Jalan Pikir Jason Ranti

Agustinus Shindu Alpito - 02 Agustus 2017 15:07 wib
Jason Ranti (Foto: dok. Endy Febrinand)
Jason Ranti (Foto: dok. Endy Febrinand)

Metrotvnews.com, Jakarta: Musik folk dan pop-akustik belakangan kian semarak. Namun sayang, kebanyakan terasa seragam. Melagukan tema-tema sentimental, merayakan perasaan sendu, gundah, dan patah hati. Begitu juga dengan pemilihan diksi yang terpaku pada kata-kata puitis yang seolah mencerminkan letupan perasaan dari seorang introvert yang gemar menikmati secangkir kopi di kala hujan pada saat senja.

Namun, tidak dengan Jason Ranti. Musisi 32 tahun itu hadir dengan album penuh perdana - Akibat Pergaulan Blues - yang terdengar berbeda. Jason yang sebelumnya dikenal sebagai personel dari grup Stairway to Zinna, melakukan hal yang benar-benar berbeda dari apa yang pernah dilakukan sebelumnya, menjadi musisi solo. Dia tidak lagi berlindung pada riuh distorsi dan pukulan drum yang masif, melainkan maju sendiri bermodalkan gitar dan lirik.

Sebagai musisi solo, senjata pamungkas Jason bukan terletak dari kemampuan bermain gitar yang rumit dan atraktif, bukan pula rangkaian nada yang terdengar begitu teduh. Tetapi pada kekuatan lirik. Jason mampu merangkai sebuah lagu seperti sebuah perjalanan yang kaya makna. Menampar keras pipi kita bahwa ada realita sosial yang lebih penting dari sekadar mengglorifikasi perasaan rindu lewat lagu. Rangkaian lirik yang dirakit Jason terdengar jujur, lugas, kritis, juga slebor. Di satu sisi, memiliki sarkasme, satire, dan humor dalam takaran yang tepat.

Proses wawancara saya dengan Jason terjadi di dua bar berbeda di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Seperti lirik-lirik lagunya, gaya bicara Jason cukup gamblang. Lepas dalam berbicara, dan sesekali mengungkapkan cara pikirnya yang terdengar dalam.

Jason datang mengendarai sepeda motor bertransmisi otomatis. Penampilannya tampak santai, mengenakan kemeja flanel yang terlihat jauh lebih besar dari tubuhnya, denim potongan straight, dan sepatu Converse model klasik. Dia terlihat lebih muda dari usianya. Berangkat dengan asumsi pribadi Jason yang slebor, proses wawancara jauh melebihi apa yang saya bayangkan. Jason bukan pribadi yang asal bicara sesuka hati seperti apa yang saya tangkap dari berbagai videonya di internet. Sebaliknya, dia seorang cerdas yang peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Barangkali memang lirik adalah cara yang tepat menuangkan fragmen-fragmen kekacauan yang terperangkap dalam pikirannya.


Setelah bermusik cukup lama, mengapa baru saat ini memutuskan bersolo karier?
Enggak tahu. Gue enggak bisa menentukan, jalannya baru sekarang.

Gue merasa gue suka main musik. Suka main gitar. kadang sesuatu enggak selalu terjadi seperti yang kita pengin. Gue penginnya main rock and roll, nge-band, pakai gitar listrik, pakai overdrive. Tapi enggak kayak begitu ceritanya. Gue pikir kejadian yang kemarin-kemarin mengarahkan gue untuk sendiri saja, sendiri saja gue bisa. Sekarang juga mikirnya lebih simpel, enggak terlalu banyak pertimbangan.


Lagu Bahaya Komunis yang mencuri perhatian ditulis secara menarik dengan logika terbalik. Apakah memang seperti itu konsep musikal Jason Ranti?
Kalau Bahaya Komunis sebenarnya gue muak. Ada sebuah video yang viral, katanya sih tokoh masyarakat (menyebut salah satu nama tokoh agama). Dia bilang di sebuah simposium yang serius, ada banner gede, intinya spanduk itu tulisannya, “Bangkitnya PKI Gaya Baru.” Terus dia bilang patung tugu tani semestinya ditangkap karena membawa senjata. Enggak tahu itu dia serius apa enggak. Yang gue tangkap itu dia serius. Dia ngomong dengan muka serius. Di satu sisi gue kayak, "Emang lo pikir kita orang bego gitu? Enggak lagi!"

Seperti ada orang-orang yang melakukan trik-trik tertentu, manuver-manuver tertentu. Dan dia pikir kita orang berhasil dia kelabui.




Kemudian Jason mempertontonkan penggalan film Mississippi Burning (1988) yang dia simpan di ponselnya. Dia memperlihatkan bagaimana propaganda dilakukan seorang tokoh untuk membentuk isu soal komunis. Jason ingin menjelaskan bahwa apa yang terjadi pada hari ini tidak ubahnya seperti apa yang diceritakan dalam film itu.


Tetapi justru apa yang terjadi pada saat ini, bukankah banyak orang di luar sana yang menerima mentah-mentah berbagai propaganda yang sebenarnya tidak memiliki bukti dasar dan tidak sejalan dengan logika?
Kalau lo bertanya cara mengedukasi, gue juga enggak tahu. Tetapi ya itu jadi masalah semuanya. Maksudnya kasihan mereka (orang yang berpikiran sempit). Anggap saja lo tahu (kalau propaganda yang ada tidak sesuai logika), tetapi kasihan orang yang enggak tahu. Yang susah adalah orang-orang yang pikirannya tertutup. Benar istilah kalau bodoh itu enggak ada batasnya. Kalau pintar kan ada batasannya. Terus satu hal juga, banyak orang sekarang yang susah diajak dialog, diskusi, kecuali mungkin masuk lewat humor.


Lantas apakah hal itu (membuka pikiran melalui humor) yang mendasari Jason menulis lirik slebor yang terdengar humoris?
Gue tahu hal itu belakangan. Awalnya gue pikir semua yang gue tulis itu serius. Sampai gue berpikir, yang gue tulis itu serius karena gue bukan komedian. Terus, pas mulai sering manggung gue lihat respons penonton kok ketawa. Padahal gue enggak lucu.


Berarti lagu Bahaya Komunis, Stephanie Anak Senie dan lagu-lagu lain yang mengundang tawa di album debut tidak dirancang sebagai satire, atau komedi hitam?
Bukan untuk melucu. Gue enggak paham sarkasme atau majas-majas itu, gue ambil sudut pandang yang memang seperti ini. Cuma gue sekarang merasa agak minder membawakan Bahaya Komunis.

Misalnya begini, waktu gue menulis itu (Bahaya Komunis), ternyata semua yang gue bayangkan, semua hal yang kira-kira gue bisa hubung-hubungkan padahal enggak ada hubungannya, ternyata ada yang lebih lagi. Setelah melihat video Habib Rizieq mengatakan ada simbol palu-arit di uang kertas, gue merasa kalah! Secara imajinasi gue kalah. Jadi, gue merasa dalam banyak hal seniman itu kalah. Contoh Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dia menipu sudah bertahun-tahun, yang percaya ribuan orang. Itu akting tingkat dewa. Gue enggak pernah bertemu aktor yang bisa akting 24/7. Gue enggak tahu apakah itu bakat alam atau totalitas yang jahat. Gila ada orang yang aktingnya real banget. Atau orang-orang yang biasa menulis hoax, itu jago banget. Penulis cerpen kalah. Lihat politikus di televisi gue tahu itu akting, itu bokis (bohong), tetapi aktingnya gila.


Jason Ranti (Foto: dok. demajors)

Apakah ini berarti konsep musikalitas Jason Ranti fokus pada isu-isu sosial?
Enggak. Gue stand for diri gue sendiri. Gue mewakili pendapat gue sendiri.

Sebenarnya yang gue harapkan akan terjadi dialog. Jadi ada kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa dipikirkan. Ada ruang-ruang lain yang bisa dipikirkan.


Bagaimana proses kreatif Jason Ranti dalam menulis lagu?
Gue enggak pernah mencari inspirasi. Tetapi ya kalau yang begitu enggak apa-apa juga, kebutuhan orang kan beda-beda. Kayak ada orang yangg pengin ke Bali cari inspirasi. Boleh saja tapi buat gue itu enggak berhasil. Yang gue pelajari, inspirasi itu kan tricky. Kalau dicari malah enggak nongol. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya jadi sensitif? Karena gue curiga, inspirasi itu baik sama orang-orang yang sensitif. Semakin sensitif semakin inspired, jadi bukan nyari inspirasi.


Lantas, bagaimana kisah di balik materi-materi dalam album Akibat Pergaulan Blues?
Enggak ada yang bagaimana banget. Justru album ini sebenarnya lahir dalam fase gue "menghilang." Fase gue enggak tahu mau ngapain dalam hidup. Tadinya kan gue mau buat materi untuk Stairway to Zinna. Gue ketemu Dado (drummer Stairway to Zinna sekaligus manajer Jason Ranti) terus merekam materi buat Stairway to Zinna. Dulu lagi enggak benar. Kebanyakan "boti."

Gue enggak ingat persis masa-masa itu. Fase itu gue lupa sebenarnya bagaimana. Untung ada teman, kalau enggak ada teman mati saja gue. Misal waktu itu pas gue sedang enggak benar, Dado telepon bilang di studio lagi kosong dia tanya ke gue punya materi apa enggak, gue jawab saja punya. Padahal enggak ada materi. Terus Dado rekam gue. Kalau enggak ada teman-teman enggak tahu jadi apa gue. Gue bersyukur banyak teman yang membantu. Kalau mendengar cerita orang, gue itu nyusahin. Tetapi ada teman-teman baik yang enggak meninggalkan gue. Misalnya, gue enggak ngerti cara rekaman. Masuk studio enggak ngerti gue. Gue cuma tahu gue bisa main gitar, menulis dengan nyaman.



Album perdana Jason Ranti, Akibat Pergaulan Blues (Foto: metrotvnews/shindu)


Dalam lirik Lagunya Begini Nadanya Begitu (lagu ini tidak masuk ke dalam album Akibat Pergaulan Blues, tetapi dapat didengar via YouTube dan SoundCloud), Jason cukup frontal menyebut kata “boti.” Apakah Jason sempat di titik menjadikan obat terlarang sebagai bagian dari berkarya?
Kalau seperti itu malah enggak bebas. Itu namanya ketergantungan, bukan kebebasan. Kalau berkarya kan bebas.


Bagaimana dengan proses kreatif lagu Kafir? (lagu Kafir juga tidak masuk ke dalam album debut Akibat Pergaulan Blues, dapat disimak lewat situs YouTube dan SoundCloud)
Itu pergolakan gue, itu personal. Bagi gue ada beda menjadi religius dan spiritual. Dan buat gue, semua orang mesti cari Tuhan-nya masing-masing apapun bentuk-Nya, tetapi output-nya tetap kasih sayang, damai, harmonis. Tetapi usaha pencarian itu enggak sekadar lo ikut-ikut orangtua. Kalau ikut orangtua gue, ya gue Katolik karena gue dari bayi dibaptis. Penting untuk mempertanyakan segala sesuatu.

Yang gue alami, iman itu naik-turun. Lo susah, lo berdoa. Lo di atas, lo lupa. Atau hari ini lo yakin Tuhan ada, tetapi besok lo bisa saja enggak percaya. Itu pencarian tidak berhenti, sampai satu detik sebelum kematian. Itu pencarian terus menerus. Tetapi pencarian itu seharusnya melibatkan semua yang lo punya, pikiran lo, perasaan lo, intuisi lo, feelling lo. Enggak cuma berpedoman, “Kalau kata guru gue tuh begini.” Ada yang mencari ke luar, ada yang mencari ke dalam. Dua-duanya, oke. Tetapi kalau lo mencari ke dalam terus kalau enggak kuat lo bisa gila. Harus berinteraksi juga. Orangtua juga harus didengarkan. Mereka punya sesuatu yang kita enggak punya, setidaknya pengalaman.




Apakah lirik-lirik itu lahir karena Jason merasa sebagai minoritas (dalam konteks luas)?
Gue sadar gue minoritas. Gue enggak pernah terlalu berpikir gue begini, makanya gue begini. Gue enggak mikir itu, gue hanya melakukan apa yang menurut gue penting untuk gue sampaikan.


Dengan lirik yang terdengar kritis, dan sangat mungkin dipolitisir, apakah Jason pernah merasa takut?
Iya (takut), banyak orang jahat. Takut sih ada, tetapi gue enggak merasa salah. Gue enggak berencana untuk itu (takut terus berubah). Salah gue apa sih? Orang misal pengin bikin khilafah, ngomong di hadapan ribuan orang pakai TOA, mereka pede-pede saja. Younglex ngomong juga pede saja, 8 Ball ngomong “*******” di lagu pede saja. Jadi gue merasa biasa-biasa saja.


Apa reaksi orangtua saat mendengar lagu-lagu Jason?
Senang. Bokap gue mendengarkan Beyonce. Musik dia aneh. Kalau kesenian darah dari nyokap. Nyokap mendengarkan Led Zeppelin, The Rolling Stones. Nyokap lebih artsy, bokap teknis banget. Tetapi secara pemikiran mereka terbuka. Mereka enggak nge-judge. Misal gue enggak ke gereja, mereka juga enggak ngomel atau menyuruh. Mereka di tahap “Gue enggak peduli sama agama lo, gue lihat kelakuan lo aja.”

Bokap sempat pernah bilang gue untuk bikin lagu yang (liriknya) halus-halus saja. Terus gue bilang enggak mengerti caranya.


Hal apa saja yang menurut Jason masih harus dikembangkan lagi sebagai seorang musisi?
Kalau teknis gue pengin belajar harmonica, karena gue enggak bisa. Gue dulu pernah dengar orang ngomong main harmonica itu tiup-sedot saja. Jadi gue main harmonica begitu. Gue tahu kalau gue main di C, gue pakai harmonika C, selama gue main di tangga nada itu akan masuk. Tetapi gue enggak bisa main aman. Tapi ya sudahlah.

Sama satu lagi, kalau di sini gue kalau enggak suka sama orang gue bilang frontal saja, “Lo tai, lo bakal gue tulis biar ke-ngehe-an lo abadi. Biar semua orang tahu kalau lo bikin bangsa dan gue susah.” Tapi sekarang ada pertimbangan lain. Ada teman bilang ada ungkapan, “Better kill them with kindness.” Itu keren banget walau gue belum tahu caranya. Secara filosofi keren banget. Secara ide menarik, tapi secara praktik lebih enak marah-marah.


Saat masuk industri musik lewat album debut, apakah Jason menyusun sendiri strategi penetrasi pasar, termasuk soal citra diri?
Gue senggak sepintar itu, yang pintar mereka (tim manajemen). Kalau enggak ada mereka gue enggak tahu mau jadi apa. Album ini pun ada karena Junior Soemantri, kalau enggak dia gue enggak tahu ada album ini apa enggak. Dia (Junior Soemantri) tetangga gue, satu komplek. Tetapi sempat enggak ketemu lama, ketemu lagi di rumahnya Endah N’ Rhesa, dia menawarkan jadi produser gue. Gue enggak tahu sebenarnya produser itu ngapain. Terus dia pesan studio, dan ada beberapa adittional player dari dia, dia atur jadwal gue rekaman. Anjing, baik banget kan dia. Gue pikir produser itu yang bayarin rekaman, ternyata kagak! Ternyata gue yang bayar, fu*k!


Lalu bagaimana Jason membayar biaya rekaman album perdana itu?
Tahun lalu gue sudah kepikiran kayaknya gue bakal jadi gembel. Gue dulu pernah kerja kantoran, kerja di bank masuk program PPE, Program Pendidikan Eksekutif. Terus gue keluar dan pindah ke restoran Jepang jadi kasir. Pas gue jadi kasir lagi jaga, ketemu teman kuliah gue. Dia konsultan HRD. Itu pekerjaan aneh menurut gue, pekerjaan yang berusaha untuk mengoptimalkan sumber daya perusahaan lain tetapi internal perusahaannya sendiri enggak baik. Gaji gue kecil banget! Terus, gue bertemu teman SMP gue. Gue pacarin saja, terus belum lama ini gue nikahi. Sejak ketemu dia enggak tahu kenapa hidup gue selamat, kayak ada arahnya. Gue kayak tahu gue mau ngapain. Sebenarnya gue dari dulu tahu gue tahu mau ngapain, tetapi enggak kejadian. Dia (istri Jason) dokter, kerja di farmasi, dia suka kasih les privat, terus gue dapat kerjaan dari dia, gue ikut mengajar les anak orang, tingkat SD sampai SMP. Jadi, ya biaya album gue dari situ.




Saat ini, fase hidup seperti apa yang Jason rasakan?
Dulu gue kira hidup gue berakhir sebagai gembel. Gue bersyukur gue punya istri dan sebentar lagi anak gue lahir (saat artikel ini diunggah, anak Jason telah lahir). Tiga tahun belakangan ini titik balik hidup gue. Gue sekarang enggak pengin nge-boti apa mabuk-mabuk. Entah kenapa. Misalkan orang mau ngeband minum apa nyimeng, sekarang gue malah merasa, “Ih apaan sih!” Sekarang gue malah canggung dan kaku sama hal-hal kayak gitu. Gue tahu kalau kayak gitu, ujungnya gitu-gitu saja, gue sudah tahu ujungnya, enggak pengin lagi. Terakhir gue pengin banget mabuk, gue beli minum di Jalan Sabang, sampai rumah gue taruh kulkas karena enggak jadi pengin.


Dengan menjalani kehidupan baru berkeluarga, apakah itu memancing proses kreatif yang baru pula?
Iya.  Gue ngekos berdua sama istri gue. Awalnya gue kesulitan, karena ruangan tempat gue tinggal enggak ada sekat. Jadi, gue enggak punya privasi untuk diri gue sendiri. Awalnya susah. Kayak gue lagi bikin apa, gue kayak merasa gue lagi ditontonin. Gue tahu itu istri gue, tetapi rasanya aneh saja karena gue lama terbiasa sendiri. Tetapi akhirnya gue bisa, misal gue berdua, tetapi gue sibuk sama pikiran gue sendiri. Dan istri gue mulai memahami itu. Menurut dia awalnya aneh, karena menurut dia gue suka ngomong sendiri. Tapi itu menurut dia, menurut gue sih enggak. Terus gue suka dipanggil tapi enggak dengar, awalnya dia kesal. Tetapi gue emang enggak dengar. Pelan-pelan gue adaptasi sama keadaan.


Siapa seniman yang ikut andil memberi inspirasi Jason?
Rendra. Gue suka Nyanyian Angsa. Itu enggak bakal lupa. Guru SMA gue dulu membacakan itu. Itu mengubah hidup.

SD sampai SMP belajar puisi itu dari Chairil Anwar, Taufiq Ismail, dan Sutan Takdir Alisjahbana, yang mana bahasa mereka adalah bahasa ungkap yang gue enggak mengerti. Di gue enggak berasa kerennya. Baru setelah baca Rendra, Wiji Thukul, Joko Pinurbo, gue ngerti. Terus kayak ada perasaan, gue kayak bisa nih seperti ini. Tetapi tetap Nyanyian Angsa yang paling berkesan banget buat gue.


Jason seorang sarjana psikologi. Apa yang melatari Jason memilih studi psikologi saat kuliah?
Karena tetangga gue, keyboardist gue di Stairway to Zinna, kuliah psikologi. Habis SMA sebenarnya pengin masuk seni rupa, tapi enggak percaya diri karena merasa enggak berbakat di bidang seni visual. Bingung mau ambil jurusan apa, pokoknya selain ekonomi. Terus tetangga gue kuliah psikologi di Atma Jaya. Ya sudah gue ikut dia saja karena gue cocok main sama dia. Kebetulan gue juga enggak bisa bawa motor, dan tetangga gue itu bisa bawa motor. Jadi ya pas lah gue sekalian bisa nebeng ke kampus. Waktu itu juga pas SMA gue lagi suka melihat Salvadore Dali. Kalau dipelajari itu berhubungan sama psikoanalisis.


Pertanyaan terakhir, siapa musisi favorit Jason sepanjang masa?
Kla Project. Oasis suka, banyak sih. Dulu dewa gitar gue Noel Gallagher. SMP kelas 1 gue belajar gitar klasik, tetapi ternyata di tongkrongan enggak keren main gitar klasik. Yang keren main gitarnya Dewa, Green Day, Slank, Oasis, Blur. Sampai pada akhirnya ada tante gue yang DJ, dia punya banyak plat (piringan hitam) dan dia memperdengarkan Hey Joe dari Jimi Hendrix. Terus setelah itu gue kayak, “Dadah Noel!”




 


(ELG)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG INDONESIA MUSIK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA INDIS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 21-11-2017