DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 19.911.330.901 (18 SEP 2018)

Seberapa Penting Peran Candra Darusman pada Musik Indonesia?

Cecylia Rura - 27 Juni 2018 11:54 wib
Candra Darusman (Foto: Instagram @officialcandradarusman)
Candra Darusman (Foto: Instagram @officialcandradarusman)

Jakarta: Butuh waktu yang tidak sedikit untuk mengingat kembali sumbangsih Candra Darusman membentuk pondasi musik Indonesia. Selain dikenal aktif bermusik bersama Chaseiro dan Karimata, Candra juga dikenal sebagai pencetus lahirnya Jazz Goes to Campus di Universitas Indonesia yang digagas pada 1977. Aktif bermusik sejak era 70-an, bisa dikatakan musisi kelahiran 21 Agustus 1957 itu mulai ikut mewarnai musik Indonesia sejak berusia remaja.

Nama Chaseiro berangkat dari tujuh pemuda penggagasnya yakni Candra Darusman, Helmi Indrakesuma, Aswin Sastrowardoyo, Edwin Hudioro, Irwan Indrakesuma, Rizali Indrakesuma, Norman Sonisontani (Omen). Mereka aktif bermain sejak 1978 di jalur musik pop, bossanova dan jazz.

Literasi tentang musik yang diperoleh Candra juga mendapat pengaruh dari budaya luar. Dia yang memilih jenis musik bossanova dan ketertarikannya terhadap musik jazz, berawal dari pekerjaan sang ayah, Suryono Darusman yang kala itu menjabat sebagai diplomat bertugas sebagai Duta Besar RI di beberapa negara seperti Meksiko, Swiss dan Uni Soviet dan kerap berpindah tempat tinggal.

Memperingati genap usia 60 tahun, Produser Eksekutif Signature Music Indonesia Panji Prasetyo bersama tim mengusulkan agar Candra Darusman merilis sebuah mahakarya berupa buku yang telah diterbitkan dengan judul Perjalanan Sebuah Lagu. Perilisan buku ini diikuti dengan album kompilasi berjudul Detik Waktu, judul yang diambil dari satu di antara lagu yang dikemas dalam album. 

Album Detik Waktu dirilis pada 4 Maret 2018 melalui Signature Music Indonesia bekerja sama dengan Demajors.

Sejumlah komposer dan musisi papan atas ikut terlibat menggodok album berisikan 13 nomor lagu ditambah satu lagu yang dibawakan Candra Darusman yang dikemas untuk disesuaikan dengan penikmat musik yang sekarang. Karya masterpiece itu memuat KekagumankuPerkenalan PerdanaIndahnya SepiCeriaMasa ke MasaDunia di Batas SenjaIt’s AmazingPemudaKauRintangan, Senantiasa, Lautan KenanganDetik Waktu dan Hanya Membekas Kini. 

Rekan sejawat Erwin Gutawa dan Addie MS turut memberikan sumbangsihnya menyusun beberapa nomor lagu, bersama dengan para musisi lain yaitu Afgan, Nikita Dompas, Monita Tahalea, Mondo Gascaro, White Shoes & the Couples Company, 5 ROMEO, Yovie Widianto, Danilla Riyadi, Sri Hanuraga, Marcell Siahaan, Once Mekel, Sammy Simorangkir, Glenn Fredly, Barry Likumahuwa, Shili & Adi, Andien, Maliq & D’Essentials, Tohpati dan Sheila Majid.

Keterlibatan mereka ini bukan semata untuk menambah daftar album baru para musisi, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap Candra Darusman yang ikut memberikan peran besar terhadap industri musik Indonesia. Addie MS melihat Candra Darusman sebagai sosok yang berkontribusi banyak di industri musik bahkan di bidang non-musik yakni memperjuangkan hak cipta dan royalti bagi musisi. Tidak berlebihan jika sebuah album khusus dirilis untuk sang maestro.

“Candra di mataku adalah seniman yang cerdas. Dikaruniai bakat seni oleh Allah, tapi punya etos kerja tinggi, sikap idealis dan kemampuan berpikir logis. Tak heran dia berhasil, baik sebagai seniman maupun sebagai pejuang hak cipta. Prestasinya membanggakan sebagai salah satu pemimpin di WIPO (World Intellectual Property Organization). Candra adalah salah satu panutanku dalam bermusik,” ungkap Addie MS.

“Karya favorit Candra kebetulan semuanya yang aku aransemen di album Detik Waktu. Pemuda dan It's Amazing. Karya Candra, Pemuda, menurutku adalah lagu perjuangan versi pasca-kemerdekaan. Isinya menyemangati pemuda untuk berjuang, siap berkorban, hindari perpecahan, ajakan untuk BERSATU,” kata Addie.



Chaseiro (Foto: Catatanhariansintul.blogspot.com)


Kiprah Candra Darusman yang nyaris melewati empat dekade meninggalkan kesan bagi beberapa pendengarnya. Seperti para musisi muda seperti Barry Likumahuwa, Widi Puradiredja (Maliq & D’Essentials) dan Nikita Dompas. Mereka yang lahir dan besar di era 80-an yakni puncak keemasan Candra Darusman bermusik, menjadikan karya-karya Candra Darusman sebagai sumber inspirasi untuk bermusik.

Barry melihat sosok Candra yang produktif menjadi role model, sekaligus karya yang ditelurkan begitu membekas di telinga penikmatnya. Dengan lirik dan konten yang terdengar sederhana, Barry merasa ada nilai-nilai optimis dan membangun dari lagu besutan Candra.

“Menurut saya beliau sosok yang sangat produktif. Terbukti dari karya-karyanya yang begitu banyak dan membekas di telinga. Bahkan saya yang sesungguhnya lahir di era setelah beliau, masih mengenal karya-karyanya sebagai sesuatu yang familiar, jadi ini membuktikan bahwa karya-karya beliau long lasting. Saya suka karena hampir semua karya-karya beliau bersifat optimis, nada-nada yang uplifting, lirik yang membangun dan memberi arahan untuk menjadi manusia yang lebih baik,” kata Barry Likumahuwa.

“Lagu Pemuda contohnya, menurut saya lagu itu sedang berbicara ke anak muda Indonesia dengan cara yang smart. Itu juga merupakan salah satu karya yang menjadi referensi saya ketika menulis lagu saya sendiri yang berjudul Generasi Synergy. Beliau sangat berhasil menemukan jati diri nya dalam berkarya, sehingga semua karya yang beliau hasilkan tentunya sangat authentic,”ujar Barry.

Selain Barry, Widi dari Maliq & D’Essentials juga berkiblat pada semangat bermusik Candra Darusman. Widi yang ikut terlibat dalam penggarapan album Detik Waktu. Komposisi musik Candra Darusman dirasa memiliki warna berbeda dan memiliki karakter yang kuat.

“Menurut saya Mas Candra adalah sosok intelektual di musik, di mana saat karier bermusik hingga kini apa yang dilakukannya selalu berperan dalam memberi nilai kualitas untuk industri musik indonesia. Lagu-lagu karya Mas Candra selalu memiliki chord, melodi, lirik, sound yang kaya dan karakter kuat yang merefleksikan dirinya. Lagu-lagunya punya pesan yang kuat dan cerita-cerita menarik yang membuat orang ingin berkhayal, berpikir lebih jauh lalu terinspirasi,” kata Widi.

Dari sekian banyak karya Candra Darusman, Widi memilih lagu Dunia di Batas Senja. Konten musik pop dalam lagu menurutnya sangat kaya dan memuat nilai artistik.

“Lagu favorit Dunia di Batas Senja. Karya Mas Candra adalah pondasi musik pop Indonesia dengan kualitas. Sangat penting. Menurunkan banyak musisi baru yang terinspirasi dari karya-karyanya. Saya suka semua hal dari lagu itu, aransemen, chord, lirik. Sangat kaya, lagu pop yang punya nilai artistik tinggi banget, one of the coolest Indonesian pop song ever made,” ujar Widi.


Memperjuangkan Hak Cipta Musisi Indonesia

Pada puncak kejayaannya di industri musik, Candra Darusman memilih meninggalkan Indonesia untuk memperjuangkan hak cipta karya musisi Indonesia. Keterlibatannya di WIPO dan gagasan mencetuskan Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) pada 12 Juni 1990 sudah memberikan angin segar bagi para musisi sekaligus membuka ruang pendapatan bagi mereka yang ingin berkontribusi di industri musik Indonesia. Dari sini, Hak Kekayaan Intelektual para musisi diperhitungkan dan menjadi pemasukan untuk bertahan hidup.

Tidak bisa ditampik memang, porsi sumbangsih Candra Darusman untuk musik Indonesia memiliki pengaruh kuat. Nikita Dompas yang juga mencicipi masa-masa musik Candra berjaya turut mengungkapkan bagaimana karya sang maestro ikut menginspirasinya bermusik. Selain berkontribusi banyak untuk warna musik Indonesia, Candra Darusman juga ikut memperjuangkan hak cipta musisi Indonesia. 

“Saya tahu Mas Candra dari saya kecil. Saya suka menonton di televisi. Buat saya dia sosok yang inspirasional. Karena dia bukan hanya musisi, tapi juga berbuat sesuatu untuk musisi justru. Jadi, dia enggak cuma sebagai seorang pemain tetapi dia juga memfasilitasi pemain,” kata Nikita Dompas.

“Dia dulu bangun KCI (Karya Cipta Indonesia), dia beyond musician. Lebih dari sekadar musisi. Waktu dia bikin KCI, dia memperjuangkan hak-hak musisi. Kalau segi aransemen sebagai musisi profesional enggak perlu diragukan lagi ya. Keterlibatan dia menjadi salah satu fasilitator (lagi) adalah ketika dia bikin Jazz Goes to Campus pertama kali. Saya rasa pengalaman dia tinggal di luar negeri yang bikin dia berbeda. Dia juga upbringing dari keluarga diplomat. Ayahnya di Deplu. Jadi, dia sudah biasa melihat, dia ada di tempat di mana industri musik itu berada, di Eropa. Ketika dia pulang ke Indonesia - dulu belum ada internet - jadi apa yang dia buat itu terasa sangat baru. Buat kita di Indonesia saat itu tahun 80-an,” tutur Nikita. 


Candra Darusman (Foto: Media Indonesia/Retno Hemawati)


Jazz Goes to Campus dikenal sebagai perhelatan konser musik jazz tertua di Indonesia. Digagas perdana oleh Candra Darusman bertempat di Universitas Indonesia sejak 1977, bukan tidak mungkin namanya layak disejajarkan dengan para legenda musik di Indonesia.

“Buat saya karena karena saya tumbuh di eranya, buat saya penting sekali. Karena itu yang menjadi salah sau acuan saya ketika bermusik. Waktu kecil saya suka banget nonton dia. Di acara Safari atau di Album Minggu. Jadi, setiap kali saya menonton dia di televisi buat saya inspirasi. Dulu Mas Candra sama Mas Fariz penting karena mereka menghasilkan sesuatu opsi yang baru saat itu,” kata Nikita.

Beberapa Karya Candra Darusman ikut terekam dalam memori masa muda Nikita seperti SenantiasaPemudaLautan KenanganKekagumankuKau

Candra bukan semata melahirkan lagu-lagu monumental, tetapi juga mengajarkan generasi setelahnya untuk peduli pada hak cipta dan merawat karya agar diperlakukan sebagaimana mestinya. Hal ini kerap luput dilakukan oleh para musisi generasi Candra.

“Buat saya pribadi, Mas Candra itu bikin kita aware akan karya-karya kita sendiri. Bahwa karya kita adalah aset kita. Jadi, kalau kita meciptakan lagu, kita harus urus itu lagu sampai apa yang menjadi hak kita, kita dapatkan. Apa yang menjadi kewajiban kita juga kerjakan. Buat saya berani mencoba hal-hal yang baru. Saya Mas Candra bakal terus menciptakan lagu-lagunya dia. Masterpiece yang baru saya rasa. Yang lama saja terbukti masih sering di-remake orang,” ujar Nikita.


Ambisi yang Menginspirasi

Membuat album kompilasi dengan mengumpulkan belasan nama besar dengan hasil akhir yang sempurna bukan hal mudah. Proyek yang terdengar ambisius membuat kami ingin mengetahui lebih lanjut soal bagaimana album ini lahir, termasuk soal biaya yang sepertinya tidak murah untuk sebuah album yang begitu matang.

“Rahasia (soal dana yang dihabiskan). Tapi begini, enggak seperti yang dibayangkan orang banyak karena yang buat saya senang dan lega, banyak bintang-bintang yang melakukan ini dengan pertimbangannya bukan uang. Karena sama semangatnya mau memberikan penghoramatan kepada Mas Candra. Enggak sebesar yang dibayangkan orang-orang, kok. Tapi, memang jadi lama bikinnya,” tutur Panji.

“Sebagian besar (musisi) menyanggupi karena tahu ini untuk Mas Candra. Tapi, ya itu mereka schedule-nya (btuh disesuaikan), jadi saya tungguin saja semuanya karena mereka sudah setuju. Mas Candra di Singapura. Jadi, kita di sini yang banyak usul, rundingan, Skype, WhatsApp, kalau Mas Candra datang kami ketemu. Tapi, itu usulan kebanyakan dari kita. Mas Candra ikut kasih saran. Makanya di album Mas Candra kita masukin sebagai produser karena memang untuk penentuan itu melibatkan Mas Candra langsung juga,” kata Panji.

Awalnya musisi yang terlibat tidak sampai sebanyak yang tertera pada album. Ada juga beberapa nama yang semula ingin berkontribusi, tetapi karena jadwal yang padat tidak memungkinkan untuk ikut terlibat dalam album.

“Tadinya enggak sebanyak itu. (Awalnya) Delapan, sepuluh, sembilan. Begitu rekaman ketemu beberapa teman, 'Ji, loe bikin ini ya? Kok gue enggak ikut, sih?'. Saya sangat menghargai mereka. Jadi, ketika mereka bilang mau bantu setelah show dan kegiatan lain, akhirnya kami tungguin,” kata Panji.

Proses rekaman orkestra dalam album ini dilakukan di Budapest, melibatkan pemain orkestra dari sana. Tetapi hal itu menurut Panji bukan berarti menghabiskan banyak biaya. Teknologi yang ada dimanfaatkan untuk mengompres dana seminimal mungkin. Di samping itu, proses menjadi lebih efisien dengan menggunakan surel. 


Buku Perjalanan Sebuah Lagu dan album Detik Waktu (Foto: Instagram @officialcandradarusman)


“Enggak (mahal), salah banget (jika rekaman orkestra di Budapest dianggap mahal). Kami enggak ada yang berangkat ke Budapest. Jadi, teknologi zaman sekarang itu, di Budapest dia bisa rekaman per lagu, satu lagu - dua lagu, dikasih waktu kira-kira 20 menit kami kirim materinya, terus mereka main pada saat jamnya. Kami tengah malam, di sana siang. Nanti kami lihat 20 menit, nanti kalau ada revisi-revisi langsung dilakukan pada jam itu. Enggak mahal sama sekali bahkan. Kalau di sini justru lebih mahal karena ini kan (membutuhkan) 40 orang, satu orang saja udah Rp1,5juta (untuk harga pemain orkestra di Indonesia). Kalau di Budapest setiap hari mereka main orkestra. Jadi, mereka sudah terlatih sekali,” cerita Panji.

“Kalau zaman dulu kita musti ke sana (Budapest) dan dulu harus satu album. Sekarang mereka istilahnya, dua lagu gitu 20 menit, kita kirim lagunya lewat email, begitu saja. Jadi, enggak ada yang berangkat pakai teknologi saja,” tuturnya.


Kekuatan musik Candra Darusman berasal dari kesederhanaan

Adapun faktor yang mendorong Panji mengemas kembali album khusus untuk Candra Darusman adalah musikalitas yang kuat di eranya dan bahkan beberapa masih relevan hingga sekarang.

“Mas Candra itu kekuatannya, kekuatan dari kesederhanaan. Kenapa lagunya bisa everlasting kalau orang ingat. Lagu bagus banyak sebenarnya tapi dia sederhana. Kelihatannya sederhana, tapi kalau dimainkan enggak juga ternyata. Tapi, kesederhanaannya itu yang buat Mas Candra mahal. Itu yang membedakan dia dengan komposer lain. Lagunya bisa bakal abadi karena kelihatan simpel tapi dalam,” kata Panji.

“Mas Candra adalah sosok penting karena dia ada di era di mana kreativitas itu enggak terbatas. Bisa dengan gayanya sendiri, lagunya bagus, bukan pasaran tapi sederhana, itu yang kuat dari Mas Candra. Sampai sekarang enggak banyak lagu yang didengarkan sampai tiga generasi. Satu lagi, sumbangsihnya dia yang paling penting dia ada di setiap era ada band jazz, setelah selesai dari musik dia mengurus masalah non-musik orang yang enggak ada yang ngurusin.”

“Saya enggak berlebihan dengan bilang, tanpa Candra Darusman kita enggak kenal royalti. Justru dia memberikan jaminan hidup kepada pencipta lagu. Profesi yang bisa menghidupi, sama kayak profesi lain. Itu yang sebenarnya diperjuangkan Mas Candra. Sayangnya enggak ada yang meneruskan. Ada sih musisi muda yang memiliki pengetahuan bagus tapi dia enggak terjun ke organisasi, terjun langsung untuk bisnis.”

“Kalau Mas Candra total, meninggalkan semua untuk mengurus (musik). Itu menurut saya alasan kenapa kami bikin 'kado,' karena Mas Candra berkorban meninggalkan musik untuk mengurus hak cipta. Apalagi dia meninggalkan musik di puncak ketenaran dia. Ditinggalin semua hanya untuk masalah royalti dan hak cipta, itu gila menurut saya,” kata Panji.

Sebelum menelurkan album Detik Waktu, Panji meminta Candra merilis buku Perjalanan Sebuah Lagu agar Indonesia bisa mengenal karya dan peran penting Candra Darusman khususnya untuk industri musik Indonesia. Dalam buku tersebut tertuang bagaimana Candra meninggalkan masa jayanya di industri musik Indonesia dan memperjuangkan Hak Kekayaan Intelektual di WIPO dan bermukim di Jenewa, Swiss. Perjalanan Sebuah Lagu dengan tebal 252 halaman dirilis pada 28 Agustus 2017 melalui Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

“Makanya Mas Candra saya minta untuk menulis buku. Saya pingin ada dokumen, ada legacy biar orang-orang bisa tahu apa yang dia lakukan untuk Indonesia,” tutup Panji.




 


(ASA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG INDONESIA MUSIK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA INDIS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 19-09-2018