Irama Nusantara, Bekerja Diam untuk Piringan Hitam

Cecylia Rura - 23 Desember 2017 12:26 wib
Irama Nusantara bersama Bekraf dan RRI (Foto: medcom/cecylia)
Irama Nusantara bersama Bekraf dan RRI (Foto: medcom/cecylia)

Jakarta: Bukan hal mudah bagi sekelompok anak muda yang bekerja 'gila' dan mandiri dalam menyelamatkan legalisasi musik lawas Indonesia. David Tarigan beserta enam kawannya, Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Alvin Yunanta, Norman Illyas, Mayumi Haryoto serta Dian 'Onno' Wulandari mulai memerhatikan kondisi musik lawas Indonesia yang dirasa masih berserakan dan butuh pengarsipan. Mereka kemudian berkelompok dan tergabung dalam Irama Nusantara.

Sejak empat tahun lalu, tujuh sekawan ini melakukan gagasan pengarsipan musik populer dengan mengumpulkan piringan hitam, shellac serta medium lain yang menyimpan jejak rekam karya musisi di era 1920-an hingga 1980-an. Mereka melakukannya secara mandiri dan berhasil mengumpulkan sekitar 1.120 piringan hitam atau vinyl dalam tiga tahun terakhir.

Mereka kemudian mencoba mengetuk pintu Radio Republik Indonesia (RRI). Namun saat itu, mereka belum mendapat sambutan seperti yang diharapkan.

"Waktu kita datang sendiri ke sini (RRI), ditanya siapa kamu?" ucap David saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat belum lama ini.

Irama Nusantara kemudian mengetuk pintu Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan menjelaskan maksud dari tujuan kelompok Irama Nusantara. Sekumpulan anak muda tersebut menyambangi kantor Bekraf di akhir 2015, saat Bekraf baru saja berdiri.

"Teman-teman (Irama Nusantara) beraudiensi datang ke kami, mendiskusikan apa yang sudah mereka lakukan. Kemudian saya melihatnya, anak-anak muda tapi kok demen lagu-lagu masa lalu," terang Wawan Rusiawan, Direktur Riset dan Pengembangan Ekonomi Kreatif di kantor Radio Republik Indonesia (RRI) di kesempatan yang sama.

Selain dirasa menarik, Wawan juga tertarik melihat motivasi sekelompok pemuda dari Irama Nusantara serta hasil kerja keras mengumpulkan seribu vinyl dalam setahun. Melihat Bekraf memiliki kewenangan, Wawan kemudian menerima kehadiran Irama Nusantara dan bekerjasama mencari serta mengarsipkan piringan hitam.

Saat itu, kendala Irama Nusantara adalah ingin mengarsipkan dengan melakukan digitalisasi arsip-arsip musik RRI dalam bentuk piringan hitam. "Sebelum dengan Bekraf ini agak susah (bagi Irama Nusantara)," lanjut Wawan.


Wawan Rusiawan Direktur Riset dan Pengembangan Ekonomi Kreatif (Foto: medcom/cecylia)

Wawan kemudian mencoba melakukan komunikasi dengan pihak RRI. Jalan terbuka lebar bari Irama Nusantara sejak RRI setuju pada 2016. Irama Nusantara bersama Bekraf dan RRI kemudian melakukan survei ke beberapa kota seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Solo untuk menimbang lokasi yang potensial untuk dilakukan pengarsipan terlebih dulu. Setelah melalui diskusi dan pertimbangan panjang, Bandung dengan koleksi terbanyak menjadi lokasi pertama dilakukannya digitalisasi musik populer Indonesia.

"Kita sepakat pertengahan 2016 untuk melakukan proyek digitalisasi. Itulah kali pertama kita mengarsipkan koleksi RRI kemudian berkembang," ucap Wawan.

Selain dengan pihak RRI Bandung, Irama Nusantara juga dibantu para kolektor vinyl pribadi. Total rilisan hingga 2016 mencapai sekitar 300-400. Selanjutnya di tahun 2017 Irama Nusantara bersama Bekraf juga akan menggarap digitalisasi di wilayah Yogyakarta dan Jakarta.

Wawan melihat kinerja Irama Nusantara yang bekerja dalam diam hasilnya luar biasa. Maka tak ada rasa enggan bagi Wawan untuk mendukung Irama Nunsantara membukakan jalan bagi mereka untuk bekerjasama dengan RRI.

Selain di wilayah Pulau Jawa, Wawan sedang melakukan komunikasi untuk mengembangkan digitalisasi musik dari arsip kantor RRI di luar Pulau Jawa. Ini menjadi resolusi kerjasama Bekraf dan Irama Nusantara di tahun 2018.

"Sekarang kita akan bicara dengan Pak Soleman Yusuf untuk bisa mengembangkan di luar daerah luar Jawa karena masih banyak stasiun RRI di daerah. Mudah-mudahan bisa kita lakukan di tahun 2018."

Untuk genre musik populer yang diarsipkan jenisnya beragam. Sehingga sangat sulit bagi David untuk menjelaskan. Secara general yang telah dikumpulkan adalah pop keroncong tradisional. "Genre musik lebih spesifik, dalam artian secara general lagu pop keroncong tradisional, negeri ini kaya banget, enggak ada yang spesifik," ucap David.

Melihat musik Indonesia juga dipengaruhi oleh kultur majemuk serta pengaruh dari luar, genre yang terbilang langka pun tak bisa dipilah secara spesifik. Sebagai musik hibrida, musik Indonesia tak selalu mendapat pengaruh dari Indonesia sendiri. David menambahkan, setidaknya ada pengaruh dari genre waltz dan Melayu, Timur Tengah pada musik populer Indonesia di masa lampau.

Musik Indonesia mulai dirilis dalam bentuk rekaman medium piringan hitam sejak sekitar 1906-1907. Bahan yang digunakan pun terbilang ringkih. Sementara di tahun 1959-1960 musik Indonesia direkam dalam medium shellac yang terbuat dari air liur serangga lac kecil atau laccifer lacca sehingga bahannya sangat mudah rapuh.

"Seperti keramik, disentil mudah pecah, amat sangat mudah pecah, dan suaranya juga jauh lebih jelek dari vinyl. Jadi vinyl waktu diciptakan pertama kali itu superior sekali."

Melestarikan Sejarah Musik Indonesia

Selain sebagai perlindungan terhadap musik-musik Indonesia dari pengakuan negara lain, pengarsipan ini juga ditujukan untuk menjaga sejarah musik Indonesia. Sampul dari vinyl maupun kemasan medium lain merupakan informasi yang dapat memperkaya pengetahuan musikus di masa depan.

Pihak Bekraf juga telah melakukan pencegahan pembajakan dengan berkoordinasi dengan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) yang diketuai oleh Rhoma Irama.

Perlindungan ini penting mengingat kasus lagu Rasa Sayange yang sempat diklaim oleh negara lain dan Indonesia tidak bisa mempertahankan status kepemilikannya melalui bukti dokumentasi yang kuat. Sehingga ke depan, jika terjadi hal serupa dapat diperkarakan oleh LMKN.

Pengarsipan ini pun memiliki efek positif terhadap perekonomian Indonesia. Memang dikatakan bukan ranah dari Irama Nusantara untuk mengevaluasi monetizing musik populer Indonesia, namun ada dampak ekonomi yang bisa diberikan kepada pembuat karya. Karena bagaimanapun setiap kali karya sang pencipta diputar dan mendapatkan ruang di hati penikmat musik tentu membutuhkan apresiasi.

Setelah proses pengarsipan dirasa berjalan lancar, kini tengah direncanakan untuk membuat anjungan Musik Nusantara di ruang publik seperti bandara, mall dan stasiun kereta api. Sehingga selain melalui situs iramanusantara.org, ke depan masyarakat lintas generasi masih bisa menikmati musik populer Indonesia.

"Di samping akan mengidentifikasi kita bisa menciptakan sebuah unit anjungan yang bisa diperdengarkan kepada publik. Bisa menikmati musik," papar Wawan.


Koleksi vinyl di kantor RRI Jakarta (Foto: medcom/cecylia)

Bekraf juga bekerjasama dengan pihak Lokananta, perusahaan rekaman musik (label) pertama dan satu-satunya milik negara yang berlokasi di Solo, Jawa Tengah. Lokananta sendiri memiliki dua tugas yakni memproduksi dan menduplikasi piringan hitam serta audio kaset. Bekraf juga akan melirik beberapa koneksi museum-museum di Malang untuk kerjasama ini. Harapannya ke depan kolaborasi antar stakeholder di bidang pengarsipan dapat melakukan dokumentasi musik lebih banyak.

Persoalan Hak Cipta

David Tarigan masih belum bisa memastikan kedudukan Irama Nusantara jika ditanya soal hak cipta. Kelompok ini bekerja sebagai yayasan non komersil termasuk dalam pembuatan website dalam penyebaran informasi untuk mengedukasi publik terkait musik populer Indonesia.

"Jadi kita enggak komersil sama sekali. Enggak ada urusan hak cipta dan sebagainya," ucap David.

Terkait hak cipta di Indonesia dikatakan oleh pria yang dijuluki kamus musik berjalan ini, sangat pelik. Maka Irama Nusantara sebisa mungkin membantu menggedor pintu tentang kebutuhan informasi.

"Indonesia masih belum ada tradisi untuk melakukan hak cipta, dikarenakan sejarah dan ceritanya panjang."

David kemudian memaparkan sejarah panjang tersebut ketika piringan hitam tergeser oleh kaset yang jauh lebih cocok dikonsumsi Indonesia saat itu, karena piringan hitam terbilang cukup mahal.

"Awal tahun 70-an piringan hitam dijual dengan harga mahal. Indonesia enggak ada yang beli. Tiba-tiba ada penjualan satu juta kopi. Sekali lagi kita enggak punya aturan main karena kita sebelumnya keluar dari convention atau kontrak mengkontrak, sehingga yang ada kerjasama lewat kekeluargaan. Apalagi musisi zaman piringan hitam sampai akhi tahun 60-an mereka untuk diajak rekaman sudah senang merupakan privilege. Karena tahu rekaman enggak akan laku, ya senanglah diajak rekaman, mereka cari duit dari perform, begitu ada kaset orang Indonesia senang banget."

"Orang Indonesia beli kaset. Emang kaset adalah format buat orang Indonesia, penjualan satu juta kopi dasarnya enggak kuat jadi kacau. Wah, ini gimana nih berapa lakunya, sharing, akhirnya seperti nightmare, gua enggak peracaya  sama si A, jadi industri Indonesia buruk sekali citranya, sampai akhir 80-an baru ada masalah hak cipta," papar David.



 


(ELG)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG INDONESIA MUSIK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA INDIS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 22-01-2018