Tidak Ada Titik Ironi!

Sobih AW Adnan - 09 Maret 2017 13:24 wib
Superman Is Dead. (Foto:Media Indonesia/Arnold Dhae)
Superman Is Dead. (Foto:Media Indonesia/Arnold Dhae)

Metrotvnews.com, Jakarta: Apa kesan pertama yang muncul di benak Anda ketika mendengar kata 'Punk'? Dentuman musik keras? Kesan urakan? atau lirik-lirik lagunya yang kritis dan menohok?

Jika memilih satu di antaranya, bisa benar - mungkin juga salah. Tapi ketika menghubungkan mazhab bermusik ini dengan nama Indonesia, maka nyaris pasti muncul sebuah band bernama Superman Is Dead alias SID.

SID memang boleh dikatakan sebagai pelopor aliran punk rock di Indonesia. Sejak kali pertama dibentuk, tepatnya 1995, band ini masih ajeg digerakkan oleh I Made Ari Astina alias JRX, I Made Budi Sartika atau Bobby Kool, dan Eka Arsana atau yang karib dengan sapaan Eka Rock.

Baru-baru ini, Metrotvnews.com menyempatkan diri menyapa pentolan yang berposisi sebagai penggebuk drum dalam band asal Pulau Dewata itu. Ya, dalam kesempatan itu, JRX secara hangat berbincang mengenai SID dan pandangannya dalam bermusik. Berikut penggalan wawancaranya:

Apa kesibukan SID sekarang? Apakah bakal menggelar konser dalam waktu dekat?

Kami sedang mempersiapkan album baru, album ke 9. Akan ada beberapa konser juga, baik di Bali maupun luar Bali. Oh ya, kami juga sedang mempersiapkan tur Eropa, yang jika sesuai rencana, akan berlangsung selama September 2017.

SID dikenal sebagai musisi yang kritis dan peka terhadap fenomena sosial. Bagaimana proses kreatifnya? Kritis namun tetap dengan karya apik nan populer.

Apik nan populer? He he. Suwun, Mas.

Proses kreatifnya sangat simpel. Saya biasanya menciptakan lagu atau nada tanpa lirik dengan gitar akustik. Ongkosnya murah, cuma 1,2 jutaan. Menulis liriknya belakangan. Lirik disesuaikan dengan energi yang dimiliki nada-nada tersebut.

Nada-nada itulah yang nantinya memandu saya menuju ke sebuah konsep atau tema.


Foto: Media Indonesia/Arnold Dhae

Biasanya musisi menemukan titik ironi, yakni posisi 'galau' antara manut keinginan pasar dan idealisme. Apakah SID juga berada dalam posisi itu?

Di dunia saya, tidak ada titik ironi dalam perihal musik. Saya melakukan semua dengan jujur dan tak pernah sekalipun merasa melacurkan idealisme.

Argumen berlawanan pasti akan datang dari para 'polisi' punk jika mereka baca ini. But whatever. Mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya. Yang mereka tahu cuma satu; SID band major label. Jadi, SID adalah pengkhianat punk.

Apakah Anda setuju bahwa musik bisa terkait dengan perkembangan politik?

Setuju. Tapi kurang elok juga rasanya melihat sebuah band terlalu dekat dengan politisi. Jarak harus tetap dijaga. Oposisi harus hidup. Karena cepat atau lambat, seorang politisi akan berada di satu titik di mana ia membuat kompromi-kompromi yang tidak pro-rakyat.

Lantas, bagaimana pandangan Anda menyikapi situasi politik di Tanah Air sekarang ini?

Jujur, agak muak. Karena di balik semua politisi yang 'bertarung' selalu ada para 'king maker'. Dan para king maker ini selalu bermain di dua kaki. Jadi siapa pun juaranya, mereka akan tetap punya pengaruh. Tapi saya senang saat SBY diskak mat oleh Antasari Azhar.



Foto: Antara/Theresia May

Banyak kalangan menilai, politisi mendekati musisi karena kepentingan menggaet penggemarnya, dan ini dipandang mahfum. Apa pendapat Anda?

Itu sudah jelas. Dan musisi yang mau terjun ke politik praktis alias nyalon rata-rata musisi kelas kacung. Musisi baiknya tetap berdiri di garis oposisi. Gunakan kekuatanmu untuk mengontrol kebijakan penguasa. Bukannya malah jadi jongos elite politik.

Kalau memang mau jadi ningrat atau priyayi, mending jualan narkoba saja. He.He

Adakah pesan khusus untuk penggemar SID di tengah panasnya pergulatan politik di era demokrasi ini?

Saya percaya, mereka sebagian besar sudah paham dan bisa bersikap rasional. Bangsa ini sedang ada di masa peralihan. Rezim baru bertarung melawan rezim lama yang hendak berkuasa kembali. Kedua rezim tentu ada plus minusnya.

Tapi, as a punk, saya tidak akan pernah bersekutu dengan fasisme. Pun saya akan tetap melawan kapitalisme yang memperlakukan manusia dan alam layaknya mesin. Mohon diingat, tak semua kapitalisme itu buruk. Tapi fasisme itu sudah pasti busuk.

Apa harapan Anda yang belum terwujud?

Di-DM Rizieq. Dia beraninya cuma nge-post posting-an saya di Instagram. He.He... Penasaran juga mau ngajak dia nge-teh bareng.
 


(FIT)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG INDONESIA MUSIK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA INDIS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 14-12-2017