Nona Ria (Foto: medcom/shindu)

Sebagai tiga perempuan yang tergabung dalam satu grup, bukan hal yang mudah bagi mereka untuk bisa menjaga keharmonisan hubungan. Nona Ria pun tak selalu ceria. Salah satu dari ketiganya akan menjadi penengah di antara kedua yang berselisih paham. "Justru itu lucunya, saya yang paling suka down, mood suka goyang, kalau lagi sedih, obatnya kita memang dari Nona Ria. Setelah itu enggak sedih lagi," cetus Nesia.

"Karena energi dari penonton juga biasanya, interaksi sama penonton selama ini menyenangkan banget. Apalagi ditambah pada dasarnya pelawak ya," timpal Nanin.

"Bayangkan saja cewek-cewek semua ngumpulnya bertiga, kalau lagi dapet (haid) kan tanggalnya barengan, mepet tuh, adalah manusiawi kesel-keselan gitu. Begitu naik panggung hilang," celoteh Yasintha.

"Kalau kata Sherina, 'Lihat lebih dekat'."

Proses Kreatif dalam Warna Musik Nona Ria

Kehadiran Nona Ria (Nona Ceria) dengan perawakan jenaka di atas panggung serta persona bersahabat menjadi pemanis kemasan profil mereka selain membawakan lagu-lagu berelemen jazz dan berkiblat dari musik-musik lawas.

"Salah satu alasan mengapa kita bermain kiblatnya lagu zaman dulu karena memang kita pingin kasih sesuatu yang berbeda saja dengan yang lagi tren sekarang. Kalau anak zaman sekarang kan dengarnya model pop, edm, koplo, kita memang ingin sesuatu yang berbeda. Karena dari hasil investigasi, ciye investigasi! Hasil kita dengerin lagu-lagu zaman dulu itu keren banget. Secara musik keren secara lirik keren, kemasannya secara artistik itu holistik. Itu satu kesatuan. Visual, audio dan kontennya," cerita Yasintha.

Soal pemilihan intrumen musik dari akordeon, snare drum, dan biolin, adalah tindakan spontan dari mereka untuk bisa bermusik bersama. Memang, pertama kali melihat trio ini agak terkejut ketika alat musik akordeon dilibatkan sebagai melodi, dan string bersumber dari biolin. Namun, pada dasarnya perkumpulan mereka dimulai di panggung hiburan hanya karena hal sederhana, berwajah mirip.

"Awalnya dari dulu sama Rieke karena muka mirip. Terus aneh, masa dua pianis satu band itu mau ngapain? Jadi diakalinnya pakai akordeon waktu itu. Karena kebetulan Rieke ada akordeon," papar Nanin.

"Dan dia (Nanin) pingin belajar main akordeon dan akhirnya senang main sama kita," celetuk Nesia.


Nona Ria (Foto: medcom/shindu)

Aransemen musik mereka pun terinspirasi lewat permainan musik-musik lawas. Salah satunya permainan tuts straight piano.

Selain akordeon, permainan biolin Yasintha dalam Nona Ria terinspirasi dari permainan musik lawas yang banyak memainkan biolin. Seperti Penjaga Sapi, yang terdengar vintage. "Selain main biola saya enggak bisa main apa-apa," canda Yasintha.

Penggodogan proses kreatif dalam bermusik dikerjakan oleh ketiganya. Mereka bergilir menciptakan lirik dan aransemen musik. "Biasanya kita punya ide. Gue punya melodi ini, gue punya melodi ini. Ya sudah kita gabungin. Liriknya gimana, kalau kayak gini gimana? Nanti ada yang revisi. Kalau misalkan gini gimana? Nah, itu benar-benar yang bareng," kata Nesia.

Diksi yang terdengar sederhana pun dipilih dari bahasa sehari-hari. Seperti diksi "S'radak s'ruduk" dalam lagu Antri Yuk, kemudian Santai, dan Sayur Labu. Selain pemilihan kata-kata sederhana, ketiganya tetap menyelipkan diksi klasik sebagai warna dasar dari elemen musik Nona Ria.

Debut Album

Nesia, Nanin, dan Yasintha kemudian memutuskan untuk membuat sebuah album orisinil berbahasa Indonesia. Suguhan menu musik yang dibawakan berkiblat pada nada-nada tembang di era 60-an, ringan, dimainkan lewat diksi-diksi sederhana.

Pada 26 Januari 2018 Nona Ria akan menelurkan debut album perdana mereka dengan judul self-titled, Nona Ria. Album Nona Ria dikemas manis lewat delapan buah lagu di antaranya Sayur Labu, Santai, Antri Yuk, Hari Bahagia, Senandung, Sebusur Pelangi, Maling Jemuran, dan Salam Nona Ria.

"Kita mau bikin sesuatu yang sederhana, tentang kehidupan sehari-hari, yang mungkin orang enggak banyak tertarik untuk melihat itu. Tapi buat kita itu menarik. Kayak Sayur Labu, apa coba Sayur Labu? Tapi bayangkan kalau Lebaran enggak ada sayur labu, hampa kan hidup?" celoteh Yasintha.

Di tengah pergulatan musisi menciptakan lirik lagu romantis, Nona Ria pun menawarkan sajak-sajak sederhana dan jenaka yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Bukan menghindar, namun bagi mereka ada banyak hal indah dari hidup yang bisa 'dihidupkan' menjadi lagu.

"Yang bisa kita kemas tanpa melulu soal percintaan yang romantis, soal putus cinta, galau, bisa jadi selingkuhan, diselingkuhin, pelakor, nah itu kan tema yang, emang sih tidak lekang oleh waktu. Tapi ada banyak hal yang justru kita membawa ke hal positif itu."

Lirik-lirik jenaka dalam album mereka pun tercetus begitu saja lewat proses kreatif. "Kebanyakan main sandiwara di kepala sendiri," celoteh Nanin.

Selain album, Nona Ria juga akan mempersiapkan video musik untuk beberapa singel mereka. Yang sudah rampung, video musik singel Antri Yuk yang baru dirilis pada November 2017 di saluran YouTube. "Kita sudah berencana, kemarin sudah bikin Antri Yuk," kata Yasintha.



Setelah merilis album, Nona Ria akan mengadakan tur di empat kota, Semarang, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya. Tanggal 24 Februari 2017 Nona Ria akan mengadakan pesta rilis peluncuran di Jakarta. Para Kawan Ceria pun telah menantikan rilisan debut album Nona Ria.


 


(ELG)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG INDONESIA MUSIK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA INDIS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 17-08-2018