DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Rayssa Dynta, Sarjana Gizi yang Lebih Tertarik Meracik Musik

Cecylia Rura - 27 September 2018 12:23 wib
Rayssa Dynta (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
Rayssa Dynta (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Jakarta: Seperti bibit baru yang mulai menampakkan kecambah di permukaan tanah, Rayssa Dynta menambah daftar musisi menjanjikan di belantika musik Indonesia. Penyanyi berusia 23 tahun itu memberi angin segar dengan musik chill-pop elektronik yang kini menjadi penanda bergantinya selera musik di era baru.

Mula-mula, instrumen piano menjadi perkenalan pertama perempuan yang akrab disapa Sasa dengan dunia musik saat masih berusia tujuh tahun. Musisi kelahiran 8 Februari 1995 itu diperkenalkan dengan musik piano oleh sang ibu. 

Musik sebagai kegiatan selingan rupanya kini ditekuni dengan serius oleh alumnus Universitas Indonesia itu. Kurang lebih empat tahun berkutat dengan literasi khusus nutrisi, jodohnya lagi-lagi di dunia musik.

Pemilik nama lengkap Rayssa Amaliadynta ini bahkan tidak hanya memiliki visi misi sebagai penyanyi, tetapi juga penulis lagu. Keseriusan Sasa menekuni musik dimulai sejak merilis singel Something About Us pada 15 Desember 2017 sebagai perkenalan album mini Prolog yang diluncurkan 26 Januari 2018.

Karya ini kemudian mengantarkan nama Rayssa Dynta berhasil masuk dalam empat kategori Anugerah Musik Indonesia 2018, yaitu kategori Pendatang Baru Terbaik (Something About Us), Album Terbaik (Prolog), Artis Solo Pria/Wanita R&B Terbaik (Something About Us) dan Duo Grup/Grup Vokal/Kolaborasi Terbaik (Call on You feat. Emir Hermono).

Sasa menggunakan musik sebagai medium bercerita ketika kalimat itu mengendap untuk diungkap. Medcom.id mendapat kesempatan untuk berbincang sedikit dengan musisi yang juga kini menjadi ibu untuk dua anjing peliharaannya, Ramen The Maltipoo dan Latte The Pom.





Sejak kapan Rayssa Dynta serius menekuni dunia musik?

Baru benar-benar menekuni dunia musik sekitar 2014-2015 rasanya. Pertama kalinya bertemu orang-orang yang memang berprofesi sebagai musisi. Pertama kali melihat bekerja di bidang musik itu bagaimana dan udah mulai tertarik. Seperti sudah mulai mengerjakan songwriting sama orang lain, featuring juga udah ada.

Empat tahun berkecimpung di ilmu nutrisi, lalu sempat menekuni dunia modelling, kenapa sekarang bisa ke musik?

Dulu modelling aku coba karena ada tawaran. Aku orangnya apa aja dicoba. Begitu ada opportunity yaudah diambil aja. Mencoba-coba, kalau suka yaudah (lanjut) kalau enggak ya tinggalin.

Bagaimana respons orangtua ketika Rayssa Dynta terjun ke dunia musik?

Awalnya kayak mood-mood-an. Kalau lagi enggak kedengeran apa-apa mereka kayak, ah ngapain sih sayang kan kuliahnya. Mending kerja di kantoran ini atau itu. Cuma kalau misalnya habis ikut festival (atau masuk) di media apa, (orangtua berekspresi), 'mantap anak gue!' Jadi, ya namanya juga orangtua jadi buktiin aja dulu.

Kadang-kadang mereka menyayangkan karena jalan sukses yang mereka tahu mungkin bukan yang sedang aku coba jalanin. Jadi, gimana caranya aku bisa meyakinkan mereka bahwa di sini aku serius.

Lantas, apa motivasi kamu bermusik?

Simpel banget. Cuma sekadar habis manggung, terasa happy. Itu doang. Aku enggak pengin ngerjain apa yang bikin aku stres sih sebenarnya. Jadi, mencari yang bikin happy, terus, bermusik.

Apa arti passion buat kamu?

Something that makes me happy.

Mendengar karya kamu mulai dari Something About Us lalu dikemas dalam album mini Prolog, terdengar chill. Dari mana inspirasi itu? Apakah kamu juga mendengarkan karya musik serupa, misal Oh Wonder dan Shura?

Aku dengerin mereka sih, tapi kalau dibilang number one fan enggak juga. Sebenarnya lebih mendengarkan musik jazz oldiest kadang-kadang. Punk rock juga didengerin. Agak 'nano-nano' gitu dengerinnya. Cuma yang aku nyaman mainin yang aku bikin di Prolog.

Dengan latar belakang pendidikan yang cukup kontras dengan apa yang kamu jalani hari ini, apa bermusik itu menjadi bentuk alter ego kamu?

Alter ego sih enggak. Kayaknya memang ada bagian dari aku yang terasa nyaman kalau menunjukkannya lewak musik. Mungkin kalau secara perilaku aku kayak begini. Pada dasarnya, semua orang kayak gini. Jadi, cara aku mencerminkan sisi lain dariku ya dari musik.

Apakah musik jadi cara kamu untuk melampiaskan atau menceritakan apa yang sebenarnya tidak bisa kamu ungkapkan dalam keseharian?

Curhat lewat musik. Karena, mungkin apa yang aku sampaikan di lagu adalah apa yang aku enggak bisa omongin dengan percakapan biasa. Jadi, apa yang aku enggak bisa omongin aku bikin dalam musik.

Mengapa Rayssa lebih memilih menulis lagu menggunakan bahasa Inggris?

Menurut aku lebih susah bikin lagu pakai bahasa Indonesia. Kebetulan memang dengan musik yang kayak gitu, contoh-contoh lebih banyak menggunakan bahasa Inggris, feel-nya lebih dapet. Menurut aku tata bahasa, kalau mau menulis pakai bahasa Indonesia, tata bahasanya harus bagus. Aku masih harus belajar tata bahasa yang bagus. Sebenarnya bahasa Indonesia baku itu bagus banget. Cuma susah buat aku.

Apakah pada proyek berikutnya tertarik menulis lagu dengan lirik Bahasa Indonesia?

Pingin banget, sih. Cuma harus dilihat bagaimana cocok enggaknya. Tunggu nanti.

Banyak musisi yang lebih produktif ketika mengerjakan lagu dalam suasana hati sedih. Bagaimana dengan Rayssa Dynta?

Sebenarnya berdasarkan pengalaman aku sendiri memang gampang banget bikin lirik kalau lagi down. Gampang banget. Padahal kalau misalnya ditungguin lagi sedih kesannya ironis banget, harus broken untuk bikin lagu. Padahal, ya kali?! 

Kayak ketika lagi happy terus harus bikin lagu, kita terus kayak, ayo cari yuk gimana biar patah hati. Kan enggak mungkin. Aku, kalau lagi harus menulis lagu, apa yang mau diceritain, cari aja. Enggak harus yang negatif atau sedih.

Tapi, jujur lebih gampang bikin lagu sedih, tapi enggak pingin audience aku kebawa jadi down. Jadi, ya gimana cara membawakannya aja, sih. Bisa jadi cerita sedih tapi diceritainnya positif.


Rayssa Dynta (Foto: Double Deer)

Lewat musik yang dirilis, apakah ada pasar musik spesifik yang ingin dibidik Rayssa?

Kalau pasar musik, aku sih enggak begitu menentukan. Cuma berdasarkan apa yang aku dengerin, lebih ke pop kan. Jadi, mungkin aku pasarnya ada di antara pasar-pasar musik elektronik dan pop.

Kalau misal dibilang indie banget, indie as independent iya sih. Cuma aku juga pop. Kalau di Indonesia, aku kalau dikategorikan musik tertentu sama orang-orang aku terima-terima aja. Enggak begitu mementingkan.

Rayssa termasuk musisi yang besar karena internet. Sebagai musisi generasi internet, bagaimana Rayssa melihat iklim industri saat ini?

Lucunya zaman sekarang, mau gimanapun internet bakal lebih cepat dari rilis karya fisik. Malah, beberapa tahun terakhir banyak artis-artis yang merasa, enggak usah ah ngeluarin album atau lagu dalam bentuk fisik.

Tapi, aku sebenarnya sebelum merilis Prolog enggak banyak promosi, sama sekali. Bahkan ada beberapa teman yang kerja di dunia musik, ngomong, gue enggak tahu lo siapa sebelum ini tapi lo tiba-tiba muncul dengan musik yang kayak gitu.

Jadi, kayak banyak orang yang bingung kenapa cara aku memperkenalkan diri itu berhasil. Karena biasa orang-orang itu kasih dikit-dikit, baru mengeluarkan. Alhamdulillah, sih it works.

Agak gambling caranya. Sebelumnya aku juga enggak banyak aktif di media sosial. Aku enggak banyak upload YouTube, enggak bikin video cover dan lain-lain. Soundcloud pun kayak sebulan aku hapus. Not a good social media user sih aku sebenarnya. Dengan respons dari singel dan EP udah Alhamdulillah positif.

Rencana ke depan selain bermusik bakal melakukan apa?

Aku masih bingung passion aku yang lain apa. I like baking. I love dogs. Sebenarnya, hobi lain aku adalah isi Instagram aku. Aku pingin banget bikin bisnis yang berkaitan dengan itu. Cuma masih belum tahu apa.


Rayssa Dynta (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Apa kesibukan Rayssa Dynta saat ini hanya bermusik?

Iya, karena mau mencari sampingan apapun, it takes a lot of effort, ternyata. 

Jenis musik atau lagu apa yang sering didengarkan Rayssa Dynta?

Aku tipe orang yang denger itu denger itu terus. Aku suka lagunya Paramore yang baru, After Laughter. Tapi, akhir bulan (Agustus) enggak bisa nonton karena (bertepatan dengan) pesta pernikahan (relasi).

Aku lagi dengerin Taylor Swift juga. Kalau lagi males ngomong aku dengerin Mantra Vutura. Mereka kayak adek aku di sini, Double Deer, dengerin Ta-ku yang American Girl, Happy Together dari The Turtles.

Mendengarkan Paramore karena memang dari SMP. Dari mereka punk rock banget aku udah dengerin. Kebetulan ngikutin banget. Terus kalau Taylor Swift karena dia gampang banget didengerin dan enggak berat-berat banget terus ada di mana-mana, anyway jadi pasti dengerin.

Kalau Mantra Vutura, karena aku jarang aja nemuin musik instrumental. Kalau menurut aku sih enaknya musik instrumental enggak harus didengerin banget tapi bisa didengarkan dengan enjoy.

Karena aku tipikal orang yang dengerin lirik banget kan. Jadi misal kalau ada lagu yang ada nyanyinya, kayak aku pingin tahu nih orang ngomongin apa. Terus kadang-kadang ada beberapa momen untuk males melakukan itu jadi ya udah. (Lagu) Happy Together, karena agak-agak tua dan nge-band banget.

Siapa musisi yang paling ingin Rayssa ajak kolaborasi di atas panggung?

Sampai sekarang aku belum pernah nge-gig sama Emir Hermono, padahal udah rilis lagu baru hasil kolaborasi dengan dia. I've never even met him. Dia di Malaysia, tapi salah satunya (yang ingin berkolaborasi) tapi belum pernah kesampaian. Padahal harusnya udah.

Bagaimana jika ada musisi lain yang menawarkan berkolaborasi?

Aku sih enggak kayak yang, aduh musiknya enggak gue banget. Selama, oh iya gue suka, yaudah (jalan). Ada beberapa orang yang ngajak kolab, cuma enggak menyisakan space kayak, oke di sini buat Rayssa Dynta. Ini lagu punya gue, lo yang isi. Jadi, kayak aku cuma cherry on top. Aku males kayak gitu. Mau enggak mau nama aku pasti ada di situ juga. Another case of idealism.




(ASA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG INDONESIA MUSIK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA INDIS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 10-12-2018