Embel-embel Jazz pada Festival Musik

Agustinus Shindu Alpito - 26 Agustus 2017 15:48 wib
Prambanan Jazz 2017 (Foto: metrotvnews/shindu)
Prambanan Jazz 2017 (Foto: metrotvnews/shindu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Festival musik dengan embel-embel jazz bukan hal baru lagi di Indonesia, setidaknya dalam satu dekade terakhir. Festival yang mengusung nama “Jazz” juga bukan milik masyarakat kota saja, tetapi merasuk di tingkat kabupaten, berupaya melebur dengan kekayaan alam atau warisan sejarah setempat.

Dalam satu tahun, lebih dari selusin festival musik yang mengemban nama “jazz” digelar di Indonesia. Musisi Djaduk Ferianto bahkan menyebut lebih dari 30 festival “jazz” diselenggarakan setiap tahun di Indonesia. Dia juga mengatakan, Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah festival “jazz” terbanyak di dunia.

Pada bulan Agustus 2017 saja, setidaknya ada empat festival musik yang mengusung titel “jazz,” yaitu Ubud Village Jazz Festival (11-12 Agustus), Prambanan Jazz (18, 19, 20 Agustus), Jazz Traffic (18, 19 Agustus), dan Jazz Gunung - Bromo (18, 19 Agustus).

Sayangnya, tidak semua festival jazz yang ada mampu merepresentasikan musik jazz secara komprehensif. Salah satunya dikarenakan masalah kurasi para penampil.

Persoalan ini sempat disinggung oleh musisi Tompi, melalui Instagram.
 
 

Menilai kerja orang lain tdk cukup hanya melihat outcome nya saja. Pelajari proses dibalik itu secara komplit. Itu kalo mau bernalar secara tertib  Outcome bisa mengecewakan  namun upaya baik perlu diapresiasi. Lain halnya bila outcome buruk yg lahir dr tdk adanya upaya baik.  Melihat apa yg terjadi di prambanan jazz fest 2017 (berlaku juga utk bbrp festival jazz lain) ada bbrp hal yang menjadi catatan penting buat sy : - penggunaan istilah jazz fest perlu lbh memilih-milih. Siapapun bs diundang utk tampil , namun tema jazz perlu di usung sebagai garis merah. artinya penampil dr genre apapun "wajib melakukan approach musiknya ke arah jazz. Tdk harus yang "jazz banget" juga sih. Bisa jazz rock, popjazz dll. Atau bila tdk merasa bs menyesuaikan diranah itu, ya pamit mundur Panitia perlu mendiskusikan konsep ini di depan. Sehingga ada proses seleksi memilih penampil. Ini bukan masalah jago2an tp hanya mengikuti tema acara.  Kl masih ngotot pengen penampil acak--- ubah namanya jadi musik festival. Buang embel2 jazz nya. - dalam sebuah festival yang melibatkan banyak band di satu panggung--- disiplin dan kerjasama adalah MUTLAK.  Ini yang sering jadi biang MOLOR.  Semua pengen penampilan baik . Saya jadi inget perbincangan sy dengan salah satu sound eng.  Mengenai efektivitas kerja. Sy usulkan semua Line instrument di patenkan, jd semua penampil gak perlu narik2 atau bikin jalur line sendiri yang beda2. Toh alatnya juga hampir sama semua. Tinggal operatornya memainkan warna sound yang dia maui tanpa perlu narik2 lagi. Plug n play.  Jawabannya " pada gak mau... maunya sendiri2!" Itu kenapa perlu belajar menciptakan sistem kerja efektif.  Bayangkan bila sound cek molor krn line blum beres... ngerembet ke semuanya. Yang paling kasian ya yang terakhir! - point terakhir yang menarik adalah SAAT TIMBUL MASALAH on the spot---- selayaknya kita rembuk bareng enaknya ngapain. Bukan ngotot2an. Mungkin jalan keluar saat itu bukan yang terbaik... tapi itu satu2nya cara menyelamatkan keseluruhan acara. Dg catatan ke depannya HARUS DIKOREKSI dan DIPROTEKSI!

A post shared by Dr tompi (@dr_tompi) on




Intinya, Tompi melihat bahwa penting untuk menjaga benang merah “jazz” itu sendiri dalam festival yang menggandeng titel “jazz.” Kegelisahan ini merujuk pada porsi musik jazz yang justru minimal pada pagelaran pesta musik jazz.

Hal senada juga diungkapkan oleh musisi senior Yovie Widianto. Bersama Kahitna atau Yovie & Nuno, Yovie sering diundang tampil ke festival musik dengan embel-embel jazz. Ini membuat dirinya tahu betul bagaimana keadaan festival musik dengan embel-embel jazz yang ada di Indonesia.

"Sebenarnya ada baiknya untuk diperbaiki, di semua festival jazz di Indonesia itu kadar pop-nya ketinggian. Kalau festival jazz seharusnya kadar jazz-nya yang ditinggikan. Di luar negeri pun tidak bisa dipungkiri bahwa musisi pop tampil di festival jazz untuk menarik penonton, tetapi kadar pop-nya paling 20 persen," ungkap Yovie Widianto saat ditemui awak media di Yogakarta, Senin (21/8/2017).

Menurut Yovie, jika sebuah festival mengusung titel salah satu genre musik, bentuk konsekuensi adalah dengan memberikan porsi dan perhatian lebih pada genre yang diusung itu. Logis memang.

“Secara definisi (jika terus melenceng) bahaya, bukan mengkotak-kotakan musik, tetapi sebaiknya dalam festival jazz itu musisi jazz, atau musisi pop yang mencoba melakukan pendekatan jazz. Hal itu penting untuk menambah ilmu bagi penontonnya.”

Yovie khawatir jika generasi muda yang tengah mengeksplorasi ragam musik datang ke festival jazz dan justru selalu disuguhi musik di luar jazz. Hal itu ditakutkan akan menimbulkan persepsi yang salah tentang definisi musik jazz itu sendiri.


Afgan saat tampil di Prambanan Jazz 2017 (Foto: metrotvnews/shindu)

Perihal isu ini, Metrotvnews.com meminta pendapat Djaduk Ferianto, musisi etnik kontemporer, jazz, yang sudah malang-melintang selama puluhan tahun di jagat industri. Djaduk juga sosok di belakang festival musik Jazz Gunung dan Ngayogjazz.

“Semua punya kepentingan, kalau menurut saya ini semangat kultural. Ada yang berorientasi ini satu komoditas semata untuk mencari keuntungan, atau ada yang memang untuk jazz. Sesungguhnya keduanya memberikan kontribusi terhadap perjalanan musik di Indonesia,” ujar Djaduk saat dihubungi Metrotvnews.com, Jumat (25/8/2017).

“Dari aspek bisnis, bisa dibenarkan karena ini (memasukkan penyanyi dan grup musik pop ke festival jazz) satu cara untuk menjaring penonton. Ini sangat luas cara memahaminya. Yang jelas sebuah event jazz di Indonesia itu memberikan kontribusi lewat ranah industri, (khususnya) festival.”

Menurut Djaduk, lepas dari apapun festival jazz tetap berperan terhadap perkembangan kultur dan budaya di Indonesia. Soal porsi musisi di luar ranah jazz yang justru mendominasi festival jazz, Djaduk mencoba menjelaskan dengan bijak.

“Kalau ngomong artinya jazz sendiri itu sangat terbuka. Tergantung kita lihat dari sudut mana. Dari aspek bisnis bisa dibenarkan (menyematkan sederet musisi atau grup pop ke dalam festival jazz) karena ini satu cara untuk menjaring penonton.”

“(Alternatifnya) karena ini acara jazz, pendekatan aransemen mungkin bisa ke arah jazz. Entah itu musiknya keroncong, dangdut atau pop. Cuma nanti kami akan bicarakan lagu agar pertanyaan itu dapat diminimaliskan.”


Glenn Fredly tampil sebagai penutup Prambanan Jazz 2017 di panggung reguler (Foto: metrotvnews/shindu)

Djaduk dalam waktu dekat ini memang berencana untuk menggelar pertemuan antar sesama penggagas festival musik jazz untuk membahas ragam isu yang ada. Termasuk soal bentroknya jadwal beberapa festival jazz, juga soal fenomena dominasi musisi di luar ranah jazz dalam festival jazz. Namun, Djaduk tidak ingin gegabah melihat persoalan ini hanya dari satu sudut pandang. Dia melihat bahwa jazz adalah sesuatu yang dinamis, begitu juga dengan kultur dan budaya.

“Kalau tinjauannya dari orang musik mungkin begitu (pembahasan porsi musisi non-jazz di festival jazz atau kekhawatiran soal definisi yang salah), tetapi dari kebudayaan secara umum bisa berbeda. Ketika kita memahami seni, musik, itu bagian dari kebudayaan. Kebudayaan itu tumbuh berkembang, jangan-jangan generasi muda sedang dalam perkembangan budaya baru lagi.”

“Ini sebuah investasi budaya, ketika jazz itu ada di Indonesia, kita tidak gegabah mengatakan ini jazz Indonesia, tetapi kita berusaha mengisi ruang-ruang kebudayaan, yang konon jazz bukan dari Indonesia tetapi ini usaha memainkan jazz dalam ruang-ruang kebudayaaan dan orang-orang Indonesia, yang jelas kita mainkan dalam ruang kreativitas orang-orang Indonesia. Menuju ke-Indonesia-an itu juga memerlukan proses yang panjang. Tetapi kita sadar tidak ingin jadi peniru.  Ini juga seperti pada peristiwa-persitwa lain, misal kita makan junk food, pakai celana jeans, ngomong bahasa Inggris (proses penyerapan budaya asing). Ini sebuah proses yang tumbuh dan berkembang terus,” kata Djaduk.

Lepas dari penggunaan embel-embel “jazz” dimaksudkan sebagai identitas sebuah festival atau sebagai bagian "branding" untuk menjaring penonton tanpa peduli konten yang disuguhkan, semoga saja para penyelenggara festival musik tetap membuka mata dan telinga dengan saran yang membangun, juga berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat, penggemar musik, juga perkembangan budaya itu sendiri.

"Definisi penting, tetapi pengkotakkan musik tidak penting. Festival musik harus konsekuen dengan identitas yang diusung. Saya harapkan ke depan festival jazz yang ada menginformasikan musik jazz secara benar, untuk generasi mendatang juga. Saya kadang-kadang khawatir apakah penyelenggara (festival musik jazz) itu tahu apa enggak jazz itu apa," tutup Yovie sembari tertawa kecil.


 


(ELG)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG INDONESIA MUSIK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA INDIS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 26-09-2017