DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 20.111.547.901 (22 SEP 2018)

Harapan Iga Massardi di Hari Musik Nasional

Agustinus Shindu Alpito - 09 Maret 2018 12:49 wib
Iga Massardi saat ditemui di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, pada Rabu, 7 Maret 2018 (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
Iga Massardi saat ditemui di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, pada Rabu, 7 Maret 2018 (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)

Jakarta: Hari Musik Nasional dirayakan setiap 9 Maret. Tanggal itu dipilih karena sesuai dengan hari kelahiran Wage Rudolf Supratman, penulis lagu Indonesia Raya. Momen Hari Musik Nasional juga kerap dimanfaatkan untuk melakukan selebrasi dan mengungkapkan harapan ke depan untuk musik Indonesia.

Meski terbilang maju, industri musik di Indonesia masih tetap butuh perhatian dari pemerintah untuk dapat lebih berkembang lagi. Beberapa hari lalu, Medcom.id menemui Iga Massardi, vokalis dan gitaris Barasuara. Dalam wawancara singkat itu, kami meminta pandangan Iga tentang apa yang sekiranya perlu dikembangkan lagi untuk memajukan musik Indonesia.

“Sebenarnya hal yang paling konkret adalah gue pengin di setiap kota punya gedung konser yg representatif saja. Gedung konser yang modern, terjangkau untuk musisi-musisi dan bisa menjadi sebuah ekosistem di situ. Itu yang selama ini kita enggak punya, gedung konser yg bagus, bukan cuma ruangan kosong,” kata Iga.

Iga berpendapat dengan adanya gedung konser yang memadai, para seniman lokal memiliki wadah. Selain itu gedung konser dapat mendorong ekosistem komunitas musik untuk saling memberdayakan diri.

“Gedung konser selalu nebeng sama aula atau bahkan kayak gubuk. Kalaupun ada kita punya gedung konser tetapi biaya sewa tidak terjangkau dan kapasitas terlalu besar. Untuk band baru tidak butuh yang seperti itu, yang kecil saja kapasitasnya. Misal untuk 300 sampai 500 orang. Tidak harus gedung yang sempurna, yang penting ada dan terjangkau.”

Apa yang dikeluhkan Iga memang benar. Selama ini gedung pertunjukan atau gedung umum yang dialihfungsikan sebagai sarana konser hanya dimiliki kota-kota besar. Hal ini membuat kota-kota kecil, terutama di luar Pulau Jawa jarang disambangi grup-grup musik karena masalah teknis di atas. Padahal, jika kota-kota lain mendapat kesempatan yang sama untuk dapat menikmati suguhan musik, besar kemungkinan merangsang lahirnya bakat-bakat baru yang nantinya akan berkontribusi pada industri.

 


(ASA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG MUSIK INDONESIA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MUSIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 25-09-2018